KOTA BOGOR (Kepopedia) - Taman Baca Pustaka kini hadir dengan wajah baru sebagai ruang kolaborasi yang inklusif dan inspiratif. Bertransformasi menjadi pusat kegiatan Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial pada Balai Besar Perpustakaan dan Literasi Pertanian (BB Pustaka) lingkup BPPSDMP Kementerian Pertanian RI (Kementan).
Kepala BB Pustaka, Eko Nugroho DP mengatakan Kementan berupaya menggerakkan beragam aktivitas yang memberdayakan masyarakat sekitar dengan menyatukan literasi, penyuluhan dan praktik lapangan dalam satu ekosistem pembelajaran yang berdampak nyata.
Menteri Pertanian RI (Mentan) Andi Amran Sulaiman menekankan pentingnya peran perpustakaan di lingkup Kementan khususnya pada Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Kementan (BPPSDMP).
"Perpustakaan diharapkan menjadi pusat literasi, akses informasi pertanian, sekaligus pendukung penerapan teknologi budidaya," katanya.
Hal senada dikemukakan Kepala Badan PPSDMP Idha Widi Arsanti bahwa hasil investigasi lapangan menunjukkan aktivitas di Taman Baca Pustaka memberikan dampak langsung terhadap perubahan perilaku, peningkatan wawasan, hingga produktivitas ekonomi masyarakat, khususnya pada Kelompok Wanita Tani (KWT).
“Acara tersebut tidak hanya diisi dengan diskusi pertanian, juga sesi berbagi pengetahuan, praktik keterampilan dan pemanfaatan informasi dari koleksi perpustakaan,” katanya.
BB Pustaka Kementan
Kepala BB Pustaka, Eko Nugroho DP mengatakan
tindak lanjut program inklusi sosial pada Selasa (10/2) hadir penggiat perpustakaan sekaligus pelaku daur ulang limbah, Umi Maryam.
Dalam sesi berbagi, Umi Maryam menjelaskan bagaimana kebiasaan membaca mendorong lahirnya ide-ide kreatif yang kemudian diolah menjadi produk bernilai jual dari limbah plastik.
“Ide itu tidak muncul tiba-tiba, tapi hasil dari kebiasaan membaca,” katanya.
Dari penelusuran di lapangan, sejumlah produk olahan limbah karya Umi Maryam telah dipasarkan di lingkungannya.
Dia juga berencana memperdalam keterampilan pengolahan kain perca dengan mencari referensi teknis melalui koleksi BB Pustaka.
Sementara itu, Kepala BB Pustaka, Eko Nugroho DP diwakili Ketua Tim Kerja (Katimker) Layanan Perpustakaan, Sutarsyah menegaskan bahwa program inklusi sosial dirancang untuk mendorong masyarakat memanfaatkan literasi sebagai alat peningkatan kesejahteraan.
“Literasi bukan hanya mencerdaskan, juga meningkatkan taraf hidup. Dengan membaca, anggota KWT dapat meningkatkan kualitas produksi melalui penerapan teknologi baru,” katanya.
Bimbingan Teknis
BB Pustaka sendiri memiliki tiga titik layanan perpustakaan strategis yang dapat diakses secara gratis oleh masyarakat. Informasi ini sebelumnya belum banyak diketahui warga sekitar, namun kini mulai dimanfaatkan melalui kegiatan inklusi di taman baca.
Antusiasme peserta terlihat saat sesi diskusi inovasi produk berbasis limbah berlangsung. Kegiatan tidak berhenti pada diskusi, dilanjutkan dengan Bimbingan Teknis (Bimtek) bersama Umi Maryam, untuk melatih anggota KWT mengolah sampah menjadi produk kreatif siap pakai maupun siap jual.
Pantauan di lapangan menunjukkan, Taman Baca Pustaka telah menjadi simpul kolaborasi antara perpustakaan, penyuluh, komunitas dan masyarakat. Perpustakaan hadir bukan hanya sebagai penyedia informasi, juga penggerak ekonomi berbasis literasi.
"Dari literasi lahir ide. Dari ide lahir inovasi. Dan dari inovasi, roda ekonomi masyarakat perlahan mulai bergerak," tutup Sutarsyah. [shinta/timhumas bbpustakakementan]