PADANG - Kementerian Pertanian RI (Kementan) bersama Badan Pangan Nasional (Bapanas) bergerak cepat merespons banjir bandang dan longsor yang melanda Sumatera Barat. Bantuan kemanusiaan skala besar dalam proses distribusi dan tiba dengan KRI Banda Aceh di Pelabuhan Teluk Bayur, Kota Padang, Provinsi Sumatera Barat pada Senin (8/12).
Bantuan Kementan Peduli merupakan hasil konsolidasi langsung Menteri Pertanian RI (Mentan) Amran Sulaiman, yang menghimpun dukungan dari BUMN pangan dan mitra strategis dengan total nilai mencapai Rp75 miliar.
Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Kementan (BPPSDMP) Idha Widi Arsanti mengatakan, KRI Banda Aceh membawa lebih dari 19 jenis kebutuhan pokok, mulai dari beras, minyak goreng, gula, susu, air mineral, mie instan, pakaian, kebutuhan bayi, hingga perlengkapan higienis.
"Distribusi dilakukan secara terkoordinasi dengan Pemprov Sumatera Barat, pemerintah kabupaten/kota terdampak, TNI AL, Pelindo, dan Forkopimda," katanya.
Kabadan SDM Kementan menambahkan, pengiriman bantuan dilakukan secara bertahap. Hari ini, Senin (8/12) KRI Banda Aceh telah menurunkan sekitar 21 truk atau kurang lebih 250 ton bantuan.
"Total ada 64 item. Mulai sembako, perlengkapan wanita, kebutuhan bayi, susu, hingga perlengkapan higienis lainnya. Kami memastikan seluruh bantuan ini segera disalurkan untuk meringankan beban masyarakat Sumatera Barat," ungkapnya lagi.
Apresiasi Gubernur Sumbar
Gubernur Sumatera Barat, H. Mahyeldi Asharullah, menyampaikan apresiasi sekaligus kebutuhan mendesak daerah.
“Terima kasih kepada Ibu Kepala Badan yang hadir langsung mewakili Menteri menyampaikan bantuannya dan kita akan langsung mendistribusinya ke kabupaten/kota," katanya
Dalam kesempatan tersebut, Mahyeldi juga menjelaskan dampak kerusakan lahan pertanian yang cukup luas.
“Ada lebih kurang 25 ribu hektare, baik sawah maupun lahan kering, kebun, juga kolam yang terdampak banjir dan longsor.
"Harapan kita, beberapa bulan lagi kita akan menghadapi Puasa dan Lebaran, sehingga diperlukan dukungan berupa alat untuk membantu rehabilitasi. Dengan begitu, pada akhir Desember lahan-lahan ini dapat ditanami dan berproduksi kembali.”
Menindaklanjuti hal tersebut, kata Kabadan SDM, Kementan menugaskan jajarannya melakukan pendataan detail lahan terdampak yang akan diklasifikasikan sebagai rusak ringan, sedang, atau berat.
"Data ini menjadi dasar percepatan bantuan alsintan, saprodi, dan dukungan teknis lainnya agar produksi pertanian segera pulih," kata Santi.
Kementan memastikan penyaluran bantuan dipantau hingga tingkat kabupaten/kota dan pemulihan sektor pertanian Sumatera Barat dilakukan berkelanjutan. [esap/timhumas bppsdmpkementan]