12 Juli 2026
Pertanian

Inovatif!!! Kementan Apresiasi Petani Subang Kembangkan BWD Digital basis AI

post-img
BBPP LEMBANG: Inovator BWD Digital berbasis AI, Edi Nurhadi [duduk, ke-2 kanan] bersama Kabag Umum, Yullyndra Tisna Diputri; Ketua Kelompok Program dan Evaluasi, Aris Hanafiah; Katimker Program dan Kerjasama, Yanissa Nuraeni Kuswandi; Katimker Sertifikasi Profesi, Fiadini Putri; dan Katimker Evalap, Achmad Handyoko usai pembukaan webinar BOC Volume 358 oleh Pt. Kepala BBPP Lembang, Adi Destriadi Sutisna.

BANDUNG BARAT (Kepopedia) - Kementerian Pertanian RI (Kementan) terus mendorong transformasi pertanian modern melalui pemanfaatan teknologi digital. Salah satu inovasi yang mendapat perhatian adalah Bagan Warna Daun (BWD) Digital berbasis Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI).

Inovasi tersebut karya petani sekaligus pengelola P4S Oryza Sativa Sukamandi (OSS), Edi Nurhadi di Kabupaten Subang, Jawa Barat.

Inovasi tersebut diperkenalkan kepada petani, penyuluh, akademisi, dan insan pertanian dari berbagai daerah melalui webinar Bertani On Cloud (BOC) Volume 358 yang diselenggarakan oleh Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Lembang via online (daring) pada Kamis (9/7).

Menteri Pertanian RI (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa modernisasi pertanian melalui penerapan teknologi menjadi salah satu strategi utama dalam meningkatkan produktivitas sekaligus menekan biaya produksi.

"Kalau kita menggunakan pertanian modern, biaya produksi bisa ditekan dan produktivitas meningkat. Teknologi harus menjadi bagian dari keseharian petani agar pertanian Indonesia semakin maju, efisien, dan berdaya saing," ujar Mentan.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, menambahkan bahwa inovasi yang lahir dari petani merupakan modal penting dalam mempercepat transformasi sektor pertanian.

"Pertanian masa depan membutuhkan SDM yang inovatif dan adaptif terhadap perkembangan teknologi. Inovasi seperti BWD Digital menjadi contoh nyata bagaimana teknologi mempermudah pengambilan keputusan di lapangan serta meningkatkan efisiensi usaha tani," katanya.

BBPP Lembang

Plt. Kepala BBPP Lembang, Adi Destriadi Sutisna apresiasi BWD Digital yang dikembangkan oleh Edi Nurhadi. Berawal dari keprihatinannya terhadap kesulitan penyuluh dan petani membaca warna daun padi menggunakan BWD konvensional. 

Awalnya, inovasi tersebut berupa alat digital yang mampu menghitung kebutuhan pupuk berdasarkan warna daun dan luas lahan.

Seiring perkembangan teknologi, alat tersebut kemudian dikembangkan menjadi aplikasi berbasis web yang dapat diakses melalui telepon pintar (smartphone) sehingga lebih praktis dan mudah digunakan oleh petani maupun penyuluh di seluruh Indonesia.

"Inovasi ini lahir karena saya melihat masih banyak penyuluh mengalami kesulitan membedakan tingkat warna daun secara visual. Melalui BWD Digital, proses identifikasi menjadi lebih mudah, cepat, dan akurat," jelas Edi.

Penghargaan 

Atas inovasinya tersebut, Edi Nurhadi memperoleh penghargaan pada ´Mimbar Sarasehan Provinsi Jawa Barat´ untuk kategori Teknologi Pertanian Berkelanjutan Berbasis Spesifik Lokalita.

Plt. Kepala BBPP Lembang, Adi Destriadi Sutisna, saat membuka BOC Volume 358 menyampaikan bahwa Indonesia tengah mempercepat transformasi menuju swasembada pangan berkelanjutan. Inovasi teknologi yang lahir dari petani perlu terus didorong dan disebarluaskan.

"Melalui BOC, kami ingin menghadirkan inovasi yang langsung dapat dimanfaatkan petani dan penyuluh. BWD Digital merupakan salah satu solusi sederhana namun berdampak besar mendukung budidaya padi yang lebih efisien," ujarnya.

Pada sesi teknis, Widyaiswara BBPP Lembang, Fiadini Putri, menjelaskan bahwa warna daun merupakan indikator penting untuk mengetahui kecukupan unsur hara nitrogen pada tanaman padi.

"Seperti manusia, tanaman juga memiliki cara berkomunikasi. Salah satunya melalui perubahan warna daun yang dapat menjadi indikator kebutuhan unsur hara," jelasnya.

Artificial Intelligence

Edi Nurhadi mengatakan, aplikasi BWD Digital memanfaatkan teknologi AI untuk menganalisis warna daun, menghitung kebutuhan pupuk berdasarkan luas lahan, serta memberikan rekomendasi pemupukan secara cepat. 

Kendati demikian, dia menegaskan bahwa hasil analisis aplikasi tetap perlu dipadukan dengan pendampingan penyuluh pertanian agar rekomendasi yang diberikan sesuai dengan kondisi spesifik di lapangan.

Menariknya, aplikasi tersebut dapat diakses secara gratis oleh seluruh petani dan penyuluh di Indonesia melalui laman https://bwd.kebundata.web.id/

"Saya berharap aplikasi ini dapat dimanfaatkan seluas-luasnya oleh petani dan penyuluh sebagai alat bantu pengambilan keputusan sehingga pemupukan menjadi lebih tepat, efisien, dan produktivitas padi terus meningkat," tutup Edi. [afriski/chetty/timhumas bbpplembang]

 

 

 

 

 

Artikel Lainnya

Tentang Kami

Kami Menyajikan informasi terkini dan terbaru seputar ekonomi, politik, hiburan , mancanegara, dan gaya hidup