PANDEGLANG (Kepopedia) - Upaya memperkuat ketahanan pangan nasional senantiasa dilakukan oleh Kementerian Pertanian RI (Kementan) di antaranya melalui program literasi dan edukasi. Diwujudkan melalui acara LOVE yang digelar oleh Balai Besar Perpustakaan dan Literasi Pertanian (BB Pustaka) di Kecamatan Koroncong, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten pada Kamis (16/4).
Kepala BB Pustaka, Eko Nugroho Dharmo Putro mengatakan pihaknya mengusung tema ´Dari Kandang ke Meja Makan: Kandang Bersih, Telur Istimewa´ sebagai langkah nyata meningkatkan kualitas protein hewani bagi masyarakat.
Menteri Pertanian RI (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan komitmen pemerintah menjaga stabilitas harga ayam dan telur melalui peran BUMN sebagai stabilisator sektor peternakan.
Pengembangan peternakan ayam terintegrasi melalui Danantara difokuskan pada pengendalian sektor hulu seperti pakan, vaksin dan DOC yang selama ini menjadi pemicu fluktuasi harga. Tanpa intervensi di hulu, harga di tingkat konsumen akan terus bergejolak.
“Stabilisasi harga hanya bisa dicapai jika pemerintah bergerak dari hulu mencakup pakan, vaksin dan DOC,” katanya.
Hal senada dkemukakan Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Kementa (BPPSDMP) Idha Widi Arsanti menekankan pentingnya peningkatan kapasitas SDM pertanian melalui pelatihan seperti Bertani on Cloud (BOC).
"Tujuannya, mendorong masyarakat menghasilkan pangan sehat, higienis dan berkualitas. Pelatihan menjadi bagian dari strategi penguatan nutrisi keluarga yang mendukung keberhasilan program MBG," katanya.
BB Pustaka
Kepala BB Pustaka, Eko Nugroho DP mengatakan bahwa telur adalah sumber protein hewani krusial yang kehadirannya di meja makan tidak tergantikan, serta manfaat kesehatan telur sangat bergantung pada proses penanganan mulai dari kebersihan di kandang hingga siap saji.
“Kualitas telur dimulai dari perlakuan terhadap ternak sesuai UU Nomor 18 Tahun 2009 tentang Kesejahteraan Hewan. melalui Permentan Nomor 10 Tahun 2024 dan SNI 3926:2023," katanya.
Eko Nugroho DP menambahkan, pemerintah juga tegas melarang peredaran telur infertil guna melindungi konsumen.
Kabalai juga mengajak masyarakat untuk memanfaatkan lahan yang ada guna berternak mandiri sebagai respons atas tingginya kebutuhan telur nasional.
Ayam Merah Putih
Sementara, Kepala Balai Pengujian Mutu dan Sertifikasi Produk Hewan (BPMSPH), Dinar Hadi Wahyu Hartawan memaparkan Program Ayam Merah Putih yang berjalan sejak 2025 memberikan pendampingan tiga bulan kepada peternak agar mandiri.
“Produk yang dihasilkan harus terjamin kualitasnya sesuai standar SNI dan uji BPMSPH. Kami memastikan penggunaan kapur dolomit untuk mengurangi amonia dan pengaturan sanitasi agar tidak mencemari lingkungan,” katanya.
Telur berkualitas memiliki warna cokelat merata dan permukaan halus, disarankan menyimpan telur dengan posisi bagian runcing di bawah untuk menjaga kantung udara tetap di atas, serta melakukan uji kesegaran menggunakan larutan garam di rumah.
Manajemen Populasi
Acara dilanjutkan dengan pemaparan video profil peternakan di Desa Panis. Agus selaku pengelola kandang menunjukkan keberhasilan manajemen populasi 600 ekor ayam dengan produksi mencapai 30 kg per hari (produktivitas 90%).
Penyuluh Pertanian Kecamatan Keroncong, Agus Sahroni, menambahkan bahwa proyek ini menjadi satu-satunya percontohan sukses di Pandeglang.
Keberlanjutan usaha dijamin melalui rencana pembangunan kandang DOC untuk regenerasi indukan dan kolaborasi dengan petani jagung lokal sebagai penyedia bahan baku pakan.
Melalui kolaborasi antara penyuluh, peneliti, dan otoritas sertifikasi mutu, kegiatan LOVE kali ini menegaskan bahwa ketahanan pangan nasional bermula dari pengelolaan kandang yang higienis.
Sinergi ini diharapkan dapat meningkatkan ekonomi kerakyatan sekaligus memastikan gizi masyarakat terpenuhi dengan produk hewan berkualitas. [ayu/shinta/timhumas bbpustaka]