TANAH BUMBU - Kementerian Pertanian RI melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) terus mendorong proses regenerasi petani dan mendorong pengembangan usaha pertanian melalui akses permodalan khususnya Kredit Usaha Rakyat (KUR).
Menteri Pertanian RI Andi Amran Sulaiman mengatakan Indonesia memiliki potensi yang sangat besar untuk menjadi negara terkuat di dunia melalui pengelolaan pertanian. Karena itu, dia ingin insan pertanian bekerja keras dan memiliki integritas.
Melalui program Youth Entrepreneurship and Employment Support Services (YESS) yang disupport oleh International Fund for Agricultural Development (IFAD), sebuah lembaga pembiayaan internasional dibidang pertanian, Kementan terus meningkatkan minat generasi muda untuk berwirausaha dibidang pertanian.
Plt Kepala BPPSDMP Kementan, Dedi Nursyamsi mengingatkan pentingnya akses permodalan bagi para pelaku bisnis pertanian.
"Permodalan menjadi faktor penting dalam kegiatan usaha para petani milenial. Penting sebagai upaya mereka dalam mengembangkan skala usaha mereka,untuk itu akses permodalan, khususnya KUR harus terus diupayakan," katanya.
Kementan, kata Dedi Nursyamsi, terus memasifkan informasi mengenai akses KUR bagi petani milenial, yang kali ini di lakukan oleh unit pelaksana teknisnya SMK-PP Negeri Banjarbaru selaku Provincial Project Implementation Unit (PPIU) Program YESS Kalimantan Selatan.
Kembali lagi, SMK-PP Negeri Banjarbaru mengadakan Millenial Agriculture Forum (MAF) edisi Tani Akur dengan tema "Inovasi Sumber Permodalan Alternatif Untuk Petani Muda" secara luring dan daring zoom.
Webinar MAF berlangsung di Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Sungai Loban, Kabupaten Tanah Bumbu, Provinsi Kalsel pada Rabu (7/8).
MAF Tani Akur ini menghadirkan empat narasumber di antaranya Rasidi dari UlaMM Batulicin PNM Cabang Banjarmasin, Zuswan Nirmala dari BPP Sungai Loban, Saipul Fahri selaku Offtaker di Kabupaten Tanah Bumbu, dan Sulasih seorang Local Champion dari Kabupaten Tanah Bumbu.
Mengawali MAF, Kepala SMK-PP Negeri Banjarbaru, Budi Santoso menyampaikan dilaksanakan MAF ini petani muda bisa mencari alternatif terkait pemodalan dalam pengembangan usaha.
“Melalui forum ini petani-petani muda bisa mencari alternatif terkait pemodalan dalam pengembangan usaha," katanya.
Selain itu, ungkap Budi Santoso, rekan-rekan petani harapannya bisa menyimak dengan baik dan nanti bisa menjadi pedoman untuk menjalankan usahanya, jika mengalami kendala kekurangan permodalan.
Mengawali materi, Rasidi selaku Kepala Unit UlaMM Batulicin PNM Cabang Banjarmasin menjelaskan terkait Inovasi sumber permodalan alternatif untuk petani milenial. Di PNM memiliki 3 layanan PNM, diantaranya Modal Finansial, Modal Intelektual, dan Modal Sosial.
PNM Cabang Banjarmasin terdapat pembiayaan berupa PNM Mekar bagi Perempuan Sejahtera dengan peminjaman 10 juta, dan PNM ULaMM yang berupa pembiayaan lanjutan untuk usaha mikro kecil dengan maksimal pembiayaan 200 juta.
Dilanjutkan pemateri kedua, Sulasih petani perempuan dari Sungai Loban, yang mengisahkan pengalaman bergelut dalam dunia pertanian dalam komoditas seledri dan selada secara hidroponik.
Sulasih mulai terjun sejak 2029, dan beralih ke hidroponik 2021, dan serta semakin berkembang setelah menerima HK atau bantuan agribisnis dari Kementan, dan juga mengakses KUR.
Dia mengajak petani muda untuk menambah ilmu, relasi dan pengalaman sebanyak-banyaknya, agar usahanya semakin berkembang.
Pemateri ketiga, Saipul Fahri selaku Offtaker menyampaikan sukses tidaknya usaha di bidang pertanian, tergantung dari awal menentukan target apa yang mau dilakukan.
"Kemudian fokus targetnya, disertai kerja cerdas, kerja ihklas, kerja keras, dan kerja tuntas.
Terakhir, Zuswan Nirmala selaku Koordianator BPP Sungai Loban di dalam Yess ini ada Namanya Gender Equality and Social Inclusion (GESI).
Salah satu petani perempuan yang muncul dalam GESI Sulasih yang mengajak petani-petani muda bisa menerapkan ´Berisik´ atau istilahnya Berani, Edukatif, Representative, Inovatif, Solutif, Informatif, dan Kolaboratif.
Di kesempatan closing statement, Manager Program YESS PPIU Kalsel, Angga Tri Aditia Permana mengajak petani-petani muda untuk mengunjungi Balai Penyuluhan Pertanian walau Yess ini sudah selesai.
Bahkan diharapkan di BPP dapat mengadakan pertemuan dengan offtaker, investor, pengarah, dan petani. Sehingga nantinya dapat membentuk bisnis matching dan bisnis pitching. [Tim Ekpos SMK-PPN Banjarbaru]