ROSADI JAMANI
Ketua Satupena Kalbar
BIASA, followers saya pada manja, selalu nanya, "Bang, gimana lanjutkan megakorupsi Pertamina. Apakah hanya sembilan orang saja tersangkanya?"
Baiklah, wak! Kebetulan ada yang baru ni lanjutan kisah megakorupsi itu. Sahur sudah, kopi udah ada, yok kita kupas.
Uang Rp193,7 triliun. Bukan harga planet Mars, tapi jumlah kerugian negara dalam kasus megakorupsi Pertamina.
Angka yang kalau dibelikan gorengan, bisa bikin semua rakyat Indonesia sarapan gratis sebulan penuh. Tapi sudahlah, rakyat kan cukup kenyang dengan janji-janji.
Selasa kemarin, Simon Aloysius Mantiri, sang Dirut Pertamina, dicecar habis-habisan di Komisi IV DPR.
Wajah tegang, senyum tipis. Lalu, Simon membocorkan pesan sakral dari Presiden Prabowo Subianto. Sederhana saja, "Setialah hanya kepada Merah Putih."
Wow. Dalam dan penuh makna. Tapi, rakyat tentu lebih tertarik pada pertanyaan simpel, "Triliunan itu kemana?"
Simon meyakinkan, di dalam Pertamina masih banyak sosok 'Merah Putih'. Jadi selama ini yang korupsi itu 'Merah Kuning' atau 'Merah Jambu'?
Tapi ya sudahlah, rakyat memang harus banyak bersabar dan membayar BBM lebih mahal.
Di ring sebelah, Andre Rosiade, anggota Komisi VI DPR, mendadak jadi bintang rapat. Bukan karena pidato penuh visi, tapi karena merasa diserang buzzer.
Gara-gara kritikannya ke Ahok lima tahun lalu, ya, lima tahun! Tiba-tiba Andre di-bully. "Saya diserang! Saya dikaitkan dengan Ahok!" teriaknya.
Tenang Pak Andre, buzzer itu memang hobi cari mangsa, jadi jangan baper.
Andre bahkan mempertanyakan kinerja Ahok sebagai Komut Pertamina. "Kalau malingnya main impor, Ahok ngapain aja?" tanya Andre penuh emosi.
Mungkin Ahok lagi sibuk meresapi pesan 'Merah Putih'. Atau mungkin sedang menghitung gaji puluhan miliar. Tapi ya, siapa tahu?
Adegan makin panas saat ada momen penyerahan amplop kuning di tengah rapat. Rakyat langsung heboh, berteori, "Wah, ini pasti duit sogokan!"
Tapi Andre buru-buru klarifikasi, "Bukan sogokan, itu uang SPPD perjalanan dinas!"
Ah, iya. Rakyat memang suka berpikir negatif. Tapi serius nih, kenapa warnanya kuning? Kenapa momennya pas banget di tengah rapat soal korupsi?
Kecurigaan wajar, kan?
Sementara itu, Ahok dijadwalkan diperiksa Kejagung. Apakah dia dalang di balik kasus oplosan Pertamax? Apakah dia tahu kemana triliunan itu melayang? Atau… dia cuma korban sistem?
Kita tunggu saja. Kalau tidak ada plot twist, berarti kita sudah terbiasa dengan ending yang itu-itu saja. Cukup berhenti di sembilan tersangka. Padahal, yang namanya megakorupsi pasti berjemaah.
Kasus ini mungkin bakal jadi drama panjang. Akankah semua tersangka benar-benar diadili? Atau kita hanya akan disuguhi plot klasik, beberapa kambing hitam, sidang yang berlarut-larut, lalu berakhir dengan "damai"?
Tapi, hei selama Pertamina masih jadi 'sokoguru', kita tinggal siapkan kopi dan lihat babak selanjutnya.
Merah Putih, semoga tetap berdiri kokoh, meski kantong rakyat makin tipis. #camanewak