KOTA BOGOR (Kepopedia) - Menjelang 185 tahun pengabdiannya, Balai Besar Perpustakaan dan Literasi Pertanian (BB Pustaka) lingkup Kementerian Pertanian RI (Kementan) terus memperkuat jejaring dan kolaborasi perpustakaan melalui Sharing Session ´Membangun Kolaborasi, Menguatkan Organisasi´ di Gedung P3D, Kota Bogor, Provinsi Jawa Barat pada Rabu (13/5).
Pelaksana Harian (Plh) Kepala BB Pustaka, Vivit Wardah Rufaidah menekankan pentingnya jejaring dan kolaborasi dalam pengembangan perpustakaan.
Menteri Pertanian RI (Mentan) Andi Amran Sulaiman terus mendorong penguatan literasi serta pengembangan inovasi di bidang pertanian.
"Sebagai langkah strategis untuk mempercepat terwujudnya swasembada pangan, modernisasi pertanian, dan mencetak generasi petani milenial yang unggul," katanya.
Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti menekankan pentingnya memperkuat sinergi dan kolaborasi antarunit kerja lingkup Kementan mendukung pembangunan sektor pertanian yang maju, adaptif dan berkelanjutan.
BB Pustaka
Plh Kepala BB Pustaka, Vivit Wardah Rufaidah mengingatkan bahwa pekerjaan di bidang perpustakaan sangat membutuhkan jejaring dan kolaborasi yang baik agar kinerja organisasi dapat meningkat.
Pada 2027, katanya, BB Pustaka akan genap berusia 185 tahun. Momentum tersebut diharapkan dapat menjadi penguat kerja sama dan sinergi antarinstansi perpustakaan.
“Semoga di usia ke-185 tahun nanti, semakin banyak kegiatan yang melibatkan kolaborasi dan jejaring antarinstansi,” kata Vivit Wardah Rufaidah.
Kegiatan tersebut menghadirkan Ketua Forum Perpustakaan Khusus Indonesia (FPKI) Farli Elnumeri sebagai narasumber dan dipandu oleh Ketua Tim Kerja Perpustakaan, Sutarsyah selaku moderator.
"Tantangan perpustakaan saat ini tidak hanya berkaitan dengan layanan informasi, tetapi juga penguatan organisasi dan posisi strategis pustakawan di lingkungan kerja," katanya.
Pengembangan jejaring perpustakaan selama ini seringkali terlalu fokus pada aplikasi tanpa membangun sistem dan standar bersama terlebih dahulu.
“Banyak perpustakaan langsung fokus pada aplikasi, tetapi belum membicarakan sistem dan standarnya. Akibatnya aplikasi satu dengan lainnya tidak sinkron dan kolaborasi menjadi kurang optimal,” ungkap Farli Elnumeri.
Jabatan Strategis
Farli Elnumeri menyoroti pentingnya keberanian pustakawan untuk terlibat dalam posisi strategis di organisasi agar perpustakaan lebih diperhitungkan dalam pengambilan kebijakan.
“Pustakawan harus lebih percaya diri untuk masuk ke jabatan-jabatan strategis sehingga perpustakaan tidak hanya menjadi pelengkap, tetapi ikut menentukan arah organisasi,” ujarnya.
Selain itu, Farli Elnumeri menekankan pentingnya memahami organisasi induk dan melakukan evaluasi berkala terhadap program yang dijalankan.
“Kita harus fokus pada strategi utama, memahami kebutuhan organisasi induk, dan memastikan program yang dibuat benar-benar mendukung tujuan lembaga,” ujarnya.
Budaya Kolaboratif
Peserta dari Polbangtan Bogor menanyakan bagaimana menjaga kolaborasi agar tidak berhenti pada tahap seremonial.
Menanggapi hal tersebut, Farli Elnumeri selaku narasumber menegaskan pentingnya komunikasi dan evaluasi yang berkelanjutan.
“Kolaborasi harus memiliki target yang jelas, pembagian tugas, dan evaluasi berkala agar tidak berhenti di seremoni saja,” ungkapnya lagi.
Kegiatan berlangsung interaktif dengan berbagai pertanyaan dari peserta yang dilakukan secara hybrid. Ratusan peserta sangat antusias mengikuti kegiatan tersebut.
Selanjutnya pada sesi diskusi membahas strategi membangun budaya kolaboratif di internal organisasi, penguatan jejaring regional perpustakaan khusus, hingga sinkronisasi sistem aplikasi antarperpustakaan.
Melalui kegiatan rangkaian ulang tahun tersebut, BB Pustaka berharap dapat memperkuat jejaring profesional, meningkatkan kapasitas SDM perpustakaan dan mendorong kolaborasi lebih luas dan berkelanjutan antar instansi. [tari/shinta/timhumas bbpustaka]