27 Mei 2026
pertanian

Tingkatkan Kompetensi, Politenik Enjiniring Kementan Terapkan Penggunaan Alsintan

post-img
PEPI SERPONG: Mahasiswa PEPI saat mencoba memakai alat mesin pertanian [Alsintan] dalam praktik pertanian di Politeknik Enjiniring Pertanian Indonesia.

TANGERANG SELATAN - Politeknik Enjiniring Pertanian Indonesia (PEPI) Kementerian Pertanian mengupayakan penerapan teknologi pertanian yang berfokus pada penggunaan teknologi terkini dalam praktik pertanian kepada para mahasiswa yang lulus pada tahun 2023/2024.

Sebagaimana Mahasiswa juga dituntut untuk menerapkan solusi teknologi seperti sensor, drone, Internet of Things (IoT), kecerdasan buatan (AI), dan analitik data untuk mengumpulkan, menganalisis, dan mengoptimalkan data pertanian. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan produktivitas, memantau pertumbuhan tanaman, mengelola irigasi, memprediksi cuaca, dan mengoptimalkan penggunaan pupuk dan pestisida.

Senada arahan Menteri Pertanian [Mentan] Syahrul Yasin Limpo bahwa regenerasi petani penting sebagai penyangga keberlanjutan pembangunan pertanian.

"Indonesia harus menjalankan pertanian efektif dan efisien melalui pengembangan pertanian modern yang tentunya dimotori oleh petani milenial," ujar Mentan.

Ia menambahkan perihal regenerasi petani "Kita fasilitasi mereka, kita tingkatkan pengetahuan dan kemampuan mereka melalui pelatihan. Kita manfaatkan teknologi, alsintan, jejaring hingga jejaring pemasaran. Kita ubah pola pikir generasi milenial bahwa pertanian itu keren, hebat, dan satu-satunya sektor yang menjanjikan terlebih di tengah pandemi ini," tegas Mentan Syahrul.

Dalam acara yang sama, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian [BPPSDMP] Kementan Dedi Nursyamsi menambahkan, pertanian yang maju, mandiri, dan modern memerlukan adanya SDM yang unggul dan kompeten.

Senada dengan Mentan, Dedi mengatakan bahwa pendidikan vokasi Polbangtan dan PEPI harus terus berinovasi dan membekali mahasiswa dengan pengetahuan, pendidikan karakter hingga keterampilan untuk terjun dalam dunia usaha.

Disisi lain, Dedi juga menegaskan bahwa pertanian harus didukung kalangan milenial sebagai generasi muda .

Dedi menyampaikan, hingga 2024, pihaknya menarget mencetak 2,5 juta petani milenial. Sejak saat ini proses penumbuhan petani milenial itu terus dilakukan.

"Mendukung upaya pemerintah melakukan regenerasi petani sekaligus melahirkan pengusaha muda pertanian yang berdampak sosial dan ekonomi bagi masyarakat pertanian Indonesia," tegas Dedi.

Seperti halnya dilakukan mahasiswa PEPI yang mana kegiatan menanam padi merupakan hal yang umum dilakukan. Bedanya di PEPI sendiri mahasiswa dibidik menggunakan transplanter. Transplanter sendiri merupakan alat penanam bibit padi dengan jumlah, kedalaman, jarak dan kondisi penanaman yang dapat diseragamkan.

Direktur PEPI, Muharfiza berpesan pada era milenial ini, sistem informasi pertanian dan mekanisasi pertanian menjadi tools yang sangat strategis bagi institusi pendidikan khususnya dikalangan mahasiswa. 

"Mahasiswa kita sebagai generasi milenial tumbuh dengan perkembangan teknologi yang cepat, sehingga mereka cenderung memiliki pemahaman dan penguasaan yang baik dalam hal teknologi digital. Mereka dapat memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi [TIK] untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas dalam pertanian, seperti penggunaan aplikasi pertanian, sensor pintar, dan analisis data," jelas Muharfiza.

Artikel Lainnya

Tentang Kami

Kami Menyajikan informasi terkini dan terbaru seputar ekonomi, politik, hiburan , mancanegara, dan gaya hidup