26 Mei 2026
Kisah Nyata

Penyakit Terlangka di Dunia, Wanita Ini Mati 36 Kali Setahun

post-img
PENYAKIT LANGKA: Brautigam mengatakan bahwa dia telah menghubungi orang-orang dengan PoTS, namun tidak ada satu pun dari pengidapnya yang menderita seperti saya." (Foto2: MailOnline)

SEORANG wanita berusia 21 tahun memiliki pengalaman langka dengan kematian, dalam satu tahun dia dinyatakan meninggal dunia secara klinis hingga 36 kali.

Sara Brautigam namanya, empat tahun lalu diagnosa dokter menyatakan dia menderita penyakit Postural orthostatic Tachycardia Syndrome (PoTS), sebuah kondisi yang membuat jantungnya berdebar saat berdiri.

Dia mengalami palpitasi cepat yang secara rutin  mengakibatkan detak jantungnya berhenti berdenyut dan tekanan darahnya melorot drastis yang menurut catatan medis dinyatakan sebagai meninggal dunia secara klinis.

"Mereka tidak bisa memberi saya pernafasan buatan atau CPR karena tidak ada gunanya untuk mengembalikan detak jantung saya. Saat jantung terisi dengan darah lagi adalah saatnya jantung saya berdetak lagi."

"Darah cenderung menumpuk di kakiku dan perlu dibantu mengembalikannya ke jantung."

"Saya tidak bisa bernafas oksigen karena memperpanjang serangan jantung."

"Sebenarnya ini hanya kasus mati suri dan saya hanya bisa berdoa. Satu-satunya yang bisa mereka lakukan adalah membuat saya menangis setelah kesakitan,"tambahnya.

Brautigam, dari Doncaster, mengatakan setiap kali jantungnya berhenti, petugas medis harus menyakiti dirinya agar membuatnya terkejut sehingga dia kembali sadar.

Dia berkata: ´Ketika hal itu terjadi paramedis mencoba dan melakukan sesuatu untuk menimbulkan rasa sakit untuk mencoba dan mengejutkan saya agar hidup lagi."

"Kerapkali saya terbangun dari mati suri dengan luka lebam. Suatu ketika terpaksa mencabut kuku saya tapi tetap saja tidak saya tidak tersentak."

Brautigam mengatakan bahwa dia telah menghubungi orang-orang dengan PoTS, namun tidak ada satu pun dari pengidapnya yang menderita seperti saya."

Dia juga menderita sindrom hipermobilitas sendi yang berarti persendiannya lebih rentan terhadap cedera dan dislokasi.

Komplikasi penyakit tersebut membuatnya harus mengunjungi klinik  sebanyak 64 kali dalam satu tahun, katanya seperti dilansir MailOnline.

´Ketika saya masih berolahraga kano, saya mendapat serangan itu di atas kano dan ketika serangan datang, saya berteriak sebelum saya mengetahuinya karena bahu saya telah bergeser dan hal itu membuat punggung saya kesakitan sebelum pingsan.´

Dia mengaku: ´Ada tanda-tanda sebelum serangan itu terjadi - saya akan merasa pusing atau sakit dan benar-benar lelah dan kemudian saya merasa seolah tertidur. Saya dapat mendengar segala sesuatu di sekitar saya dan merasa seolah-olah saya sedang mencoba untuk berteriak tapi tidak ada suara yang keluar."

´Saya kehilangan banyak teman, sebenarnya saya hanya punya satu teman dari sekolah. Semua orang sepertinya terlalu sibuk dengan kehidupan mereka sendiri untuk mengganggu saya saat didiagnosa.´

Artikel Lainnya

Tentang Kami

Kami Menyajikan informasi terkini dan terbaru seputar ekonomi, politik, hiburan , mancanegara, dan gaya hidup