BANDUNG BARAT (Kepopedia) - Komitmen Kementerian Pertanian RI (Kementan) dalam mempercepat regenerasi petani terus diperkuat melalui sejumlah program strategis, salah satunya melalui Praktik Kerja Lapangan (PKL) terintegrasi penguatan Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya (P4S).
Pertanian
Regenerasi berbasis PKL & P4S, Kementan Perkuat Lahirnya Petani Muda Unggul
- Kamis, 02 April 2026 20:33 WIB
BBPP LEMBANG: Kepala BBPP Lembang, Ajat Jatnika mengatakan integrasi PKL dengan P4S memberikan nilai tambah signifikan bagi peserta didik. Tidak hanya membekali siswa dengan keterampilan teknis, juga membuka wawasan kewirausahaan melalui jejaring P4S.
Kepala BBPP Lembang, Ajat Jatnika mengatakan Kementan melalui Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Lembang, membuka ruang pembelajaran praktik bagi siswa-siswi sekolah vokasi pertanian sekaligus mengenalkan ekosistem pelatihan berbasis P4S.
Menteri Pertanian RI (Mentan) Andi Amran Sulaiman dalam berbagai kesempatan menegaskan bahwa generasi muda memiliki peran penting dalam transformasi sektor pertanian nasional.
“Dengan karakter yang kuat, jujur, disiplin, dan pekerja keras, pemuda Indonesia dapat menjadi garda terdepan untuk mewujudkan swasembada pangan dan menjadikan Indonesia lumbung pangan dunia,” katanya.
Senada hal itu, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Kementan (BPPSDMP) Idha Widi Arsanti menekankan bahwa keberadaan P4S menjadi salah satu pilar penting mendukung regenerasi petani.
“P4S memiliki peran strategis sebagai pusat pembelajaran berbasis praktik yang langsung dikelola oleh petani. Ini menjadi jembatan penting bagi generasi muda untuk belajar sekaligus terjun langsung ke dunia usaha pertanian,” katanya.
BBPP Lembang
Kepala BBPP Lembang, Ajat Jatnika mengatakan Program PKL tidak hanya memberikan pengalaman teknis budidaya, juga memperkenalkan model pembelajaran partisipatif yang selama ini dikembangkan di P4S.
"Petani maju berperan sebagai mentor bagi generasi muda. Dengan pendekatan ini, proses transfer pengetahuan menjadi lebih aplikatif, kontekstual dan sesuai kebutuhan lapangan," katanya pada Selasa (31/3).
Ajat Jatnika menambahkan, integrasi PKL dengan P4S memberikan nilai tambah signifikan bagi peserta didik. Tidak hanya membekali siswa dengan keterampilan teknis, juga membuka wawasan kewirausahaan melalui jejaring P4S.
"Ini penting agar mereka tidak hanya siap kerja, juga siap menjadi pelaku usaha pertanian,” ungkapnya.
Salah satu implementasi nyata terlihat dari kegiatan PKL yang diikuti siswa SMKN 2 Cilaku Cianjur. Selama tiga bulan, mereka mendapat pembelajaran langsung dari widyaiswara serta praktik lapangan sejalan pola pelatihan di P4S. Mulai budidaya hingga pengelolaan agribisnis.
Paris Ambar Rosyadi bersama rekannya Moch Fazrin Algipari dan Rizal Gunawan mendalami budidaya selada keriting. Sementara Heri Hermawan dan Dzikran Maulana fokus pada budidaya melon di screen house hidroponik otomatis.
"Selain itu, mereka juga dikenalkan konsep agripreneurship yang menjadi ciri khas pembelajaran di P4S," ungkap Ajat Jatnika.
Presentasi Pembelajaran
Sebagai bagian dari evaluasi, para peserta presentasi hasil pembelajaran mereka di hadapan widyaiswara dan peserta lainnya.
Kegiatan tersebut sekaligus melatih kepercayaan diri dan kemampuan komunikasi, yang juga menjadi kompetensi penting dalam pengembangan SDM pertanian modern.
Paris mengungkapkan bahwa pengalaman PKL yang terintegrasi dengan pendekatan P4S memberikan pemahaman yang lebih menyeluruh.
“Kami tidak hanya belajar budidaya, juga bagaimana mengelola usaha pertanian. Ini sangat bermanfaat untuk masa depan kami,” ujarnya.
Melalui sinergi antara PKL dan P4S, Kementan optimistis dapat mempercepat lahirnya generasi petani muda yang adaptif, inovatif, dan berdaya saing, sekaligus memperkuat fondasi menuju swasembada pangan berkelanjutan. [chetty/afriski/timhumas bbpplembang]