AKSI unjuk rasa puluhan mahasiswa yang tergabung dalam HMI Sumenep ke Polres setempat, diwarnai kericuhan. Sebab, terjadi aksi saling dorong antara mahasiswa dan aparat kepolisian. Bahkan pasukan Dalmas pun terpaksa turun tangan untuk menghalau mahasiswa.
Unjuk rasa ini semula berlangsung tenang, usai Kapolres Sumenep AKBP Rahman Wijaya menemui pengunjukrasa dan meminta maaf atas insiden meninggalnya Herman Minggu lalu.
“Ibu Widi, silakan keluar menemui kami. Kami ingin bu Widi mengklarifikasi dan mencabut keterangannya yang menyatakan Herman itu begal. Herman bukan begal, bu. Herman itu orang baik-baik. Dia hanya depresi karena persoalan rumah tangganya,” kata Korlap aksi, Asmuni, Rabu (23/3).
Para pengunjukrasa pun geram ketika Kasi Humas tak kunjung keluar menemui mereka. Massa kemudian memaksa masuk Polres untuk mencari Kasi Humas. Namun, keinginan pengunjukrasa masuk ke Polres dihadang anggota sehingga terjadi aksi saling dorong pun tak terhindarkan. Situasi mereda ketika AKP Widiarti keluar menemui mahasiswa.
Di hadapan mahasiswa, Widiarti menyampaikan permohonan maaf sebesar-besarnya kepada keluarga korban, apabila ada kata-katanya yang tidak berkenan.
“Dengan segala kerendahan hati, kami mohon maaf yang sebesar-besarnya. Keterangan yang saya sampaikan berdasarkan data dari keluarga Herman yang bernama H. Jalil. Saya menyampaikan pernyataan itu dalam kapasitas sebagai Humas. Sekali lagi, kalau saya salah, saya mohon maaf sebesar-besarnya,” ujar Widiarti.
Pernyataan tersebut tampaknya tidak membuat para pengunjuk rasa puas. Mereka ingin AKP Widiarti mencabut keterangannya bahwa Herman adalah seorang begal.
“Bu Widi, silahkan katakan: Herman bukan begal. Herman tidak mencuri uang kotak amal masjid. Herman tidak minum-minuman keras. Ini saja yang kami inginkan. Katakan seperti ini bu. Jangan bertele-tele,” teriak pengunjuk rasa.
Bahkan salah satu adik Herman, sambil menangis, adik Herman mengatakan bahwa Herman bukanlah seorang begal, di hadapan Widiarti,
Widiarti pun kembali berbicara dan kembali meminta maaf sebesar-besarnya kepada keluarga korban.
“Dengan segala kerendahan hati, sekali lagi, kami mohon maaf sebesar-besarnya,” kata Widiarti.