09 Mei 2026
Pertanian

Program MSPP dan BCL, Kementan Perkuat Penyuluh hadapi Dampak Perubahan Iklim

post-img
BB PUSTAKA: Kepala BB Pustaka, Eko Nugroho DP menyoroti pentingnya sinergi lintas sektor termasuk dengan dalam menyediakan informasi cuaca dan iklim yang mendukung aktivitas pertanian. Informasi penting sebagai dasar mitigasi terhadap dampak El Nino maupun perubahan pola musim yang semakin tidak menentu.

JAKARTA (Kepopedia) - Perubahan iklim kini bukan lagi ancaman masa depan, melainkan tantangan nyata yang langsung dirasakan petani di lapangan. Untuk menjawab kondisi tersebut, Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM (BPPSDMP) kolaboras menggelar program Bincang Cerdas Literasi (BCL) dan Mentan Sapa Petani dan Penyuluh (MSPP) bertema ´Jurus Jitu Menghadapi Perubahan Iklim´ pada Jumat (08/5). 

Program yang diprakasai Pusat Penyuluhan Pertanian dan Balai Besar Pustaka dan Literasi Pertanian (BB Pustaka) digelar secara daring sebagai wadah berbagi strategi adaptasi dan solusi pertanian cerdas iklim. Kegiatan ini diikuti ribuan penyuluh pertanian dari berbagai wilayah di Indonesia.

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menyampaikan bahwa Kementan telah mengambil langkah antisipatif untuk menghadapi dampak perubahan iklim, terutama potensi kekeringan pada musim kemarau tahun ini. 

Instruksi strategis tersebut telah disampaikan kepada seluruh gubernur sejak 9 Maret 2026.

Mentan menjelaskan, upaya yang dilakukan mencakup pemetaan daerah rawan kekeringan berbasis sistem peringatan dini (early warning system), optimalisasi tata kelola air melalui rehabilitasi jaringan irigasi, pembangunan embung, hingga pemanfaatan pompanisasi dan sistem perpipaan guna mendukung ketersediaan air bagi lahan pertanian.

Kepala BPPSDMP, Idha Widi Arsanti menegaskan bahwa keberhasilan program Kementan sangat ditentukan oleh pendampingan dan pengawalan di lapangan oleh para penyuluh pertanian.

“Penyuluh memiliki peran penting untuk memastikan proses tanam berlangsung tepat waktu dan sesuai anjuran. Bukan hanya menanam, tetapi juga menjaga agar produksi pertanian tetap optimal,” ungkapnya.

Kabadan juga menyoroti pentingnya langkah antisipatif menghadapi perubahan iklim melalui percepatan masa tanam, pemanfaatan varietas tahan kekeringan, penyesuaian pola tanam, serta penguatan sinergi antara pemerintah daerah dan berbagai pemangku kepentingan terkait.

BB Pustaka

Kepala BB Pustaka sekaligus Plt. Kepala Pusat Penyuluhan Pertanian, Eko Nugroho Dharmo Putro dalam sambutannya menegaskan bahwa penyuluh pertanian memiliki peran strategis sebagai ujung tombak pembangunan pertanian yang bekerja langsung di lapangan.

Menurutnya, tantangan perubahan iklim menuntut penyuluh untuk semakin adaptif dalam mendampingi petani, terutama dalam menentukan waktu tanam, pengelolaan air, hingga peningkatan indeks pertanaman dan luas tambah tanam (LTT).

“Dengan melihat informasi terkait iklim, mitigasi dalam pertanaman dan pertanian dapat dilakukan, terutama bagaimana kita mengatur untuk menaikan indeks pertanaman,” ujarnya.

Eko menyoroti pentingnya sinergi lintas sektor, termasuk dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), dalam menyediakan informasi cuaca dan iklim yang mendukung aktivitas pertanian. 

Informasi tersebut dinilai penting sebagai dasar mitigasi terhadap dampak El Nino maupun perubahan pola musim yang semakin tidak menentu.

Kemarau 2026

Pada sesi utama, narasumber dari BMKG, Kadarsah, memaparkan kondisi perubahan iklim global dan dampaknya terhadap sektor pertanian. 

Dia menjelaskan bahwa peningkatan suhu bumi terus terjadi akibat aktivitas manusia yang menghasilkan gas rumah kaca. 

Bahkan, 2024 tercatat sebagai tahun terpanas secara global, sementara tahun 2025 menjadi tahun terpanas ketiga dunia.

Menurutnya, kondisi tersebut berdampak langsung pada pola curah hujan, kekeringan, hingga meningkatnya potensi bencana hidrometeorologi.

BMKG memprediksi musim kemarau tahun 2026 akan datang lebih awal, berlangsung lebih panjang, dan lebih kering dibanding tahun 2023, meskipun tidak seekstrem tahun 1982, 1997, dan 2015.

“Akan ada daerah yang mengalami musim kering lebih awal. prediksi puncak kemarau ada di bulan Agustus 2026," katanya.

Musim kemarau tidak akan sekering tahun 1982, 1997, dan 2015, tetapi musim kemarau ini akan lebih kering dari tahun 2023.

Informasi Cuaca

Dalam sesi diskusi, sejumlah penyuluh menyampaikan kondisi lapangan di daerah masing-masing seperti ancaman banjir di wilayah Bekasi Utara hingga kekhawatiran petani terhadap penurunan debit air menjelang musim tanam.

Penyuluh juga meminta akses informasi cuaca yang lebih detail sebagai dasar mitigasi dan pengambilan keputusan di lapangan. 

Menanggapi hal tersebut, BMKG mendorong penyuluh untuk aktif memanfaatkan layanan informasi cuaca melalui situs signature.bmkg.go.id maupun berkoordinasi dengan kantor BMKG di daerah.

Sebagai penutup, Penyuluh Pertanian Ahli Madya, Edi Puspito mengajak seluruh penyuluh untuk terus belajar dan berbagi pengetahuan di tengah tantangan pertanian yang semakin dinamis.

Adanya kolaborasi antara MSPP dan BCL ini, diharapkan penyuluh dan petani semakin siap menghadapi perubahan iklim, mampu menyusun langkah mitigasi yang tepat, serta memperkuat ke tahanan pangan nasional melalui pertanian yang adaptif dan berkelanjutan. [ayu/shinta/timhumas bbpustakakementan]

 

 

 

 

Artikel Lainnya

Tentang Kami

Kami Menyajikan informasi terkini dan terbaru seputar ekonomi, politik, hiburan , mancanegara, dan gaya hidup