09 Oktober 2026
Pertanian

Gertam PM-AAS Muaro Jambi, Polbangtan Kementan Gunakan Drone Seeder di Jambi

post-img
POLBANGTAN BOGOR: Direktur Yoyon Haryanto mendampingi Kepala BPPSDMP Kementan, Idha Widi Arsanti pada Gertam Serempak metode PM-AAS di Kabupaten Muaro Jambi, yang memperlihatkan sebuah Drone Seeder diterbangkan di atas lahan untuk menebarkan benih padi secara langsung, yang diusung Polbangtan Bogor pada Gertam di Provinsi Jambi.

MUARO JAMBI (Kepopedia) - Gerakan Tanam (Gertam) Serentak metode Pertanian Modern - Advanced Agricultural System (PM-AAS) digelar oleh Kementerian Pertanian RI (Kementan) di Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi pada Kamis (8/9) dihadiri Kepala BPPSDMP Kementan, Idha Widi Arsanti didampingi Direktur Polbangtan Bogor, Yoyon Haryanto beserta jajaran terkait di Muaro Jambi.

Yoyon Haryanto mengatakan, sebuah drone seeder diterbangkan di atas lahan untuk menebarkan benih padi secara langsung. Teknologi menjadi bagian dari penerapan PM-AAS yang diusung Polbangtan Bogor pada Gertam di Muaro Jambi tersebut.

Menteri Pertanian RI (Mentan) Andi Amran Sulaiman pada berbagai kesempatan menekankan pentingnya modernisasi pertanian dan penggunaan teknologi untuk meningkatkan produktivitas serta efisiensi. 

“Produksi bisa naik dua kali lipat. Metode tanam PM-AAS merupakan kombinasi metode Amerika dan Indonesia serta China. Itu kami teliti langsung. Produksinya bisa 12 ton, katakanlah minimal 10 ton per hektar,” katanya.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Kementan (BPPSDMP) Idha Widi Arsanti menjelaskan sisi pengembangan sumber daya manusia (SDM) dan tentang pentingnya menyiapkan SDM pertanian yang mampu mengoperasikan teknologi pertanian.

“Yang kita bangun bukan hanya percepatan tanam, juga budaya inovasi. Penyuluh menjadi ujung tombak transformasi pertanian dengan menghadirkan solusi yang adaptif sesuai kondisi wilayah,” katanya.

Polbangtan Bogor
Direktur Polbangtan Bogor, Yoyon Haryanto mengatakan, ada satu hal yang sedang berubah pada cara menanam padi; semakin banyak pekerjaan di lahan yang mulai bisa dilakukan dengan bantuan teknologi. 

"Bukan lagi sekadar bagaimana menanam padi, melainkan bagaimana menanam lebih cepat, lebih presisi, lebih efisien, dan menghasilkan lebih banyak," katanya. 

Pertanyaan tersebut menjadi salah satu dasar penerapan metode PM-AAS, pendekatan budidaya padi yang memadukan teknik budidaya dengan mekanisasi dan teknologi. 

"Sistem ini dirancang, untuk mengubah proses produksi padi yang selama ini banyak bergantung pada cara konvensional menjadi lebih terukur dan efisien," ungkap Yoyon Haryanto.

Cara Baru
Yoyon Haryanto mengingatkan, PM-AAS tidak sesederhana mengganti pekerjaan manusia dengan mesin. Traktor dan rotary membantu pengolahan tanah, drone dapat digunakan untuk pemupukan dan pengendalian organisme pengganggu tanaman, sedangkan combine harvester mengambil alih sebagian besar pekerjaan saat panen. 

"PM-AAS bukan tentang satu teknologi melainkan cara baru untuk mengelola seluruh proses produksi padi. Targetnya pun bukan sekadar mempercepat pekerjaan, namun diarahkan untuk meningkatkan produktivitas dari kisaran 5 hingga 6 ton per hektar menjadi 10 hingga 13 ton per hektar," katanya.

Menurut Yoyon Haryanto, keterlibatan Polbangtan Bogor membawa dimensi yang berbeda. Sebagai institusi pendidikan vokasi bidang pertanian, kampus tidak hanya menjadi tempat mempelajari teori, juga bagian dari ekosistem yang menyiapkan SDM untuk menghadapi perubahan teknologi di sektor pertanian. 

“Inilah yang akan mempercepat terwujudnya swasembada pangan sekaligus mendorong pertanian Indonesia menjadi lebih modern, efisien dan berkelanjutan,” katanya.

Drone mungkin hanya membutuhkan beberapa menit untuk menebarkan benih dari udara, sementara perubahan yang dibawanya jauh lebih panjang terkait efisiensi, produktivitas, keterampilan baru, dan bagaimana generasi berikutnya akan memandang profesi pertanian.

"Hari ini, sebuah drone menebarkan benih di Muaro Jambi. Besok, mungkin teknologi akan membawa lebih banyak hal ke sawah," ungkap Yoyon Haryanto.

Pertanyaannya, bukan lagi apakah pertanian akan menjadi modern. Pertanyaannya adalah seberapa siap kita menyambutnya? [agm/wisda/timhumas polbangtanbogor]

 

 

 

 

Artikel Lainnya

Tentang Kami

Kami Menyajikan informasi terkini dan terbaru seputar ekonomi, politik, hiburan , mancanegara, dan gaya hidup