09 Agustus 2026
Pertanian

Mentan Amran Batalkan Rapim di Jakarta demi Entaskan Kemiskinan Alor NTT

post-img
BBPP BATANGKALUKU: Mentan Amran Sulaiman bersama Adriano Padama, mahasiswa Undip Semarang asal Alor dialog dengan warga Alor, NTT di sela kunjungan dadakan untuk memastikan harga beras terjangkau dan pengembangan potensi pertanian berjalan maksimal.

ALOR (Kepopedia) - Menteri Pertanian RI (Mentan) Andi Amran Sulaiman membatalkan agenda Rapat Pimpinan (Rapim) di Jakarta dan memilih terbang ke Kabupaten Alor di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) Sabtu (8/8). Keputusan ke Alor setelah mendengar aspirasi Adriano Padama, mahasiswa asal Alor pada Kuliah Umum di Universitas Diponegoro Semarang (Undip) di Provinsi Jawa Tengah, Kamis (6/8).

Dalam kesempatan tersebut, Adriano Padama menyampaikan kondisi masyarakat Alor. Mulai dari persoalan harga dan distribusi beras hingga dukungan pemerintah untuk mengembangkan sektor pertanian. 

Aspirasi tersebut kemudian mendorong Mentan Amran untuk tidak berhenti pada respons dari Jakarta, tetapi turun langsung melihat kondisi masyarakat dan potensi pertanian Alor.

Mentan Amran mengatakan, dirinya sengaja membatalkan agenda Rapim, karena ingin memastikan persoalan yang disampaikan Adriano dapat segera ditindaklanjuti di lapangan.

“Kami in shaa Allah langsung turun. Kami batalkan acara Rapim di Jakarta dan langsung terbang ke Alor. Kami sudah lihat. Semua permintaan kami penuhi di bawah naungan Kementerian Pertanian,” kata Mentan Amran.

Suara Mahasiswa

Mentan Amran mengatakan, aspirasi Adriano menunjukkan bahwa suara mahasiswa dapat menjadi pengingat penting bagi pemerintah mengenai persoalan nyata yang dihadapi masyarakat di daerah.

“Dia membawa aspirasi rakyat, bukan kepentingan pribadi. Saya bangga dengan Adriano, ini putra terbaik NTT," katanya.

"Aspirasi seperti ini harus kita kawal karena mereka membaca denyut nadi masyarakat, mengetahui apa yang benar-benar dibutuhkan rakyat."

Setibanya di Alor, Mentan Amran langsung meninjau sejumlah lokasi dan dialog dengan pemerintah daerah serta masyarakat. 

Dari peninjauan tersebut, dia menegaskan bahwa pengentasan kemiskinan menjadi salah satu sasaran utama intervensi Kementan di Alor, NTT.

Ekonomi Masyarakat

Mentan Amran melihat sektor pertanian memiliki potensi besar menjadi motor penggerak ekonomi masyarakat Alor. Pemerintah pusat menyiapkan strategi yang berjalan secara bersamaan, mulai dari pemenuhan kebutuhan pangan jangka pendek hingga pengembangan komoditas perkebunan yang dapat menjadi sumber pendapatan masyarakat dalam jangka panjang.

“Di sini kemiskinan masih tinggi. Solusi tercepatnya adalah pertanian. Karena itu, kita kerjakan yang jangka pendek dan jangka panjang sekaligus," katanya lagi.

"Beras kita amankan. Benih kita berikan. Alsintan dan pompa kita siapkan. Setelah itu kita bangun tanaman jangka panjang seperti kelapa, kakao dan mete."

Untuk kebutuhan pangan, Mentan Amran memastikan ketersediaan beras di Alor harus aman dan masyarakat memperoleh dengan harga terjangkau. 

Dia juga meminta Bulog memastikan stok tetap tersedia serta melakukan operasi pasar apabila dibutuhkan.

“Beras sudah aman, sudah ada di gudang. Harganya harus sama dengan Jakarta, sekitar Rp13 ribu. Jangan sampai ada lagi masyarakat yang membeli beras dengan harga Rp25 ribu atau Rp30 ribu. Kalau dibutuhkan, Bulog lakukan operasi pasar,” tegasnya.

Alsintan dan Pompa

Selain beras, Kementan menyiapkan dukungan untuk percepatan produksi pangan melalui benih padi dan jagung, Alsintan serta pompa untuk mendukung lahan yang memiliki sumber air. 

Dalam kunjungannya, Mentan Amran bahkan menambah sejumlah dukungan Alsintan dan pompa berdasarkan kebutuhan yang disampaikan pemerintah daerah dan masyarakat.

Untuk jangka panjang, Mentan Amran mendorong pengembangan komoditas yang dinilai sesuai dengan kondisi agroklimat Alor terutama kelapa, kakao dan jambu mete. 

Pengembangan komoditas tersebut diharapkan menjadi sumber pendapatan berkelanjutan bagi masyarakat karena dapat dipanen dalam jangka panjang.

“Kita targetkan tanaman minimal 10 ribu hektar di Alor. Kalau satu hektar dikelola satu keluarga, berarti ada 10 ribu keluarga yang mendapat sumber penghasilan," ungkap Mentan.

"Kalau satu keluarga empat orang, sekitar 40 ribu orang bisa merasakan manfaatnya. Kita harus kerja sungguh-sungguh agar kemiskinan di Alor bisa ditekan."

Program Prioritas

Mentan Amran menegaskan, intervensi tersebut merupakan bagian dari program prioritas pemerintah yang memberikan perhatian khusus kepada masyarakat yang membutuhkan. 

Dukungan berupa bibit dan biaya tanam diberikan pemerintah sehingga masyarakat tidak dibebani biaya awal.

“Bibitnya dari pemerintah, biaya tanamnya juga dari pemerintah. Gratis untuk rakyat. PPL harus mengawal sampai tumbuh dan berhasil. Ini kesempatan untuk membangun Alor dan mengubah kesejahteraan masyarakat,” katanya.

Potensi Kakao

Dalam peninjauan tanaman kakao, Mentan Amran juga mengapresiasi pertumbuhan bibit yang telah dikembangkan di Alor. 

Menurutnya, tanaman perkebunan seperti kakao, kelapa, dan mete merupakan investasi jangka panjang yang dapat menopang kesejahteraan masyarakat selama puluhan tahun.

“Ini masa depan Alor. Kakao, mete, dan kelapa bisa menjadi sumber kesejahteraan masyarakat dalam jangka panjang. Yang penting sekarang kita tanam dengan bibit unggul dan kita kawal sampai berhasil,” ujar Mentan Amran.

Mentan Amran menegaskan, kunjungan langsung ke Alor menjadi bagian dari upaya memastikan program pemerintah tidak berhenti pada perencanaan dan penyaluran bantuan, tetapi benar-benar memberikan dampak bagi masyarakat.

“Kita tidak boleh hanya berbicara dari Jakarta. Saya datang ke sini untuk melihat langsung, mendengar langsung, dan langsung memutuskan apa yang harus dikerjakan. 

Ada program jangka pendek, ada jangka panjang. Dua-duanya kita jalankan,” pungkas Mentan Amran. [ilham/timhumas bbppbatangkaluku]

 

 

 

 

 

Artikel Lainnya

Tentang Kami

Kami Menyajikan informasi terkini dan terbaru seputar ekonomi, politik, hiburan , mancanegara, dan gaya hidup