Banjarbaru, Kalsel (B2B) - Regenerasi petani dan penumbuhan jiwa wirausaha pertanian menjadi fokus dari program Kementerian Pertanian RI (Kementan) di antaranya melalui Program Youth Entrepreneurship and Employment Support Services (YESS) kolaborasi dengan International Fund for Agricultural Development (IFAD).
Menteri Pertanian RI (Mentan) Andi Amran Sulaiman terus berupaya meningkatkan produksi pangan strategis. Hal ini tentunya perlu dukungan dari SDM pertanian yang memiliki potensi besar dari usia produktif.
Ditambahkan Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Kementan (BPPSDMP) Idha Widi Arsanti bahwa Program YESS menjadi salah satu barometer menciptakan petani milenial, yang bisa memberdayakan sumber daya alam dengan kekuatan SDM di dunia bisnis bagi pemuda tani di pedesaan.
Kepala SMK-PP Negeri Banjarbaru, Yudi Astoni mengatakan, SMK-PP Negeri Banjarbaru ditunjuk sebagai Provincial Project Implementation Unit (PPIU) Kalimantan Selatan (Kalsel) pada Program Youth Entrepreneurship and Employment Support Services (YESS) untuk wilayah Kalsel.
Rapat Koordinasi (Rakor) persiapan kegiatan kerja sama provinsi terkait keberlanjutan Program YESS pada Selasa (30/9). Rakor menghadirkan sejumlah instansi lingkup Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalsel) di antaranya Bappeda, Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura, Dinas Perkebunan dan Peternakan, Dinas Koperasi dan UKM dan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi.
Project Manager Program YESS, Angga Tri Aditya Permana dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas keterlibatan lintas sektor yang hadir.
Menurut Angga, forum koordinasi sangat penting untuk memastikan keberlanjutan program pasca berakhirnya masa implementasi.
“Kehadiran bapak dan ibu dari berbagai instansi merupakan bukti nyata komitmen bersama. Forum ini harus kita manfaatkan untuk menyatukan pandangan dan menyusun langkah konkret agar capaian yang sudah diraih Program YESS sejak 2019 tidak berhenti di tengah jalan,” ujarnya.
Program YESS
Dalam sesi diskusi, sejumlah perwakilan instansi memberikan masukan terkait konsolidasi data petani milenial.
Kabid Ekonomi Bappeda Provinsi Kalsel, Theodorik, menekankan pentingnya database terintegrasi untuk mendukung perencanaan pembangunan yang lebih inklusif.
“Data ini bisa menjadi dasar penyusunan program daerah. Namun perlu ada tim khusus yang mengelola serta koordinasi erat dengan Dinas Kominfo agar sinkron dengan sistem data yang sudah ada,” jelasnya.
Sementara itu, Noviannur dari Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura menegaskan pentingnya sinkronisasi database YESS dengan Simluhran agar alumni Program YESS dapat terus terpantau dan mendapat pembinaan.
“Program YESS selama ini berfokus pada individu, namun ke depan harus dikembangkan dalam bentuk kelembagaan seperti kelompok tani dan gapoktan,” katanya.
Senada hal itu, Lidya dari Dinas Perkebunan dan Peternakan menambahkan bahwa keberlanjutan program membutuhkan data sebaran petani milenial yang lebih terstruktur, terutama untuk mendukung pengelolaan komoditas strategis seperti sawit, kopi, dan kelapa.
Angga Tri Aditya menambahkan, selain soal database, rapat juga membahas skema pendampingan usaha pasca ProgramYESS.
"Empat pilar utama keberlanjutan yakni mentoring, penguatan klaster, pembentukan koperasi petani milenial dan integrasi dengan program daerah," katanya.
Rapat yang berlangsung secara luring di ruang pertemuan SMK-PP Negeri Banjarbaru, menghasilkan komitmen bersama seluruh instansi untuk memperkuat sinergi lintas sektor, mengoptimalkan pemanfaatan data, dan menjaga kesinambungan program.
Dengan demikian, petani milenial Kalsel diharapkan tetap mendapat dukungan pembinaan, akses modal, dan jejaring pasar meski Program YESS secara resmi berakhir pada Desember 2025. [Tim Ekpos SMK-PPN Banjarbaru]