22 April 2026
Pertanian

Pertanian Terpadu, P4S Ternak Jaya Contoh Sukses Sistem Zero Waste

post-img
BBPP LEMBANG: Kepala BBPP Lembang, Ajat Jatnika membuka Webinar Bertani on Cloud (BoC) bertema Zero Waste yang menghadirkan narasumber Ketua P4S Ternak Jaya, Roja`i [kemeja biru] didampingi widyaiswara mengulas tentang konsep utama Pertanian Terpadu, memanfaatkan limbah menjadi sumber daya ekonomi melalui Zero Waste.

BANDUNG BARAT (Kepopedia) - Kementerian Pertanian RI (Kementan) mendorong penerapan Pertanian Terpadu (Integrated Farming) dengan konsep utama, memanfaatkan limbah menjadi sumber daya bernilai ekonomi melalui pendekatan Zero Waste, sebagai strategi meningkatkan produktivitas sekaligus mewujudkan swasembada pangan.  

Kepala Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Lembang, Ajat Jatnika mengatakan pengembangan Pertanian Terpadu dinilai mampu menekan biaya produksi seraya meningkatkan pendapatan petani melalui pemanfaatan sumber daya secara optimal dan berkelanjutan.

Pengembangan Pertanian Terpadu mengemuka pada Webinar Bertani on Cloud (BoC) yang dibuka oleh Kabalai Ajat Jatnika secara daring, Kamis pekan lalu (16/4) dengan menghadirkan Ketua Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swadaya (P4S) Ternak Jaya, Roja´i yang tergolong sukses mengembangkan Pertanian Terpadu dan Zero Waste.

Pengembangan Zero Waste sebagai output dari Pertanian Terpadu sejalan arahan Menteri Pertanian RI (Mentan) Andi Amran Sulaiman tentang pentingnya kemandirian di sektor pangan sebagai bagian dari kekuatan nasional.

Sejalan dengan itu, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Kementan (BPPSDMP) Idha Widi Arsanti menegaskan bahwa berbagai upaya terus dilakukan untuk meningkatkan produktivitas pertanian, termasuk melalui inovasi dan pemanfaatan teknologi.

“Kementan mendorong intensifikasi melalui peningkatan produktivitas, penggunaan benih unggul serta penerapan teknologi dan inovasi,” katanya.

BoC BBPP Lembang
Kepala BBPP Lembang, Ajat Jatnika menilai bahwa konsep Pertanian Terpadu merupakan solusi nyata menuju kemandirian petani.

“Dengan pendekatan ekonomi sirkular dan optimalisasi hubungan antara pertanian dan peternakan, sistem ini memberikan keuntungan berkelanjutan bagi petani,” ujarnya.

Ajat Jatnika menambahkan, penerapan Pertanian Terpadu diharapkan dapat menjadi model yang direplikasi secara luas, sehingga mampu memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani di berbagai daerah. 

"Kunci sukses dari sistem Pertanian Terpadu adalah efisiensi dan peningkatan nilai tambah. Intinya, bagaimana pengeluaran petani berkurang, tetapi pendapatan meningkat," ungkapnya lagi.

Kabalai Ajat Jatnika merujuk pada pengembangan Pertanian Terpadu yang diterapkan P4S Ternak Jaya, mengintegrasikan sektor pertanian dan peternakan, dengan komoditas utama padi, jagung, serta ternak sapi dan kambing.

P4S Ternak Jaya
Ketua P4S Ternak Jaya, Roja’i menjelaskan bahwa konsep utama Pertanian Terpadu adalah memanfaatkan limbah menjadi sumber daya bernilai ekonomi melalui pendekatan Zero Waste.

“Keuntungan yang kami rasakan adalah biaya produksi bisa ditekan dan hasil usaha meningkat,” ujarnya.

Limbah peternakan, seperti feses dan urin, diolah menjadi pupuk organik padat dan cair. Selain itu, limbah tersebut juga dimanfaatkan sebagai pestisida nabati karena memiliki sifat antiparasit dan antibakteri.

Roja’i juga mengembangkan probiotik dari rumen sapi untuk mengurangi bau amonia dan gas metana, sekaligus meningkatkan kualitas lingkungan peternakan.

Tak hanya itu, inovasi lain yang dikembangkan adalah pembuatan fungisida berbahan dasar belerang untuk mengatasi serangan jamur pada tanaman, terutama saat kondisi cuaca ekstrem. 

Dia mengombinasikan bahan alami tersebut dengan pupuk cair berbasis urin ternak untuk meningkatkan ketahanan tanaman.

Di bidang peternakan, Roja’i juga meracik jamu herbal dari bahan alami seperti jahe, temulawak, serai dan daun sirih yang difermentasi untuk menjaga kesehatan ternak.

Menurutnya, kunci utama dari sistem Pertanian Terpadu adalah efisiensi dan peningkatan nilai tambah. 

“Intinya bagaimana pengeluaran petani berkurang, tetapi pendapatan meningkat,” tegasnya saat sharing pada kegiatan BOC, Kamis (16/04/26). [chetty/afriski/timhumas bbpplembang]

 

 

 

Artikel Lainnya

Tentang Kami

Kami Menyajikan informasi terkini dan terbaru seputar ekonomi, politik, hiburan , mancanegara, dan gaya hidup