BOGOR (Kepopedia) - Bagaimana minyak sawit dan bahkan minyak jelantah dapat diolah menjadi bahan bakar minyak (BBM) bagi kendaraan bermotor?
Rasa ingin tahu tersebut mendorong Ketua Komisi B DPRD Kabupaten Batang Hari, Jambi bersama Tim Balai Besar Pustaka (BB Pustaka) mengunjungi Balai Riset dan Modernisasi Pertanian Tanaman Industri (BRMP TRI) di Bogor, Jawa Barat (Jabar) pada Jumat (3/7).
Kepala BB Pustaka, Eko Nugroho Dharmo Putro mengatakan kunjungan tersebut untuk melihat langsung proses pembuatan biodiesel B50, salah satu inovasi yang diproyeksikan menjadi bagian penting mewujudkan ketahanan energi nasional.
Kunjungan tersebut sebagai tindak lanjut arahan Menteri Pertanian RI (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengenai pentingnya percepatan pengembangan energi baru dan terbarukan berbasis komoditas pertanian.
"Pemanfaatan biodiesel menjadi salah satu langkah strategis mendukung ketahanan energi nasional," katanya.
Program pengembangan biodiesel, termasuk B50, diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah hasil pertanian, khususnya minyak sawit, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil dan mendukung target penurunan emisi karbon.
Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Kementan (BPPSDMP) Idha Widi Arsanti menekankan bahwa implementasi B50, campuran 50% biodiesel sawit dan 50% solar, harus beriringan dengan penguatan sektor hulu.
BB Pustaka
Sejalan dengan arahan tersebut, tim Balai Besar Pustaka (BB Pustaka) mendampingi Ketua Komisi B DPRD Kabupaten Batang Hari, Syuqron, beserta anggota Komisi B melakukan kunjungan ke BRMP TRI, untuk melihat langsung proses pengolahan biodiesel berbasis bahan baku nabati.
Rombongan disambut oleh Kepala BRMP TRI, Evi Savitri Iriani, yang antusias menjelaskan proses produksi bahan bakar minyak (BBM) berbasis bahan baku nabati.
"Bahan bakar alternatif tersebut dapat diproduksi dari berbagai sumber, seperti Crude Palm Oil (CPO), minyak jelantah, serta minyak nabati lainnya melalui proses pengolahan yang telah dikembangkan oleh BRMP TRI," katanya.
Dari proses tersebut dihasilkan beberapa jenis bahan bakar biodiesel, yaitu B100, B75, B50, dan B25. Perbedaan masing-masing terletak pada persentase kandungan biodiesel yang dicampurkan dengan solar.
"B100 merupakan bahan bakar yang mengandung 100% biodiesel tanpa campuran solar berbasis fosil. B75 terdiri atas 75% biodiesel dan 25% solar. B50 merupakan campuran 50% biodiesel dan 50% solar. B25 mengandung 25% biodiesel dan 75% solar", jelas Evi Savitri Iriani.
Minyak Nabati
Evi menambahkan bahwa pengembangan biodiesel berbasis minyak nabati merupakan salah satu inovasi strategis yang mendukung ketahanan energi nasional.
Selain mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil, teknologi ini juga mampu meningkatkan nilai tambah komoditas pertanian, memanfaatkan limbah seperti minyak jelantah, serta berkontribusi dalam upaya pengurangan emisi gas rumah kaca, tambahnya.
Sementara, Ketua Komisi B DPRD Kabupaten Batang Hari, Syuqron beserta anggota Komisi B tampak antusias mendengarkan penjelasan Evi dan berdiskusi mengenai peluang pengembangan biodiesel di Kabupaten Batang Hari.
Rombongan juga meninjau langsung fasilitas pengolahan biodiesel untuk melihat setiap tahapan proses produksi, mulai dari pengolahan bahan baku hingga menjadi bahan bakar siap pakai.
Melalui kunjungan ini diharapkan terjalin sinergi antara lembaga penelitian, pemerintah daerah, dan legislatif dalam mendorong hilirisasi komoditas pertanian, pengembangan energi terbarukan, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui pemanfaatan sumber daya lokal yang berkelanjutan.
Melalui kegiatan ini, BB Pustaka turut berperan sebagai fasilitator dalam penyebarluasan informasi dan inovasi hasil riset kepada para pemangku kepentingan, sehingga hasil penelitian dapat dimanfaatkan secara lebih luas untuk mendukung pembangunan pertanian berkelanjutan dan berdaya saing. [ibrahim/shinta/timhumas bbpustaka]