16 Mei 2026
Pertanian

Perkuat Literasi Perubahan Iklim, Kementan Terapkan SOP Budidaya Cabai

post-img
BB PUSTAKA: Plh Kepala BB Pustaka, Vivit Wardah Rufaidah mengatakan kegiatan Tektokan salah satu upaya nyata BB Pustaka memperluas akses informasi pertanian, meningkatkan literasi digital masyarakat pertanian mendukung penelitian dan penyuluhan bagi swasembada pangan nasional.

BOGOR (Kepopedia) - Kementerian Pertanian RI (Kementan) melalui Balai Besar Perpustakaan dan Literasi Pertanian (BB Pustaka) memperkuat literasi pertanian menghadapi perubahan iklim melalui Temu Teknologi Pertanian disingkat Tektokan bertajuk ´Budidaya Cabai di Dataran Tinggi: Standar Operasional Prosedur (SOP)´ pada Rabu (13/05). 

Plh Kepala BB Pustaka, Vivit Wardah Rufaidah mengatakan Kementan melalui kegiatan Tektokan mengajak para petani berdiskusi, terkait permasalahan yang dihadapi dengan mencari solusi dari buku yang diterbitkan oleh Pertanian Press.

Menteri Pertanian RI (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengatakan pemerintah terus mendorong berbagai strategi adaptasi agar produktivitas komoditas pertanian tetap terjaga.

“Pemerintah terus memperkuat langkah mitigasi untuk melindungi komoditas pertanian dari dampak perubahan iklim melalui penerapan budidaya adaptif, penggunaan benih unggul, serta pendampingan kepada petani agar produktivitas tetap terjaga,” katanya.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Idha Widi Arsanti mengatakan regenerasi petani sangat penting.

“Sedangkan kebutuhan pangan tidak semakin sedikit. Itulah pentingnya mendorong regenerasi petani, yang tentunya akan menyokong ketahanan pangan," katanya.

BB Pustaka 

Plh Kepala BB Pustaka, Vivit Wardah Rufaidah diwakili Ketua Kelompok Penerbitan Pertanian, Eni Kustanti mengungkapkan, BB Pustaka saat ini menaungi Pertanian Press, unit kerja penerbit publikasi pertanian

BB Pustaka melalui kegiatan Tektokan mengajak para petani berdiskusi terkait permasalahan yang dihadapinya dengan mencari solusi dari buku hyang diterbitkan oleh Pertanian Press.

Perwakilan dari Direktorat Jenderal Hortikultura, Mutiara mengungkapkan cabai merupakan komoditas strategis nasional, dengan kebutuhan pasar yang tinggi dan berpengaruh terhadap inflasi maupun perekonomian nasional.

Potensi produktivitas cabai di dataran tinggi dinilai sangat besar apabila didukung penanganan yang tepat mulai dari pemilihan varietas, pengaturan guludan, pemupukan, pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) hingga pengelolaan panen dan pascapanen.

"Budidaya cabai juga menghadapi tantangan besar akibat perubahan iklim serta tingginya serangan OPT, karena itu, penerapan SOP budidaya cabai menjadi pedoman penting agar usaha tani berjalan efektif, efisien dan berkelanjutan," kata Mutiara.

Dia menambahkan, Kementan mendukung pengembangan Kawasan Aneka Cabai Tahun Anggaran 2026, dengan menetapkan sejumlah kriteria penerima bantuan, di antaranya kelompok tani wajib terdaftar pada Simluhtan, bersedia memenuhi persyaratan administrasi dan memiliki luasan tanam minimal satu hektar.

Hama dan Penyakit

Sementara itu perwakilan dari Badan Riset Nasional, Ifa Manzila menjelaskan sejumlah kesalahan yang sering dilakukan petani seperti penggunaan varietas tidak sesuai lokasi tanam, pengendalian hama terlambat, penggunaan pupuk nitrogen berlebihan dan drainase buruk.

"Penanaman cabai terus-menerus tanpa rotasi tanaman juga dapat menyebabkan tanaman mudah terserang hama dan penyakit serta menurunkan produktivitas," katanya.

Berbagai hama penting pada tanaman cabai juga menjadi perhatian di antaranya thrips, kutu daun, kutu kebul, lalat buah, dan tungau. 

Sementara penyakit utama meliputi virus gemini, antraknosa, layu fusarium, hingga layu bakteri.

Strategi Pengendalian

Guna mengatasi hal tersebut, diterapkan strategi pengendalian berdasarkan umur tanaman. 

Pada fase awal 0 - 30 hari sesudah tanam (hst) misalnya, petani dianjurkan menggunakan mulsa plastik perak, memasang yellow sticky trap sejak tanam, melakukan monitoring rutin dan manfaatkan agen hayati seperti PGPR dan Trichoderma.

Memasuki fase vegetatif hingga produksi, pengendalian dilakukan melalui pemupukan berimbang, sanitasi kebun, rotasi bahan aktif pestisida, pemasangan pheromone trap, penggunaan biopestisida dan panen rutin untuk mengurangi kelembaban kanopi tanaman.

Selain pengendalian OPT, penerapan sanitasi kebun juga menjadi faktor penting. Kegiatan seperti membersihkan gulma, memusnahkan tanaman sakit, membersihkan buah busuk dan sterilisasi alat pertanian terbukti mampu mengurangi sumber penyakit dan menekan perkembangan hama.

Melalui kegiatan ini, BB Pustaka berharap petani semakin memahami pentingnya penerapan SOP budidaya cabai secara disiplin agar mampu menghasilkan cabai sehat, produktivitas tinggi dan panen berkelanjutan di tengah tantangan perubahan iklim. [ferdi/shinta/timhumas bbpustaka]

 

 

 

 

Artikel Lainnya

Tentang Kami

Kami Menyajikan informasi terkini dan terbaru seputar ekonomi, politik, hiburan , mancanegara, dan gaya hidup