07 November 2026
Pertanian

Magang Mandiri, UPT Kementan Dukung Pelaku Usaha Pelajari Kultur Jaringan

post-img
BBPP LEMBANG: Kabalai Lembang, Ahmad Dedy Syathori [insert, kanan atas] memastikan komitmen Kementan bagi peningkatan produksi bawang merah dari pelaku usaha asal Kuningan, Asep dan Nugroho dengan mengerahkan Widyaiswara, Sani Hanifah dan Chesara Novatiano, yang kompeten di bidang kultur jaringan serta didukung petugas laboratorium, untuk memahami teori dan praktik teknik kultur jaringan.

BANDUNG BARAT (Kepopedia) - Ketersediaan benih bermutu menjadi kunci sukses usaha tani bawang merah. Hal itu, mendorong Asep dan Nugroho, pelaku usaha asal Kabupaten Kuningan, Provinsi Jawa Barat (Jabar) mendalami ´teknik perbanyakan tanaman melalui kultur jaringan´ pada kegiatan Magang Mandiri di Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Lembang selama dua hari, 2 - 3 November 2026.

Kepala BBPP Lembang, Ahmad Dedy Syathori mengatakan kegiatan Magang Mandiri menjadi kesempatan bagi Asep dan Nugroho, untuk mempelajari teknologi perbanyakan tanaman secara in vitro. Mulai dari tahapan awal hingga menghasilkan planlet atau tanaman kecil hasil kultur jaringan. 

Pengetahuan tersebut diharapkan dapat diterapkan untuk mendukung pengembangan usaha bawang merah yang tengah mereka rintis, sejalan komitmen Kementerian Pertanian RI (Kementan) mendampingi dan mengawal petani meningkatkan produktivitas petani didampingi penyuluh.

Menteri Pertanian RI (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan pentingnya pemanfaatan teknologi dalam meningkatkan produktivitas pertanian dan mempercepat terwujudnya swasembada pangan. 

Sejalan dengan hal itu, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Kementan (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, mendorong penguatan kapasitas SDM pertanian termasuk pelaku usaha muda, agar mampu menjadi penggerak pertanian yang inovatif dan adaptif terhadap perkembangan teknologi.

BBPP Lembang
Kabalai Lembang, Ahmad Dedy Syathori mengatakan, selama dua hari kegiatan pelatihan, peserta mendapat pendampingan dari Widyaiswara BBPP Lembang, Sani Hanifah dan Chesara Novatiano.

"Keduanya memiliki kompetensi di bidang kultur jaringan serta didukung petugas laboratorium. Komoditas yang menjadi fokus pembelajaran adalah bawang merah," katanya.

Kabalai menambahkan, pembelajaran diawali dengan pengenalan konsep dasar kultur jaringan, persyaratan ruang laboratorium, serta peralatan dan bahan yang digunakan. 

Selanjutnya, ungkap Ahmad Dedy Syathori, peserta mengikuti praktik langsung melalui sejumlah tahapan perbanyakan tanaman. Mulai dari pemilihan tanaman induk atau eksplan, sterilisasi, inisiasi, multiplikasi, pengakaran hingga aklimatisasi.

Kultur Jaringan
Widyaiswara BBPP Lembang, Sani Hanifah mengatakan, pada tahap awal, peserta mempelajari pemilihan eksplan, yakni bagian tanaman yang digunakan sebagai sumber jaringan untuk perbanyakan.

"Eksplan kemudian disterilisasi agar terbebas dari kontaminasi sebelum ditanam pada media kultur yang telah disiapkan secara khusus," katanya.

Widyaiswara BBPP Lembang, Chesara Novatiano menambahkan, tahap berikutnya adalah multiplikasi, yakni proses memperbanyak jaringan tanaman hingga menghasilkan kalus atau tunas baru. 

"Tunas yang terbentuk kemudian dipindahkan ke media pengakaran untuk merangsang pertumbuhan akar," katanya.

Sani Hanifah dan Chesara Novatiano menambahkan, setelah berkembang, tanaman hasil kultur jaringan memasuki tahap aklimatisasi. Proses adaptasi secara bertahap dari kondisi laboratorium menuju lingkungan luar dengan pengaturan suhu, kelembapan dan intensitas cahaya.

Inkubator Agribisnis
Kabalai Lembang, Ahmad Dedy Syathori mengatakan, tidak hanya belajar di laboratorium, peserta juga diajak mengunjungi area Inkubator Agribisnis BBPP Lembang. 

Dalam kunjungan tersebut, mereka melihat penerapan teknologi pertanian melalui fasilitas Screen House Aeroponik serta kegiatan pengolahan pupuk kompos. 

Kunjungan tersebut memberikan gambaran mengenai peluang pengembangan usaha tani yang mengintegrasikan teknologi, efisiensi produksi dan prinsip pertanian berkelanjutan.

"Kultur jaringan merupakan teknik perbanyakan tanaman, dengan memanfaatkan bagian jaringan tanaman yang ditumbuhkan pada media buatan dalam kondisi steril dan terkendali," katanya. 

Teknik tersebut memungkinkan produksi bibit dalam jumlah besar, dengan sifat genetik yang relatif seragam dengan induknya, serta tidak membutuhkan lahan luas untuk proses perbanyakan.

Bawang Merah
Kabalai Lembang, Ahmad Dedy Syathori mengingatkan, bagi usaha bawang merah, penguasaan teknologi membuka peluang untuk mengembangkan ketersediaan benih bermutu secara lebih terencana.

"Dengan demikian, pelaku usaha tidak hanya mengandalkan pengetahuan budidaya di lahan, juga dapat memperkuat aspek penyediaan bahan tanam sebagai fondasi keberlanjutan usaha," katanya.

Melalui kegiatan magang, ungkap Ahmad Dedy Syathori, BBPP Lembang terus memperkuat perannya sebagai pusat pembelajaran dan pengembangan kompetensi pertanian yang terbuka bagi masyarakat dan pelaku usaha.

Transfer pengetahuan melalui praktik langsung diharapkan mampu mendorong lahirnya pelaku usaha pertanian yang terampil, mandiri, dan adaptif terhadap teknologi sekaligus meningkatkan daya saing usaha bawang merah di daerah. 

Testimoni Magang
Bagi pelaku usaha, Asep dan Nugroho, pengalaman praktik tersebut menjadi bekal penting untuk memulai pengembangan teknologi kultur jaringan secara mandiri. 

Keduanya mengaku memperoleh pengetahuan baru yang dapat menjadi dasar penerapan teknik perbanyakan benih dalam usaha bawang merah.

“Kami sudah praktik membuat kultur jaringan mulai dari tahapan inisiasi sampai subkultur dan membuat planlet," kata Asep. 

Nugroho mengaku, ilmu yang keduanya dapatkan sangat bermanfaat karena keduanya ingin memulai dari nol.

"Harapannya, kami dapat menerapkan sistem kultur jaringan pada usaha tani bawang merah yang sedang kami geluti,” ungkap Nugroho. [dary/chetty/afriski/timhumas bbpplembang]

 

 

 

Artikel Lainnya

Tentang Kami

Kami Menyajikan informasi terkini dan terbaru seputar ekonomi, politik, hiburan , mancanegara, dan gaya hidup