27 September 2026
Pertanian

Budidaya hingga Hilirisasi, UPT Kementan Perkuat Kapasitas Petani Kakao Gowa Sulsel

post-img
BBPP BATANGKALUKU: Kepala BBPP Batangkaluku, Jamaluddin Al Afgani [insert kiri atas] mengingatkan peserta pelatihan, bahwa petani perlu memahami aspek agribisnis agar mampu mengembangkan usaha tani akan lebih produktif, efisien dan berkelanjutan. Guna menghadapi perkembangan teknologi, tuntutan peningkatan daya saing produk kakao dan penguatan kapasitas petani secara berkelanjutan.

GOWA (Kepopedia) - Kementerian Pertanian RI (Kementan) menggelar ´Pelatihan Agribisnis Kakao Bagi Non Aparatur´ bagi 35 petani dari Gapoktan Mangempang, Desa Mangempang, Kecamatan Bungaya, Kabupaten Gowa, Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) selama tiga hari, 22 - 24 September 2026 oleh Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Batangkaluku.

Kepala BBPP Batangkaluku, Jamaluddin Al Afgani mengatakan 35 peserta pelatihan, merupakan petani yang memiliki peran dalam pendampingan kelompok tani, penguatan kelembagaan tani dan pengembangan usaha agribisnis kakao dalam upaya meningkatkan kapasitas petani melalui pembelajaran teknis dan aplikatif mendukung pengembangan agribisnis kakao.

Pelatihan oleh BBPP Batangkaluku sejalan dengan arahan Menteri Pertanian RI (Mentan) Andi Amran Sulaiman bahwa peningkatan produktivitas dan hilirisasi menjadi bagian penting pengembangan komoditas perkebunan khususnya kakao. 

“Pekebun adalah kunci. Hampir seluruh kebun kakao kita dikelola rakyat. Peningkatan produktivitas melalui peremajaan, penggunaan benih unggul dan pendampingan intensif harus menjadi prioritas. Kita tidak boleh hanya mengekspor bahan mentah, juga harus memperkuat hilirisasi agar nilai tambah dinikmati di dalam negeri,” katanya.

Senada hal itu, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Kementan (BPPSDMP) Idha Widi Arsanti menekankan bahwa peningkatan kompetensi SDM pertanian, merupakan bagian penting mendukung produktivitas dan modernisasi pertanian. 

“Kompetensi SDM harus terus ditingkatkan. Kunci untuk mencapai swasembada pangan berkelanjutan, produktivitas tinggi, dan modernisasi pertanian,” katanya.

BBPP Batangkaluku
Kepala BBPP Batangkaluku, Jamaluddin Al Afgani mengatakan Kementan terus mendorong pengembangan komoditas perkebunan sebagai bagian dari upaya meningkatkan produktivitas, nilai tambah, dan kesejahteraan petani.

"Komoditas perkebunan memiliki potensi ekonomi penting, salah satunya adalah kakao, tidak hanya berperan mendukung pengembangan agribisnis, juga menjadi sumber pendapatan bagi masyarakat," katanya.

Menurut Jamaluddin Al Afgani, pengembangan kakao perlu dilakukan terpadu, mulai dari budidaya, pengelolaan produksi, penanganan pascapanen, pengolahan, hingga pemasaran agar kualitas dan nilai tambah produk terus ditingkatkan.

"Petani juga memiliki peran strategis sebagai komunikator dan penular pengetahuan di tengah kelompok tani maupun gabungan kelompok tani atau Gapoktan," ungkapnya lagi.

Kelembagaan Petani
Jamaluddin Al Afgani mengatakan, pengetahuan dan keterampilan dari pelatihan menjadi bahan diskusi, diterapkan dan dibagikan pada sesama petani. 

"Dengan demikian, pelatihan memberi manfaat bagi peserta secara individu, untuk memperkuat kelembagaan petani, meningkatkan kerja sama dan mendorong penerapan inovasi pengembangan agribisnis kakao.

Peningkatan produktivitas dan kualitas kakao tidak terlepas dari kualitas SDM pertanian. Petani perlu memiliki pengetahuan dan keterampilan memadai melalui sekolah lapang maupun pelatihan teknis. 

Kemampuan pengolahan lahan, pemilihan dan penggunaan benih unggul, teknik budidaya, pemeliharaan tanaman, pengendalian hama dan penyakit hingga penanganan hasil panen dan pascapanen. 

Potensi Agribisnis
Jamaluddin Al Afgani mengingatkan pada peserta pelatihan, bahwa petani perlu memahami aspek agribisnis agar mampu mengembangkan usaha tani akan lebih produktif, efisien dan berkelanjutan.

Hal itu penting, katanya, untuk menghadapi perkembangan teknologi dan tuntutan peningkatan daya saing produk kakao, penguatan kapasitas petani perlu dilakukan berkelanjutan dan sesuai kebutuhan lapangan. 

"Pemahaman teknik budidaya yang baik, pengelolaan usaha tani, kelembagaan, pengolahan hasil dan pemasaran menjadi bagian penting membangun usaha agribisnis kakao yang produktif, efisien, berdaya saing dan berkelanjutan," katanya. 

Peserta pelatihan, kata Jamaluddin Al Afgani, diharapkan mampu meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan sikap dalam mengelola agribisnis kakao serta mampu menerapkan dan menularkan pengetahuan yang diperoleh kepada anggota kelompok tani lainnya. [ilham/timhumas bbppbatangkaluku]

 

 

 

 

Artikel Lainnya

Tentang Kami

Kami Menyajikan informasi terkini dan terbaru seputar ekonomi, politik, hiburan , mancanegara, dan gaya hidup