30 Juli 2026
Pertanian

Pertanian Modern, Kementan Siapkan Penyuluh Sulawesi jadi Penggerak PM-AAS

post-img
BBPP BATANGKALUKU: Kepala BBPP Batangkaluku, Jamaluddin Al Afgani mengingatkan, penerapan PM-AAS membutuhkan pendampingan lebih intensif ketimbang pola budidaya konvensional. Pasalnya, terdapat sejumlah perubahan teknik dan tahapan budidaya yang harus dipahami dan dikawal konsisten agar target produktivitas tercapai.

MAKASSAR (Kepopedia) - Upaya mempercepat transformasi pertanian modern terus dilakukan Kementerian Pertanian RI (Kementan) melalui penerapan Pertanian Modern Advanced Agriculture System (PM-AAS) pada Training of Trainer (ToT) PM-AAS bagi penyuluh dari sejumlah kabupaten di Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) secara daring (online) selama tiga hari, 28 - 30 Juli 2026 oleh Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Batangkaluku.

Kepala BBPP Batangkaluku, Jamaluddin Al Afgani mengatakan, PM-AAS merupakan sistem budidaya berbasis intensifikasi dan teknologi, yang dinilai mampu mendorong peningkatan produktivitas sekaligus memperkuat swasembada pangan nasional secara berkelanjutan.

Kegiatan ToT sejalan arahan Menteri Pertanian RI (Mentan) Andi Amran Sulaiman bahwa penerapan PM-AAS berpotensi meningkatkan produktivitas padi secara signifikan. 

"Model diyakini mampu mendorong produktivitas dari rata-rata 5–6 ton menjadi minimal 10 ton, bahkan mencapai 12,4 ton per hektar," katanya.

Peningkatan produktivitas tersebut menjadi salah satu alasan pemerintah terus memperkuat penerapan pertanian modern di berbagai daerah.

"Dengan dukungan teknologi, budidaya presisi, dan pendampingan tepat, PM-AAS diharapkan dapat menjadi bagian penting dalam memperkokoh swasembada pangan nasional," katanya.

Sejalan dengan hal tersebut, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Idha Widi Arsanti menegaskan bahwa transformasi menuju pertanian modern merupakan sebuah keharusan.

“Kita juga harus mengubah mindset, mengubah pertanian kita yang tadinya konvensional menjadi pertanian modern. Ini adalah suatu keharusan, ini adalah suatu keniscayaan,” tegas Idha.

BBPP Batangkaluku

Kepala BBPP Batangkaluku, Jamaluddin Al Afgani mengatakan ToT penyuluhan bertujuan memperkuat implementasi PM-AAS di tingkat lapangan. 

ToT diikuti oleh Ketua Kelompok Substansi, Ketua Tim Kerja Penyuluhan dan Kepala Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) dari sejumlah wilayah di Sulawesi.

"PM-AAS menjadi salah satu strategi pemerintah meningkatkan produktivitas pertanian melalui intensifikasi berorientasi pencapaian swasembada pangan berkelanjutan," katanya saat membuka kegiatan ToT dipusatkan di BBPP Batangkaluku.

PM-AAS, kata Jamaluddin Al Afgani, merupakan salah satu upaya pemerintah melalui intensifikasi untuk meningkatkan produksi pangan menuju swasembada berkelanjutan. 

Pola ini telah diterapkan di beberapa lokasi dan setelah dimasifkan menunjukkan hasil cukup signifikan. Kita dituntut untuk memahami lebih mendalam bagaimana menerapkan PM-AAS di wilayah binaan masing-masing,” katanya.

Implementasi Nyata

Dalam ToT tersebut, peserta mendapat pembekalan dari sejumlah narasumber dari BRMP dan kalangan penyuluh. Materi ToT mencakup Teknologi Budidaya Pertanian Modern, Pemeliharaan Tanaman Berkelanjutan, Penerapan Pertanian Presisi melalui Digital Farming dan Praktik Terpadu Pertanian Modern.

Kepala BBPP Batangkaluku, Jamaluddin Al Afgani berharap kegiatan tersebut tidak berhenti pada peningkatan pemahaman peserta, dapat diteruskan melalui implementasi nyata di lapangan. 

"Peserta diharapkan mampu menjadi agen perubahan yang dapat mengawal penerapan PM-AAS sekaligus memperkuat pendampingan bagi petani dan penyuluh wilayah masing-masing," katanya.

Jamaluddin Al Afgani mengharapkan peserta ToT mampu mengaplikasikan seluruh konsep dan teknologi PM-AAS secara optimal, sehingga manfaatnya benar-benar dirasakan oleh petani dan mampu meningkatkan produktivitas pertanian.

Pendampingan Intensif

Penerapan PM-AAS membutuhkan pendampingan lebih intensif ketimbang pola budidaya konvensional. Pasalnya, terdapat sejumlah perubahan teknik dan tahapan budidaya yang harus dipahami serta dikawal secara konsisten agar target produktivitas dapat tercapai.

“PM-AAS harus benar-benar menjadi fokus kita bersama. Ada perhatian-perhatian khusus yang perlu dilakukan karena pola ini berbeda dengan yang biasa kita terapkan sebelumnya," kata Jamaluddin Al Afgani.

PM-AAS ditargetkan menghasilkan produktivitas yang lebih tinggi, sehingga setiap tahapan budidaya membutuhkan pengawalan yang lebih serius.

"Melalui penguatan kapasitas penyuluh dan pengelola BPP, implementasi PM-AAS diharapkan semakin masif di berbagai wilayah Sulawesi," ungkap Jamaluddin Al Afgani.

Dia mengingatkan, penyuluh tidak hanya berperan sebagai pendamping, juga menjadi ujung tombak dalam memastikan teknologi dan inovasi pertanian modern benar-benar diterapkan petani untuk meningkatkan produktivitas dan mendukung swasembada pangan nasional. [ilham/timhumas bbppbatangkaluku]

 

 

 

 

 

 

Artikel Lainnya

Tentang Kami

Kami Menyajikan informasi terkini dan terbaru seputar ekonomi, politik, hiburan , mancanegara, dan gaya hidup