16 Oktober 2026
Pertanian

Pendampingan Petani, UPT Kementan Kawal Pangandaran Siapkan Percepatan Metode PM-AAS

post-img
BBPP LEMBANG: Kepala BBPP Lembang, Ahmad Dedy Syathori mengatakan `Rakor Program Strategis Kementan` momentum untuk menyelaraskan langkah, memperkuat pendampingan kepada petani, untuk mempercepat implementasi metode PM-AAS guna mendukung peningkatan produksi pangan di tengah tantangan musim kemarau, yang dikawal bersama agar mampu mendorong peningkatan produksi pangan nasional.

PANGANDARAN (Kepopedia) - Kementerian Pertanian RI (Kementan) memperkuat koordinasi dengan penyuluh pertanian untuk mempercepat implementasi metode Pertanian Modern Advanced Agricultural System (PM-AAS) di Kabupaten Pangandaran, Provinsi Jawa Barat (Jabar).

Kepala BBPP Lembang, Ahmad Dedy Syathori mengatakan langkah tersebut ditempuh Kementan melalui ´Rapat Koordinasi Program Strategis Kementan´ berlangsung di Pawon Anglo, Kabupaten Pangandaran, Rabu (14/10).

Kegiatan tersebut sejalan arahan Menteri Pertanian RI (Mentan) Andi Amran Sulaiman bahwa implementasi PM-AAS perlu dikawal bersama agar mampu mendorong peningkatan produksi pangan nasional. 

"Sinergi pemerintah dan penyuluh menjadi faktor penting dalam mempercepat penerapan teknologi pertanian sekaligus meningkatkan kapasitas SDM pertanian," katanya.

Mentan Amran mengingatkan, penyuluh berperan penting mempercepat pencapaian swasembada pangan. Pemerintah pusat dan penyuluh harus bersinergi melalui adopsi teknologi dan peningkatan kapasitas SDM pertanian.

Hal senada dikemukakan Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Kementan (BPPSDMP) Kementan, Idha Widi Arsanti tentang pentingnya peran penyuluh memastikan program pembangunan pertanian berjalan efektif di tingkat petani.

“Keberhasilan implementasi PM-AAS sangat ditentukan oleh kapasitas penyuluh mendampingi petani,” katanya.

BBPP Lembang
Kepala BBPP Lembang, Ahmad Dedy Syathori mengatakan kegiatan ´Rapat Koordinasi Program Strategis Kementan´ menjadi momentum untuk menyelaraskan langkah, memperkuat pendampingan kepada petani.

"Identifikasi potensi maupun kendala di lapangan, untuk mendukung peningkatan produksi pangan di tengah tantangan musim kemarau," katanya.

Rapat koordinasi dihadiri perwakilan Dinas Pertanian Kabupaten Pangandaran, Koordinator Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) dan 46 penyuluh se-Kabupaten Pangandaran.

Ahmad Dedy Syathori menambahkan, pendampingan penyuluh diperlukan untuk memastikan setiap tahapan penerapan PM-AAS berjalan sesuai kondisi wilayah.

"Mulai dari persiapan lahan, pengaturan pola tanam, pemanfaatan teknologi hingga penerapan budidaya yang mendukung peningkatan produktivitas," katanya lagi.

Capaian LTT
Dalam kesempatan tersebut, Ahmad Dedy Syathori apresiasi kinerja penyuluh Kabupaten Pangandaran, khususnya capaian Luas Tambah Tanam (LTT) menunjukkan tren positif. 

"Untuk menjaga momentum tersebut, BBPP Lembang siap mendukung peningkatan kompetensi penyuluh melalui bimbingan teknis dan pelatihan," katanya.

Dia mengajak seluruh pihak untuk mengidentifikasi dan menyelesaikan berbagai kendala di wilayah kerja masing-masing melalui koordinasi dan kerja sama. Dengan demikian, percepatan program dapat dilakukan secara terarah sesuai kebutuhan lapangan.

Sementara itu, Kepala Bidang Penyuluhan Dinas Pertanian Kabupaten Pangandaran, Ridwan Darmawan mewakili kepala dinas, menyampaikan bahwa penanaman pada areal yang lebih luas dijadwalkan berlangsung pada Oktober, dengan mempertimbangkan perkembangan kondisi musim kemarau.

"Kabupaten Pangandaran mendapat target penerapan PM-AAS seluas 246 hektare yang tersebar di sejumlah kecamatan. Pelaksanaannya masih terus berproses untuk memenuhi target yang telah ditetapkan," katanya.

Pendataan CPCL
Ahmad Dedy Syathori apresiasi Pangandaran yang mencatat capaian positif pendataan Calon Petani dan Calon Lokasi (CPCL) sebagai kabupaten tercepat kedua pendataan CPCL penerima benih dan tercepat pertama pendataan CPCL penerima pupuk di Jabar. 

"Capaian tersebut menjadi modal penting untuk mendukung kesiapan pelaksanaan program di lapangan," katanya.

Secara nasional, ungkapnya lagi, Kementan menargetkan penerapan PM-AAS seluas 1 juta hektare pada 2026 dan memperluasnya menjadi 3 juta hektare pada 2027. 

"Sistem ini dirancang untuk meningkatkan produktivitas padi dari rata-rata lima hingga enam ton menjadi minimal 10 ton per hektar melalui penerapan teknologi dan pengelolaan budi daya yang lebih efisien," katanya.

Prinsip PM-AAS
Pelaksanaan PM-AAS bertumpu pada sejumlah prinsip, yakni penanaman rapat dalam barisan, efisiensi penggunaan sumber daya, mekanisasi pertanian, penerapan berbasis korporasi dalam skala luas, intensifikasi produksi dan penyesuaian teknologi dengan kondisi spesifik lokasi. 

Ahmad Dedy Syathori mengatakan, penerapan prinsip-prinsip tersebut diharapkan mampu mengoptimalkan potensi lahan sekaligus meningkatkan efisiensi usaha tani.

"Selain komoditas padi, PM-AAS juga menyasar pengembangan komoditas ketan dengan target penerapan seluas 100 ribu hektare secara nasional," katanya.

Melalui koordinasi dan penguatan kapasitas penyuluh, Kementan berharap pelaksanaan PM-AAS di Pangandaran berjalan semakin optimal. 

"Kolaborasi antara pemerintah, penyuluh dan petani menjadi kunci untuk mengatasi kendala di lapangan, meningkatkan produktivitas, dan memperkuat upaya mewujudkan swasembada pangan," kata Ahmad Dedy Syathori. [dary/chetty/afriski/timhumas bbpplembang]

 

 

 

Artikel Lainnya

Tentang Kami

Kami Menyajikan informasi terkini dan terbaru seputar ekonomi, politik, hiburan , mancanegara, dan gaya hidup