24 Mei 2026
Pertanian

Jaga Produksi Pangan, Kementan Perkuat Kendali Hama Tikus

post-img
BB PUSTAKA: Kepala BB Pustaka, Eko Nugroho DP mengatakan MSPP Volume 15 mengangkat tema `Pengendalian Hama Tikus pada Tanaman Padi dan Jagung` yang merupakan kolaborasi bersama dengan Bincang Cerdas Literasi (BCL).

JAKARTA (Kepopedia) - Ancaman ledakan hama tikus yang berpotensi menurunkan produktivitas padi dan jagung mendapat perhatian serius dari Kementerian Pertanian RI (Kementan). Balai Besar Perpustakaan dan Literasi Pertanian (BB Pustaka) mengelar kegiatan ´Mentan Sapa Petani dan Penyuluh (MSPP) Volume 15 pada Jumat (22/5)

Kepala BB Pustaka, Eko Nugroho Dharmo Putro mengatakan MSPP tersebut mengangkat tema ´Pengendalian Hama Tikus pada Tanaman Padi dan Jagung´ yang merupakan kolaborasi bersama dengan Bincang Cerdas Literasi (BCL). 

Menteri Pertanian RI (Mentan) Andi Amran Sulaiman mendorong perguruan tinggi semakin agresif mengembangkan riset yang aplikatif dan berorientasi bisnis. Dunia kampus harus menjadi pusat lahirnya inovasi yang mampu menjawab persoalan nyata di lapangan sekaligus menciptakan nilai ekonomi.

"Masalah dunia pupuk, racun tikus, saya teliti lumayan dapat membantu para petani,” katanya.

Dia mencontohkan pengalamannya meneliti produk pengendalian hama hingga belasan tahun sebelum akhirnya berhasil dikomersialisasikan.

Sementara Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti menyampaikan bahwa pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) menjadi langkah strategis dalam mendukung tercapainya swasembada pangan nasional. 

"Sebagai komoditas pangan utama masyarakat, produksi padi perlu dijaga baik dari sisi kualitas maupun kuantitas agar tetap optimal.

BB Pustaka

Kepala BB Pustaka, Eko Nugroho Dharmo Putro mengatakan, kegiatan tersebut menjadi upaya memperkuat kewaspadaan dan pengetahuan petani menghadapi serangan hama tikus di lapangan.

Eko Nugroho DP yang juga Plt Kepala Pusat Penyuluhan Pertanian (Pusluhtan) menyampaikan, hama tikus menjadi salah satu ancaman utama bagi tanaman pangan karena mampu menyerang tanpa dipengaruhi kondisi iklim dan cuaca. 

Menurutnya, strategi pengendalian perlu terus diperbarui agar produktivitas padi dan jagung tetap terjaga.

“Momentum ini menjadi kesempatan bagi para penyuluh untuk memperoleh informasi terbaru mengenai penanganan hama tikus dari para narasumber yang kompeten,” katanya.

Masalah Klasik

Peneliti Ahli Muda, Rahmini menjelaskan bahwa tikus merupakan masalah klasik sekaligus ancaman serius bagi tanaman pangan. 

Tikus sawah menjadi jenis yang paling dominan menyerang tanaman padi dan jagung, karena memiliki mobilitas tinggi dari area sawah menuju lahan jagung, untuk memakan bulir tanaman potensi menimbulkan kerugian besar bagi petani.

"Tikus memiliki kemampuan reproduksi sangat cepat. Dalam satu musim tanam, seekor tikus dapat melahirkan hingga tiga kali, terutama pada fase padi bunting, bermalai, hingga masak," katanya.

Kondisi tersebut, ungkap Rahmini, menyebabkan populasi tikus meningkat sangat cepat apabila tidak dilakukan pengendalian sejak dini.

Selain itu, peserta juga diberikan pemahaman mengenai habitat tikus yang umumnya berada di pematang sawah, tanggul irigasi maupun jalan sawah. 

Lubang tikus aktif biasanya ditandai gundukan tanah baru yang masih lembut, mulut lubang berukuran sekitar 6–8 cm, serta adanya jejak tapak atau goresan kasar di sekitar area tersebut.

Pengendalian Hama

Rahmini menekankan pentingnya pengendalian hama terpadu (PHT) sebagai strategi utama menghadapi serangan tikus. 

Beberapa langkah yang dianjurkan antara lain tanam serempak, panen serempak, sanitasi habitat, gropyokan massal, pemasangan trap barrier system, fumigasi, penggunaan rodentisida hingga konservasi musuh alami.

“Pengendalian individu adalah usaha yang sia-sia. Koordinasi antarpetani dalam satu hamparan menjadi senjata paling efektif melawan tikus sawah,” katanya lagi.

Narasumber MSPP yang merupakan POPT Ahli Madya, Suparni menyampaikan bahwa pengendalian organisme pengganggu tumbuhan (OPT) tikus harus dilakukan melalui tahapan pengamatan, analisis agroekosistem, pengambilan keputusan, hingga tindakan pengendalian yang tepat dan berkelanjutan.

Dia menegaskan pentingnya memahami biologi dan ekologi tikus, mulai dari jalur pergerakan, sumber populasi, perilaku makan, hingga tanda-tanda keberadaannya di lapangan. 

"Pengelolaan hama tikus harus dilakukan secara dini, intensif, serempak, dan berkelanjutan dengan memanfaatkan teknologi yang tepat," kata Suparni.

Burung Hantu

Dalam kesempatan tersebut, dia memaparkan sejumlah program Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan tahun 2026, di antaranya gerakan pengendalian OPT serelia seluas 3.000 hektare di 20 provinsi, penerapan pengelolaan hama terpadu padi seluas 2.000 hektare di 25 provinsi, serta pembangunan rumah burung hantu (rubuha) di 12 provinsi.

Suparni mencontohkan keberhasilan pemasangan rubuha pada kelompok tani di Bekasi sejak tahun 2020. Setelah dua tahun, rumah burung hantu berhasil dihuni dan berkembang biak, sehingga membantu menekan populasi tikus secara alami dan berkelanjutan.

Sebanyak 6.500 peserta dari berbagai daerah di Indonesia mengikuti edukasi pengendalian terpadu yang digelar secara daring melalui zoom dan YouTube.

Melalui kegiatan tersebut diharapkan para penyuluh dan petani dapat meningkatkan pemahaman serta menerapkan strategi pengendalian hama tikus secara lebih efektif demi menjaga produktivitas tanaman pangan nasional. [timhumas bbpustaka]

 

 

 

 

Artikel Lainnya

Tentang Kami

Kami Menyajikan informasi terkini dan terbaru seputar ekonomi, politik, hiburan , mancanegara, dan gaya hidup