17 April 2026
peristiwa

162 Korban Tewas Dampak Gempa 5,2 M di Cianjur

post-img
BENCANA ALAM: Gempa sebesar 5,2 magnitudo memicu tanah longsor dan menyebabkan bangunan runtuh di Cianjur. (Foto: AFP)

CIANJUR - Sebanyak 162 tewas dan ratusan orang luka-luka setelah gempa berkekuatan magnitudo 5,2 yang terjadi di Kota Cianjur, Jawa Barat, pada Senin Siang (21/11).

Pusat gempa tersebut berada di dekat kota Cianjur di Jawa Barat, di mana sebagian besar korban tewas dipicu bangunan runtuh dan tanah longsor.

Tim penyelamat Search and Rescue (SAR) berupaya menyelamatkan korban selamat yang masih berada di bawah puing-puing di daerah yang sulit dijangkau oleh banyaknya rintangan yang dilemparkan ke jalan akibat gempa.

Salah satu dari belasan penyelamat, Dimas Reviansyah, 34 tahun, mengatakan tim menggunakan gergaji mesin dan ekskavator untuk menerobos tumpukan pohon yang ditebang dan puing-puing untuk mencapai daerah di mana warga sipil diyakini terjebak.

"Saya belum tidur sama sekali sejak kemarin, tapi saya harus tetap jalan karena ada korban yang belum ditemukan," ujarnya.

Rekaman drone yang diambil oleh AFP menunjukkan tingkat tanah longsor yang dipicu gempa di mana dinding tanah coklat hanya diselingi oleh pekerja yang menggunakan alat berat untuk membersihkan jalan.

Presiden Joko Widodo mengunjungi daerah itu pada hari Selasa, menawarkan kompensasi bagi para korban dan memerintahkan lembaga bencana dan penyelamatan untuk "memobilisasi personelnya" untuk memprioritaskan evakuasi para korban.

"Atas nama saya sendiri, atas nama pemerintah, saya ingin menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya," katanya.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana Indonesia, atau BNPB, mengatakan sedikitnya 25 orang masih terkubur di bawah reruntuhan di Cianjur saat kegelapan turun Senin.

"Ada kemungkinan masih ada korban lagi," kata Rudy Saladin, seorang kepala militer setempat, kepada AFP.

BNPB menawarkan angka kematian yang lebih rendah dari 103 pada Selasa pagi dan mengatakan 31 orang masih hilang.

Beberapa yang tewas adalah siswa di sebuah pesantren sementara yang lain terbunuh di rumah mereka ketika atap dan dinding ambruk menimpa mereka.

"Kamar runtuh dan kaki saya terkubur di bawah reruntuhan. Semuanya terjadi begitu cepat," kata siswa berusia 14 tahun Aprizal Mulyadi kepada AFP.

Artikel Lainnya

Tentang Kami

Kami Menyajikan informasi terkini dan terbaru seputar ekonomi, politik, hiburan , mancanegara, dan gaya hidup