BOGOR (Kepopedia) - Deteksi dini dan penanganan penyakit hewan yang tepat menjadi kunci menjaga kesehatan ternak, melindungi usaha peternakan, dan mendukung ketahanan pangan nasional, Kementerian Pertanian RI (Kementan) menggelar ´Pelatihan Program Epidemiologi Lapangan Veteriner Indonesia (Pelvi) bagi Dokter Hewan Frontline Tahun 2026´.
Kepala BBPKH Cinagara, Inneke Kusumawaty mengatakan, kegiatan pelatihan digelar oleh Balai Besar Pelatihan Kesehatan Hewan (BBPKH) Cinagara bekerja sama dengan Direktorat Kesehatan Hewan, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) untuk penguatan kompetensi epidemiologi lapangan, sebagai langkah penting membangun sistem kesehatan hewan yang tangguh.
Pelatihan Pelvi 2026 dibuka secara daring oleh Dirjen PKH, Hendra Wibawa, Senin (19/10) yang diikuti 30 dokter hewan dari Provinsi Banten, Jawa Barat, dan Jawa Tengah, yang dijadwalkan berlangsung hingga 27 November 2026.
Penguatan kompetensi dokter hewan sejalan dengan upaya Menteri Pertanian RI (Mentan) Andi Amran Sulaiman meningkatkan produktivitas peternakan dan menjaga ketersediaan pangan asal hewan yang aman dan berkualitas.
"Ketersediaan SDM profesional menjadi salah satu faktor penting agar sektor peternakan mampu menghadapi ancaman penyakit, sekaligus memenuhi kebutuhan pangan masyarakat," katanya.
Mentan Amran menegaskan, ketahanan pangan tidak hanya berkaitan dengan peningkatan produksi, juga jaminan keamanan dan kualitas pangan yang dihasilkan. Penguatan kapasitas SDM menjadi bagian penting mendukung sistem pangan nasional yang berkelanjutan.
“Ketahanan pangan tidak hanya ditentukan oleh produksi, juga kualitas dan jaminan keamanan produk pangan yang dihasilkan. SDM pertanian dan peternakan harus profesional, kompeten dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat terhadap pangan aman, sehat, utuh dan halal,” katanya.
Senada hal itu, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Kementan (BPPSDMP) Idha Widi Arsanti menekankan pentingnya pelatihan dan sertifikasi untuk memastikan tenaga profesional memiliki kompetensi sesuai kebutuhan di lapangan.
“Penguatan SDM menjadi fondasi utama pembangunan pertanian melalui sertifikasi, pelatihan, dan resertifikasi kompetensi, kita memastikan tenaga profesional di lapangan memiliki kemampuan terukur, adaptif dan mampu memberikan edukasi serta pelayanan terbaik pada masyarakat,” katanya.
BBPKH Cinagara
Kepala BBPKH Cinagara, Inneke Kusumawaty, mengatakan penguatan kompetensi epidemiologi lapangan merupakan langkah penting membangun sistem kesehatan hewan yang tangguh.
Penanganan penyakit, tidak cukup hanya dilakukan setelah kasus ditemukan, juga harus didukung kemampuan petugas mengenali gejala awal, investigasi, analisis kejadian, dan menentukan tindakan pengendalian berdasarkan bukti ilmiah," katanya.
“Deteksi dini, investigasi akurat, analisis berbasis bukti dan respons cepat merupakan langkah strategis meminimalkan kerugian akibat penyakit hewan, menjaga ketersediaan produk peternakan dan mendukung penyediaan pangan asal hewan yang aman dan berkualitas,” katanya.
Inneke Kusumawaty menambahkan, dokter hewan frontline, khususnya yang bertugas di Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan) dan perangkat daerah yang menangani urusan peternakan dan kesehatan hewan, memiliki peran strategis sebagai garda terdepan mendeteksi dan merespons kejadian penyakit.
"Informasi yang dihimpun petugas di lapangan menjadi dasar penting dalam menentukan arah penyelidikan dan ketepatan tindakan pengendalian," katanya.
Dokter Hewan
Pelatihan Pelvi 2026 dibuka daring oleh Direktur Kesehatan Hewan, Hendra Wibawa yang menyoroti keterbatasan tenaga kesehatan hewan yang memiliki kompetensi epidemiologi lapangan. Keahlian tersebut dibutuhkan untuk memperkuat identifikasi, penyelidikan dan penanggulangan penyakit hewan secara cepat, tepat dan terukur.
“Kita membutuhkan lebih banyak tenaga kesehatan hewan yang kompeten dalam epidemiologi lapangan, terutama yang mampu mengidentifikasi kejadian penyakit dan melakukan penanggulangan dengan pendekatan ilmiah," katanya.
Dengan begitu, ungkap Hendra Wibawa, tindakan yang diambil dapat sesuai dengan prosedur, tepat sasaran, dan dilakukan tanpa keterlambatan.
Dia menambahkan, informasi awal dari petugas frontline sangat menentukan respons terhadap dugaan penyakit hewan. Petugas perlu memiliki kemampuan mengumpulkan dan menganalisis data secara akurat, mengenali indikasi penyakit dan menyusun laporan sebagai dasar penyelidikan dan pengambilan keputusan.
Ia menjelaskan, dokter hewan frontline, khususnya yang bertugas di Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan) dan perangkat daerah yang menangani urusan peternakan dan kesehatan hewan, memiliki peran strategis sebagai garda terdepan dalam mendeteksi dan merespons kejadian penyakit.
Informasi yang dihimpun petugas di lapangan menjadi dasar penting dalam menentukan arah penyelidikan dan ketepatan tindakan pengendalian.
Blended Learning
Kepala BBPKH Cinagara, Inneke Kusumawaty mengatakan pada pelatihan Pelvi 2026, peserta memperdalam keterampilan investigasi dan penyelidikan epidemiologi, analisis serta pelaporan kejadian penyakit, hingga penyusunan rekomendasi pengendalian.
"Pembelajaran menerapkan metode blended learning yang mencakup pembelajaran daring, belajar mandiri, pelatihan klasikal, penugasan lapangan dengan pendampingan mentor, serta seminar hasil," katanya.
Melalui pendekatan tersebut, peserta tidak hanya dibekali pemahaman teoretis, juga diarahkan untuk menerapkan kompetensi epidemiologi pelaksanaan tugas sehari-hari.
"Dengan demikian, dokter hewan frontline diharapkan semakin terampil mengenali ancaman penyakit, menghasilkan laporan berkualitas, dan mendukung pengambilan keputusan berbasis bukti," ungkap Inneke Kusumawaty.
Menurutnya, kolaborasi BBPKH Cinagara dan Ditjen PKH diharapkan memperkuat kesiapsiagaan nasional menghadapi ancaman penyakit hewan.
"Dengan tenaga kesehatan hewan yang kompeten, maka deteksi dini dan respons terhadap kejadian penyakit diharapkan berjalan lebih efektif, sehingga kesehatan ternak terjaga, risiko kerugian peternak dapat ditekan, dan ketahanan pangan nasional semakin kuat. [yudi/timhumas bbpkhcinagara]