26 Mei 2026
Pertanian

Ekspor Pupuk ke Australia, PM Australia Apresiasi Presiden Prabowo via Telepon

post-img
BBPKH CINAGARA: Presiden RI Prabowo Subianto menerima telepon dari PM Australia, Anthony Albanese untuk menyampaikan terima kasih atas persetujuan ekspor pupuk urea dari Indonesia ke Australia, dengan ekspor perdana mencapai 47.250 ton.

JAKARTA (Kepopedia) - Menteri Pertanian RI (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengungkapkan, Perdana Menteri (PM) Australia, Anthony Albanese sempat menelepon Presiden RI Prabowo Subianto untuk menyampaikan terima kasih atas persetujuan ekspor pupuk urea dari Indonesia ke Australia.

Hal tersebut disampaikan Mentan Amran Sulaiman saat melepas ekspor perdana pupuk urea ke Australia di Dermaga BSL PT Pupuk Kalimantan Timur, Bontang, Kamis (14/5/2026). 

"Ekspor tersebut menjadi bagian dari kerja sama Government-to-Government atau G2G antara Indonesia dan Australia dalam memperkuat ketahanan pangan kawasan Asia-Pasifik," katanya.

Menurut Amran, komunikasi langsung antara PM Australia dan Presiden Prabowo menunjukkan posisi Indonesia kini semakin diperhitungkan dalam rantai pasok pangan global, khususnya sektor pupuk.

“PM Australia menelepon Bapak Presiden Prabowo mengucapkan terima kasih karena Indonesia menyetujui ekspor pupuk ke Australia,” katanya lagi.

Ekspor Perdana

Mentan mengatakan ekspor perdana yang dilepas mencapai 47.250 ton dan menjadi tahap awal dari komitmen kerja sama sebesar 250.000 ton. 

Ke depan, volume ekspor tersebut ditargetkan meningkat hingga 500.000 ton dengan nilai mencapai sekitar Rp7 triliun. 

"Ini mencetak sejarah, karena kita akan mengekspor pupuk ke beberapa negara termasuk Australia," ungkap Mentan pada awak media.

Rencana kita mengekspor ke Australia, ungkap Amran, sesuai pembicaraan PM Australia dan Bapak Presiden yaitu 250.000 ton, kemudian akan ditingkatkan menjadi 500.000 ton.

"Total nilainya kurang lebih Rp7 triliun,” kata Mentan Amran Sulaiman.

Diplomasi Pangan

Dia menegaskan komitmen pemerintah tetap mengutamakan kebutuhan pupuk petani di dalam negeri. Sementara, ekspor dilakukan karena produksi nasional dalam kondisi surplus sehingga kebutuhan domestik tetap aman.

Indonesia saat ini memiliki kapasitas produksi urea yang cukup kuat untuk memenuhi kebutuhan nasional sekaligus mendukung pasar ekspor. 

Tahun ini, produksi urea nasional ditargetkan mencapai 7,8 juta ton, sementara kebutuhan domestik sekitar 6,3 juta ton sehingga masih terdapat surplus sekitar 1,5 juta ton. 

Pengiriman urea ke Australia bukan sekadar aktivitas perdagangan, tetapi bagian dari diplomasi pangan Indonesia di tengah tantangan global. [yudi/timhumas bbpkhcinagara]

 

 

 

 

 

Artikel Lainnya

Tentang Kami

Kami Menyajikan informasi terkini dan terbaru seputar ekonomi, politik, hiburan , mancanegara, dan gaya hidup