24 April 2026
Pertanian

Gedung Rektorat Polbangtan Kementan Ditetapkan sebagai Cagar Budaya Kota Bogor

post-img
POLBANGTAN BOGOR: Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) bersama Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Bogor, Provinsi Jawa Barat audiensi dengan Direktur Polbangtan Bogor, Yoyon Haryanto diwakili Wakil Direktur II Aminudin Alfat sebelum menetapkan dan menyerahkan dokumen penetapan cagar budaya dari Pemkot Bogor.

BOGOR - Sebuah tonggak sejarah baru bagi Kementerian Pertanian RI khususnya Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) pada Polbangtan Bogor. Tercatat sejak Senin (29/9) Gedung Rektorat Polbangtan Bogor resmi ditetapkan sebagai Cagar Budaya Kota Bogor oleh Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) bersama Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Bogor, Provinsi Jawa Barat.

Direktur Polbangtan Bogor, Yoyon Haryanto mengatakan gedung rektorat berarsitektur megah tersebut merupakan karya Friedrich Silaban, maestro arsitektur Indonesia yang namanya dikenal luas lewat rancangan Monumen Nasional (Monas) dan Masjid Istiqlal Jakarta. 

Silaban dikenal sebagai sosok arsitek visioner yang menggabungkan nilai keindahan dengan kekuatan simbolis. 

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyambut baik penetapan ini. “Saya sangat bangga karena kampus pertanian ini tidak hanya berperan mencetak SDM unggul, tetapi juga menjaga warisan bangsa.” 

Sementara Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Kementan (BPPSDMP) Idha Widi Arsanti, menekankan bahwa keberadaan gedung rektorat semakin menguatkan karakter Polbangtan Bogor sebagai pusat pendidikan pertanian yang berakar pada nilai sejarah. 

“Gedung ini bukan hanya bangunan fisik, melainkan simbol perjalanan panjang pendidikan pertanian di Indonesia,” katanya.

Polbangtan Bogor
Direktur Polbangtan Bogor, Yoyon Haryanto mengaku bangga atas capaian civitas akademika yang menambah panjang deretan prestasi Polbangtan Bogor tahun ini. 

Kehadiran karya Friedrich Silaban di Bogor menjadi bukti bahwa Polbangtan tidak hanya menyimpan warisan pendidikan, tetapi juga kekayaan arsitektur nasional.

“Terima kasih bapak ibu. Alhamdulillah luar biasa perjuangan panjang. Kampus kita menjadi Cagar Budaya," katanya.

Yoyon Haryanto berharap, penetapan cagar budaya menjadi semangat civitas academica, menebarkan sejarah Polbangtan Bogor menjadi lembaga pendidikan terbaik, untuk mencetak regenerasi yang jujur, adil, wibawa, amanah, religius dan akuntabel disingkat Jawara.

"Sejarah pendidikan pertanian di Bogor sudah berlangsung lebih dari seabad. Pada era kolonial Belanda berdiri Middlebow Landbouw School disingkat, berupa sekolah pertanian menengah pertama di Indonesia yang melahirkan banyak tenaga terampil di bidang pertanian," ungkapnya.

Setelah Indonesia merdeka, tambah Yoyon Haryanto, MLS kemudian berkembang menjadi Sekolah Pertanian Menengah Atas (SPMA) yang fokus pada penyiapan tenaga muda pertanian untuk mendukung pembangunan nasional. 

Seiring perkembangan kebutuhan SDM pertanian, sekolah tersebut ditingkatkan statusnya menjadi Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian (STPP) Bogor, perguruan tinggi vokasi yang mencetak tenaga profesional di bidang penyuluhan dan pengembangan pertanian.

Transformasi terbaru terjadi pada 2018, ketika STPP resmi berubah menjadi Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Bogor. Hal itu sesuai kebijakan Kementan, untuk memperkuat pendidikan vokasi pertanian yang lebih modern, aplikatif, dan sesuai tuntutan era pertanian 4.0.

"Penetapan Gedung Rektorat Polbangtan Bogor sebagai cagar budaya tidak hanya memperkuat identitas kampus ini, juga menjadi simbol sinergi ilmu pengetahuan, pendidikan, dan pelestarian budaya," kata Yoyon Haryanto.

Ke depan, ungkapnya lagi, gedung rektorat Polbangtan Bogor akan menjadi salah satu destinasi edukasi yang mempertemukan pertanian modern dengan kekayaan warisan arsitektur bangsa. [wisda/timhumas polbangtanbogor]

 

 

Artikel Lainnya

Tentang Kami

Kami Menyajikan informasi terkini dan terbaru seputar ekonomi, politik, hiburan , mancanegara, dan gaya hidup