TRAVIS JEPPESEN, 36, adalah warga Amerika pertama yang kuliah di Korea Utara pada musim panas 2016 dan merinci bagaimana dia tinggal di sebuah hotel yang mewah namun kosong dan mengikuti perkuliahan di kampus dengan listrik terbatas dan saluran air yang buruk, seperti ditulis dalam bukunya berjudul See You Again in Pyongyang: A Journey Into Kim Jong Un´s North Korea.
Dia menceritakan bagaimana menyaksikan penduduk setempat melongo saat melihat anjing di kebun binatang, bagaimana dia bangun setiap pagi pukul 5 pagi untuk Kim Il Sung, dan terkejut melihat seorang wanita tua diseret polisi lantaran es krim.
Jeppesen mengatakan dia menderita masalah psikologis karena terus diawasi dan dipantau begitu pula dengan komputer dan teleponnya yang diduga disadap. Saat berada di depan umum, dia terus-menerus dikawal oleh dua pemandu wisata yang mengawasi setiap gerakannya.
´Secara psikologis, itu sangat sulit dan menegangkan. Itu memiliki semua efek samping yang aneh ini. Ada saat-saat ketika saya akhirnya sendirian dan tidak ada yang memperhatikan saya, namun itu terasa menyeramkan karena saya sangat terbiasa diawasi,´ katanya tentang kehidupan pribadinya yang dibatasi.
Setelah tamat kuliah dia mendapat sertifikat tanda kelulusan. Meskipun ingin kembali ke negara tertutup itu dia tidak dapat kembali ke Korea Utara karena AS telah memberlakukan larangan perjalanan mengingat hukuman penjara dan kematian siswa Amerika Otto Warmbier, yang dipenjara di Korea Utara setelah mencuri spanduk dari sebuah hotel pada 2016 seperti dilansir MailOnline.