SUKABUMI (Kepopedia) - Terobosan sederhana namun berdampak besar lahir dari tangan mahasiswa vokasi. Limbah batang pisang yang selama ini terbuang kini berhasil diubah menjadi pakan fermentasi bernilai tinggi yang mampu meningkatkan produktivitas ternak kelinci secara signifikan.
Inovasi ini dikembangkan oleh Dikma Nesav, mahasiswi Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Bogor, melalui riset terapan yang langsung diuji di Desa Pasawahan, Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi.
Inovasi tersebut diapresiasi Direktur Polbangtan Bogor, Yoyon Haryanto yang dinilai sebagai terobosan penting di tengah persoalan klasik peternak, ´tingginya biaya pakan dan rendahnya pertambahan bobot ternak´, maka inovasi Dikma Nesav menjadi solusi konkret dan penting.
Menteri Pertanian RI (Mentan) Andi Amran Sulaiman, menegaskan bahwa inovasi berbasis potensi lokal menjadi kunci efisiensi dan ketahanan pangan nasional.
“Contoh nyata bagaimana limbah bisa diubah menjadi kekuatan ekonomi. Inovasi tersebut harus diperbanyak, karena langsung menjawab kebutuhan petani dan peternak,” tegasnya.
Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Idha Widi Arsanti menilai, peran mahasiswa vokasi kini semakin strategis dalam menjembatani teknologi dan kebutuhan lapangan.
“Mahasiswa tidak hanya belajar teori, juga hadir membawa solusi yang bisa langsung diterapkan masyarakat,” ujarnya.
Kepala Pusat Pendidikan Pertanian, Muhammad Amin, menekankan bahwa kekuatan inovasi terletak pada kesederhanaannya.
“Mudah dibuat, berbasis bahan lokal, biaya rendah, dan terbukti meningkatkan performa ternak. Ini inovasi yang tepat guna,” katanya.
Polbangtan Bogor
Direktur Polbangtan Bogor, Yoyon Haryanto meyakini inovasi mahasiswinya, Dikma Nesav sebagai solusi konkret. Melalui proses fermentasi, batang pisang yang sebelumnya minim nilai nutrisi diolah menjadi pakan dengan daya cerna lebih baik, kandungan nutrisi meningkat dan lebih tahan simpan.
"Bukti bahwa pendidikan vokasi mampu melahirkan solusi nyata berbasis kebutuhan lapangan. Bukan sekadar tugas akhir, tetapi solusi riil yang berdampak langsung pada produktivitas dan kesejahteraan peternak,” katanya pada Kamis (14/4).
Yoyon Haryanto menambahkan, inovasi berbasis potensi lokal seperti ini memiliki peluang besar untuk direplikasi secara nasional, terutama di wilayah dengan ketersediaan limbah pertanian yang melimpah.
"Di tengah tuntutan efisiensi dan keberlanjutan sektor pertanian, inovasi ini menjadi contoh bahwa solusi besar bisa lahir dari hal sederhana," katanya.
Dari batang pisang yang dianggap limbah, kini lahir teknologi pakan alternatif yang bukan hanya meningkatkan bobot ternak, juga membuka jalan menuju kemandirian peternak.
Bobot Naik
Hasilnya tak sekadar klaim. Dalam uji coba selama 30 hari, kelinci yang mengonsumsi pakan fermentasi berbasis batang pisang menunjukkan lonjakan bobot badan lebih tinggi dibandingkan dengan pola pakan konvensional.
Tak hanya berdampak pada peningkatan produksi, inovasi ini juga menekan biaya pakan secara signifikan, komponen terbesar dalam usaha peternakan.
Di sisi lain, pemanfaatan limbah batang pisang turut mendorong praktik pertanian yang lebih ramah lingkungan.
Pendekatan yang dilakukan pun tidak berhenti pada aspek teknologi. Melalui penyuluhan, demonstrasi, dan pendampingan intensif, peternak dilibatkan secara aktif dalam proses adopsi inovasi.
“Sekarang kami tidak lagi bergantung penuh pada pakan beli. Batang pisang yang dulu dibuang, sekarang justru jadi andalan,” ungkap salah satu peternak. [wisda/timhumas polbangtanbogor]