26 Mei 2026
Kisah Nyata

Wanita Ini 40 Tahun Hidup Sendiri di Pulau Terpencil

post-img
KESEPIAN: Dia mendirikan kamp di salah satu ujung pulau, bekas bangunan dari stasiun penyelamat yang ditinggalkan begitu berdiri. Persediaan diterbangkan setiap pekan untuk mendukung kelangsungan hidupnya (Foto2: MailOnline)

SEORANG wanita tinggal sendirian di sebuah pulau terpencil di lepas pantai Kanada layaknya kehidupan Robinson Crusoe.

Zoe Lucas, 67, lebih dari 40 tahun hidup sendirian di Pulau Sable, sebuah pulau berbentuk lebar berukuran panjang sekitar 26 mil.

Dia hidup di pulau hanya ditemani sekitar 400 ekor kuda, 300.000 anjing laut dan 350 spesies burung.

Berbicara dengan MailOnline Travel, Lucas, yang disanjung sebagai pencinta lingkungan sejati, mengaku bahwa dirinya mampu beradaptasi dengan kehidupan di pulau tersebut dan tidak pernah merasa kesepian.

Dia mengatakan fasilitas utama bagi dirinya adalah buku catatan, jadi dia bisa mencatat, dan teropong untuk mengamati satwa liar di tepi pantai.

Terkadang ada beberapa hal aneh yang dia lihat melalui lensa-nya, bagaimanapun, penampakan dengan kaki palsu menjadi salah satu hal paling aneh yang pernah muncul di pantai.

Ilmuwan warga dari Halifax ini pertama kali berkunjung ke Pulau Sable ketika masih remaja berusia 21 tahun pada 1971 saat mempelajari pantai emas.

"Saya mengumpat dan marah-marah, karena susah mengunjungi pulau ini. Awalnya saya datang ke sini untuk mengamati kuda-kudanya," kata Lucas.

Pulau Sable, yang hanya dapat diakses dengan perahu atau pesawat carter, merupakan rumah bagi ratusan kuda liar, yang sama sekali tidak terkelola.

Dia meyakini bahwa hewan-hewan tersebut tiba di pulau itu pada awal abad ke-18 untuk membantu pekerjaan pertanian ketika sebuah pemukiman dicoba dan kemudian kuda-kuda didatangkan untuk membantu para pekerja.

Pulau Sable - yang diselimuti kabut selama sekitar 125 hari dalam setahun - merupakan kawasan yang rawan bagi pelayaran.

Disebut sebagai tempat bagi lebih dari 300 bangkai kapal, membuatnya dijuluki sebagai ´kuburan Atlantik´. Salah satu kecelakaan terbaru adalah pada 1981.

Namun Lucas mengatakan bahwa lingkungan yang tidak bersahabat tidak menghalangi dia untuk kembali ke Pulau Sable dan menjadikannya sebagai tempat tinggal.

Dia mendirikan kamp di salah satu ujung pulau, bekas bangunan dari stasiun penyelamat yang ditinggalkan begitu berdiri. Persediaan diterbangkan setiap pekan untuk mendukung kelangsungan hidupnya.

Hari ini Lucas tinggal di sebuah rumah dari kayu yang terletak di sebuah kumpulan bukit pasir. Tempat tinggal sederhana yang dibangun saat pulau tersebut masuk Taman Nasional Kanada.

Pulau Sable dinyatakan sebagai Taman Nasional pada 20 Juni 2013, berkat negosiasi oleh mantan Menteri Lingkungan Kanada, Jim Prentice, yang tewas akibat kecelakaan pesawat.

Sepanjang tahun sebuah tim staf bergiliran datang ke pulau itu, yang merupakan peluang bagi dirinya untuk bersosialisasi.

Berbicara dengan staf taman nasional, jelas bahwa Lucas sangat dihormati.

Greg Stroud, seorang manajer perjalanan yang berpengalaman, mengatakan kepada MailOnline Travel: ´Zoe adalah wanita yang luar biasa dan telah mengabdikan hidupnya untuk Pulau Sable. Dia kembali ke markasnya di Halifax sesekali tapi ini adalah tempat tinggalnya yang sebenarnya.´

"Dia bekerja sama dengan Taman Nasional agar bisa berkolaborasi dalam proyek."

Stroud menyoroti bahwa kehidupan di pulau tersebut tidak terlalu melelahkan secara fisik, karena cuaca Pulau Sable relatif kondusif sepanjang tahun dengan suhu tahunan rata-rata 18,6 derajat Celsius.

Dia menambahkan: ´Zoe tergolong sosok yang pendiam sehingga tidak mengherankan bila dia mampu hidup sendirian di sini.´

Saat berkunjung ke Pulau Sable dengan perusahaan ekspedisi Adventure Canada, Lucas berbicara tentang beberapa karya ilmiah yang dia hasilkan. Sebagian besar karyanya didanai oleh donor dan oleh organisasi nirlaba, Friends of Sable Island Society.

Selama bertahun-tahun Lucas telah mengumpulkan tengkorak kuda, sehingga para ilmuwan dapat lebih memahami bagaimana mereka bisa menyesuaikan diri dengan lansekap yang menakjubkan.

Dia juga mendukung petugas stasiun cuaca dan melakukan pengumpulan sampah setiap hari yang mendukung informasi tentang tingkat polusi perairan.

Saat dikunjungi, Lucas mengeluarkan sekantong plastik pita raksasa. Dia mengungkapkan bahwa bangkai balon yang muncul biasanya bersih.

Potongan-potongan puing unik lainnya yang muncul termasuk kantong sampah obat-obatan terlarang, lemari es dan sedikit rasa cemas dari kontainer.

Meskipun Pulau Sable memiliki latar belakang yang sedikit menyeramkan, dengan cerita tentang bangkai kapal dan cerita hantu yang mengerikan, bagi Lucas, pulau berpasir tersebut adalah surga baginya, tanpa pohon palem.

"Dia akan tinggal di Sable selama dia bisa," kata Stroud.

Artikel Lainnya

Tentang Kami

Kami Menyajikan informasi terkini dan terbaru seputar ekonomi, politik, hiburan , mancanegara, dan gaya hidup