BANDUNG BARAT (Kepopedia) - Upaya mewujudkan swasembada pangan nasional terus dipacu pemerintah. Di bawah arahan Presiden RI Prabowo Subianto, sektor pertanian menjadi salah satu fokus utama untuk memastikan kebutuhan pangan masyarakat dapat dipenuhi dari produksi dalam negeri.
Salah satu langkah konkret dilakukan oleh Kementerian Pertanian RI (Kementan) melalui pelatihan agribisnis bawang merah bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K) pada Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Lembang, yang merupakan Unit Pelaksana Teknis (UPT) dari Kementan.
Kepala BBPP Lembang, Ajat Jatnika mengatakan kegiatan pelatihan diikuti oleh 15 peserta pada 5 - 12 Maret 2026, untuk meningkatkan kompetensi, pola pikir, sikap dan inisiatif peserta mengembangkan agribisnis bawang merah.
Kegiatan pelatihan sejalan arahan Menteri Pertanian RI (Mentan) Andi Amran Sulaiman bahwa swasembada pangan dapat terlihat dari kemampuan negara memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakatnya tanpa bergantung pada impor.
“Dalam lima tahun terakhir, kita sebenarnya sudah swasembada, hanya saja beritanya kurang terdengar. Dulu kita impor bawang merah, sekarang justru sudah bisa ekspor,” katanya.
Ia menjelaskan, produksi bawang merah nasional saat ini mencapai sekitar 1,35 juta ton per tahun, sementara kebutuhan konsumsi sekitar 1,18 juta ton. Surplus produksi tersebut menjadi peluang besar bagi Indonesia untuk memperkuat ekspor komoditas hortikultura.
Menurut Amran, kunci utama menjaga keberlanjutan swasembada pangan adalah peningkatan kualitas sumber daya manusia di sektor pertanian.
“Kompetensi SDM harus terus ditingkatkan. Ini menjadi kunci untuk mencapai swasembada pangan berkelanjutan, produktivitas tinggi, dan modernisasi pertanian,” tegasnya.
Hal senada disampaikan Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Kementan (BPPSDMP) Idha Widi Arsanti yang menyokong kegiatan pelatihan, yang bertujuan meningkatkan kompetensi ASN agar mampu mendorong inovasi dan produktivitas pertanian.
BBPP Lembang
Kepala BBPP Lembang, Ajat Jatnika berharap peserta mampu mengimplementasikan ilmu yang diperoleh dalam kegiatan pertanian di lapangan.
“Setelah pelatihan, kami berharap terjadi peningkatan kompetensi, pola pikir, sikap dan inisiatif peserta dalam mengembangkan agribisnis bawang merah,” katanya.
Selama pelatihan, ungkap Ajat Jatnika, peserta mendapatkan berbagai materi penting, mulai dari Good Agricultural Practices (GAP), pemilihan lokasi tanam, persiapan benih, pengolahan lahan, pemupukan, pengairan hingga Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (POPT).
"Selain teori, peserta juga melakukan praktik langsung di lapangan. Mereka belajar menyiapkan benih bawang merah berkualitas, mengukur pH tanah, mengoperasikan alat dan mesin pertanian seperti traktor roda dua dan roda empat, serta teknik penanganan panen dan pascapanen," katanya.
Salah satu peserta, Yusup Mulyadi, mengaku pelatihan tersebut memberikan banyak pengetahuan baru yang sangat bermanfaat untuk pekerjaan di lapangan.
“Pelatihan ini menambah ilmu yang sebelumnya, tidak saya ketahui. Mulai dari GAP, penanaman, pemeliharaan hingga penanganan pascapanen bawang merah. Ini sangat membantu pekerjaan kami di lahan praktik BBPP Lembang,” katanya.
Dengan pelatihan seperti ini, ungkap Ajat Jatnika, pemerintah berharap produksi bawang merah nasional semakin meningkat dan Indonesia mampu mempertahankan bahkan memperluas capaian swasembada pangan. [chetty/afriski/timhumas bbpplembang]