18 Juni 2026
Pertanian

`Low Cost Precision Farming` Tingkatkan Produktivitas dan Kualitas Pertanian

post-img
SEKRETARIAT BPPSDMP: Menteri Pertanian RI Syahrul Yasin Limpo mengingatkan generasi milenial untuk turut membangun pertanian melalui inovasi teknologi didukung pembiayaan berbunga rendah melalui Kredit Usaha Rakyat [KUR] yang disediakan pemerintah melalui bank penyalur KUR.

BANDARLAMPUNG - Menteri Pertanian RI Syahrul Yasin Limpo mendorong generasi milenial di Provinsi Lampung untuk segera mengembangkan inovasi usaha tani sebagai bekal masa depan menuju pertanian maju, mandiri dan modern, di antaranya memanfaatkan Kredit Usaha Rakyat Pertanian [KUR] pertanian sebagai akses permodalan yang berbunga rendah.

"Besok itu tidak hanya training tentang bagaimana penguasaan teknologi saja, kita harus mulai dengan keuangan. Sesudah pelatihan harus diberi kesempatan menggunakan KUR. KUR adalah program Presiden Jokowi untuk memperkuat usaha tani," kata Mentan Syahrul saat membuka Training of Trainers [ToT] bertajuk 'Low Cost Precision Farming' di Bandarlampung, Sabtu, [11/2].

Mentan Syahrul menambahkan, akses permodalan KUR memiliki bunga sangat rendah, karena hanya memungut biaya administrasi sebesar 3%. Negara memberikan layanan tersebut bagi semua kalangan, terutama generasi milenial yang ingin mengembangkan usaha tani.

"Dari pengalaman saya selama tiga tahun, KUR itu telah menjadi kekuatan kita. Dari tahun ke tahun, yang macet  hanya 0,3 persen saja. Sekarang kita punya KUR sudah di atas 100 triliun," katanya.

Berikutnya, kata Mentan, setelah menggunakan KUR, peserta pelatihan harus fokus dan menetapkan target. Pasalnya, pemerintah sudah menyiapkan sarana dan prasarana seperti teknologi mekanisasi dan bibit unggul.

"Di dalam pelatihan harus fokus. Harus ada target. Pengolahan tanah harus ada persiapan bibit. Ada persemaian. Ada penanaman. Jadi anak-anak kita tidak berhenti sampai pelatihan, harus sampai berhasil," katanya.

Sementara Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Kementan [BPPSDMP] Dedi Nursyamsi mengatakan bahwa pelatihan tersebut  melibatkan 105 peserta dari berbagai lapisan, jika ditotal dengan pelatihan di seluruh Indonesia, mencapai 21.533 peserta dengan metode offline pada masing-masing Unit Pelaksana Teknis [UPT].

"Tujuan pelatihan, untuk menguatkan implementasi program utama Kementan yakni digitalisasi pertanian khususnya pertanian presisi," katanya.

Dedi Nursyamsi menambahkan, pertanian presisi diupayakan mendongkrak perbaikan kualitas produk serta menjamin kontinyuitas pertanian melalui inovasi teknologi relatif murah dan sederhana. [timhumassekretbppsdmpkementan]

Artikel Lainnya

Tentang Kami

Kami Menyajikan informasi terkini dan terbaru seputar ekonomi, politik, hiburan , mancanegara, dan gaya hidup