BOGOR - Belajar tidak selalu harus di dalam kelas. Hal itu dibuktikan oleh 42 pelajar di Sekolah Bogor Raya disertai empat guru pendamping pada Program Agroeduwisata di Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Bogor pada Selasa (16/9).
Direktur Polbangtan Bogor, Yoyon Haryanto mengatakan, sejak pagi, para siswa yang dijuluki AgroBuddy dibagi dalam empat kelompok. Mereka kemudian berpetualang dari satu pos ke pos lain.
Mulai dari polinasi, stek, okulasi, hingga cangkok. Setiap kelompok mendapat kesempatan mencoba langsung teknik pertanian sederhana yang kerap digunakan petani.
Kegiatan tersebut sejalan arahan Menteri Pertanian RI (Mentan) Andi Amran Sulaiman yang merupakan langkah strategis untuk menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap dunia pertanian.
"Mengajarkan pertanian sejak dini adalah investasi masa depan. Anak-anak perlu tahu bahwa bertani itu ilmiah, modern, dan bisa menjadi profesi yang membanggakan,” katanya.
Hal senada disampaikan Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Kementan (BPPSDMP) Idha Widi Arsanti bahwa kolaborasi antara lembaga pendidikan pertanian dengan sekolah umum seperti Sekolah Bogor Raya menjadi jembatan penting untuk mengenalkan inovasi pertanian sejak dini.
“Harapannya, melalui kegiatan seperti ini, anak-anak semakin dekat dengan dunia pertanian dan melihatnya. Bukan hanya sebagai pekerjaan tradisional, tetapi juga bidang yang penuh peluang dengan dukungan teknologi modern,” katanya.
Polbangtan Bogor
Direktur Polbangtan Bogor, Yoyon Haryanto mengatakan, setiap kelompok AgroBuddy mendapat kesempatan mencoba langsung teknik pertanian sederhana yang kerap digunakan petani.
"Siswa mengaku senang bisa belajar langsung mencangkok. Biasanya mereka hanya lihat di buku pelajaran, tetapi di Polbangtan Bogor bisa praktik sendiri dan tampak bangga dengan hasil percobaannya," katanya melalui pernyataan tertulis.
Yoyon Haryanto menambahkan, Agroeduwisata Polbangtan Bogor dirancang untuk menjadikan pertanian sebagai pengalaman belajar yang menyenangkan.
"Anak-anak maupun siswa tidak hanya diajak mengenal tanaman, tetapi juga dilibatkan dalam prosesnya secara nyata," ungkapnya.
Bagi para guru pendamping, tambah Yoyon Haryanto, kegiatan tersebut memberikan pengalaman belajar yang sulit didapat di kelas. Siswa terlihat jauh lebih aktif ketika belajar langsung di lapangan.
Cintai Pertanian
AgroCrew Polbangtan Bogor, Azzahra mengakui hal itu, bahwa siswa menjadi lebih berani bertanya. Lebih antusias mencoba. Lebih mudah memahami konsep yang sebelumnya hanya ada di buku.
"Belajar seperti ini memberikan kesan mendalam yang akan mereka ingat lama," katanya.
Menurutnya, pengalaman siswa dapat menjadi inspirasi pembelajaran di sekolah dengan integrasikan pengalaman Agroeduwisata dengan materi pelajaran,
"Misalnya saat membahas bioteknologi atau reproduksi tumbuhan. Anak-anak sudah punya pengalaman nyata, jadi lebih mudah," ungkap Azzahra.
Kegiatan agroeduwisata yang berlangsung hingga siang hari ditutup dengan sesi refleksi. Setiap kelompok berbagi pengalaman, mulai dari mencoba penyerbukan buatan, menyambung batang tanaman, hingga memahami cara tanaman berkembang biak.
Pranata Humas Polbangtan Bogor, Ardianinda Wisda mengatakan, melalui agroeduwisata maka pihaknya berharap dapat menanamkan benih kecintaan terhadap pertanian sejak dini.
"Dengan cara belajar yang menyenangkan, siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan baru, juga termotivasi untuk melihat pertanian sebagai bagian penting dari kehidupan dan masa depan bangsa. [wisda/timhumas polbangtanbogor]