23 Juni 2026
pertanian

Program Kementan, Petani Milenial & Digitalisasi Pertanian Dipuji FAO dan KSST

post-img
WEBINAR INTERNASIONAL: Sekretaris BPPSDMP Kementan, Siti Munifah mengikuti Joint Webinar atas kerjasama Kementan dengan KBRI Italia di Roma dan Perutusan Tetap Swiss untuk FAO serta Divisi Kerja Sama Selatan-Selatan FAO.

JAKARTA  - Pemerintah RI diapresiasi oleh Badan Pangan Dunia/Food Agriculture Organization [FAO] dalam Regenerasi Petani, atas upaya Kementerian Pertanian RI  yang melibatkan sektor swasta melalui pendekatan Government-Private Sector Mechanism, sehingga menjadi contoh penggunaan pendekatan kemitraan pemerintah dan pihak swasta.

FAO menyatakan ketertarikan melakukan kerjasama dengan Indonesia untuk upaya serupa, baik bilateral maupun dalam kerangka Kerjasama Selatan - Selatan dan Triangular [KSST]. 

Apreasiasi dan ketertarikan FAO tersebut mengemuka pada Joint Webinar bertajuk Snack the System – Indonesia Sharing the Role of Youth in Promoting Innovation and Digital-based Agriculture within the Framework of South-South and Triangular Cooperation: Challenges and Opportunities pada Jumat [13/5] yang dihadiri sekitar 122 peserta dari seluruh dunia.

Webinar dihadiri Sekretaris BPPSDMP Kementan, Siti Munifah di Jakarta; Duta Petani Milenial [DPM] I Nengah Sumerta; Founder Mitra Sejahtera Membangun Bangsa/MSMB Kiwi Aliwarga; Kepala Perwakilan IFAD di Jakarta, Ivan Cossio Cortez. 

Sementara dari mancanegara hadir Perwakilan KBRI di Roma Italia, Caka A Awal; Perutusan Tetap Swiss untuk FAO, Pio Wennubst; Perwakilan PBB - UN Secretary General Envoy on Youth, Jayathma Wickramanayake; dan Kepala Biro Kerjasama Luar Negeri Kementan, Ade Candradijaya.

Webinar tersebut digelar sebagai apresiasi pada Pemerintah RI atas Program Petani Milenial dalam beberapa tahun terakhir dalam upaya regenerasi petani. Webinar terselenggara atas kerjasama Kementan dengan KBRI Italia di Roma dan Perutusan Tetap Swiss untuk FAO serta Divisi Kerja Sama Selatan-Selatan FAO.

Menteri Pertanian RI Syahrul Yasin Limpo menyatakan untuk mewujudkan pertanian yang maju, mandiri dan modern, Indonesia akan bertumpu pada generasi muda. Kementan menargetkan pengembangan 2,5 juta petani milenial di seluruh Indonesia hingga 2024.

"Para petani milenial dibekali dengan pengetahuan, ilmu dan teknologi yang memadai, sehingga mampu menjawab berbagai persoalan yang dihadapi para pemangku kepentingan bidang pertanian," kata Mentan.

Hal senada dikemukakan oleh Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian [BPPSDMP] Dedi Nursyamsi bahwa petani milenial adalah generasi penerus pertanian Indonesia di masa depan.

"Di tangan merekalah tongkat estafet pembangunan pertanian, karena itu, kemampuan petani milenial akan terus kita tingkatkan," katanya.

Sekretaris BPPSDMP Siti Munifah pada webinar internasional tersebut mengemukakan bahwa dalam pembangunan pertanian Indonesia di Era Industri 4.0 membutuhkan keterlibatan pemuda dalam pertanian karena mereka cerdas, adaptif terhadap teknologi, dan siap memasuki era pertanian 4.0.

"Saat ini petani milenial sudah mulai mengambil bagian dalam pembangunan pertanian dari hulu hingga hilir," katanya.

Menurutnya, Indonesia sudah banyak berkiprah pada KSST, termasuk saat ini yang sedang dalam proses persiapan pengiriman Tenaga Ahli Bidang Rice Sector Development ke Senegal.

Artikel Lainnya

Tentang Kami

Kami Menyajikan informasi terkini dan terbaru seputar ekonomi, politik, hiburan , mancanegara, dan gaya hidup