GOWA (Kepopedia) - Sebagai bentuk komitmen dalam meningkatkan kualitas dan profesionalisme penyuluh pertanian, Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Batangkaluku menggelar kegiatan Sertifikasi Kompetensi bagi 40 penyuluh pertanian. Kegiatan ini berlangsung selama tiga hari, mulai 21 hingga 23 April 2026.
Kepala BBPP Batangkaluku, Jamaluddin Al Afgani mengatakan Sertifikasi Kompetensi merupakan langkah strategis untuk memastikan penyuluh pertanian memiliki standar kemampuan yang terukur dan relevan dengan kebutuhan pembangunan pertanian modern.
Menteri Pertanian RI (Mentan) Andi Amran Sulaiman, menegaskan bahwa peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) pertanian menjadi kunci dalam mewujudkan kedaulatan pangan nasional.
“SDM yang berkualitas adalah penggerak utama dalam mencapai kedaulatan pangan. Oleh karena itu, sertifikasi kompetensi menjadi kunci keberhasilan para pelaku sektor pertanian,” ujar Amran.
Senada, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, menekankan pentingnya akselerasi pengembangan SDM dalam mendukung agenda nasional.
“Akselerasi pengembangan SDM pertanian sangat diperlukan untuk memastikan kesiapan dalam mendukung swasembada pangan nasional dan pencapaian Asta Cita Presiden dan Wakil Presiden RI,” ujarnya.
BBPP Batangkaluku
Peserta sertifikasi berasal dari sejumlah kabupaten di Provinsi Sulawesi Selatan dan diuji oleh asesor dari Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Pertanian. Sertifikasi ini mengacu pada jenjang kompetensi Supervisor Pertama.
Kegiatan dibuka oleh Kepala Pusat Pelatihan BPPSDMP yang diwakili oleh Ketua Kelompok Substansi Sertifikasi Profesi dan Akreditasi Pertanian, Eka Heri Suparman.
Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa sertifikasi bukan sekadar formalitas, tetapi merupakan bentuk pengakuan kompetensi yang harus dapat dipertanggungjawabkan.
“Predikat kompeten tidak hanya diucapkan, tetapi harus dibuktikan melalui kinerja nyata di lapangan,” ujarnya.
Ia juga menyoroti tantangan global, termasuk perubahan iklim dan dinamika geopolitik yang berdampak pada penurunan produksi pangan dunia.
Kondisi ini menuntut Indonesia untuk memperkuat sektor pertanian melalui peningkatan produksi dan produktivitas secara berkelanjutan.
“Upaya peningkatan produksi harus diiringi dengan penerapan prinsip efisiensi dan konservasi lingkungan. Peran penyuluh dalam hal ini sudah berjalan baik dan perlu terus diperkuat,” tambahnya.
Melalui kegiatan ini, diharapkan para penyuluh pertanian semakin percaya diri, profesional, dan mampu menjalankan peran strategisnya dalam mendampingi petani, sehingga berdampak pada peningkatan produktivitas serta kesejahteraan petani di Indonesia. [fauzan/ilham/timhumas bbppbatangkaluku]