31 Mei 2026
Pertanian

Tingkatkan Produksi, Kementan Dorong Penyuluh Manfaatkan Sumber Hara Lokal

post-img
BB PUSTAKA: Kepala BB Pustaka, Eko Nugroho DP diwakili Kabag Umum Revo Agri Muis mengatakan bahwa kegiatan diskusi buku diharapkan mengedukasi masyarakat, penyuluh dan petani untuk memanfaatkan potensi sumber hara tanaman yang ada di sekitar. [Foto: Dani]

KOTA BOGOR (Kepopedia) - Demi meningkatkan produksi, pasca lebaran, penyuluh pertanian Kabupaten dan Kota Bogor, Provinsi Jawa Barat menghadiri Diskusi Buku Pertanian bertajuk ´Sumber Hara Tanaman Berbahan Baku Lokal´ di IPB International Convention Center - Botani Square pada Rabu (25/3).

Diskusi yang digelar oleh Pertanian Press pada Balai Besar Perpustakaan dan Literasi Pertanian (BB Pustaka) sejalan arahan Menteri Pertanian RI (Mentan) Andi Amran Sulaiman bahwa pemerintah terus berupaya mengoptimalkan potensi pertanian masyarakat dengan mengedepankan kearifan lokal sebagai kekuatan utama.

“Inovasi di sektor pertanian tidak harus selalu mahal atau berbasis teknologi tinggi, tetapi harus tepat guna, mampu meningkatkan hasil produksi, serta tetap menjaga kelestarian lingkungan. Petani tetap menjadi garda terdepan dalam mewujudkan swasembada pangan,” katanya.

Sementara, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Kementan (BPPSDMP) Idha Widi Arsanti menyoroti pentingnya peran penyuluh mendampingi petani di lapangan. 

Menurutnya, kehadiran penyuluh sangat krusial untuk memastikan petani menerapkan praktik budidaya yang sesuai dengan kondisi lahan dan prinsip keberlanjutan. 

“Pendampingan ini menjadi fondasi dalam memperkuat ketahanan pangan, baik di tingkat daerah maupun nasional,” katanya.

BB Pustaka

Kepala BB Pustaka, Eko Nugroho Dharmo Putro diwakili Kepala Bagian (Kabag) Umum Revo Agri Muis mengatakan bahwa kegiatan diskusi buku, diharapkan dapat mengedukasi masyarakat, penyuluh dan petani untuk memanfaatkan potensi sumber hara tanaman yang ada di sekitar.

“Dengan termanfaatkannya sumber hara lokal, swasembada beras yang telah kita capai dapat diwujudkan secara berkelanjutan sehingga swasembada untuk komoditas lain juga dapat kita capai," katanya.

Sumber hara lokal, ungkap Revo Agri Muis, juga diharapkan dapat meningkatkan produksi.

Diskusi tersebut menghadirkan narasumber, Surono, Peneliti Mikologi Tanah dan Lingkungan dari Pusat Riset Mikrobiologi Terapan - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Sulistyowati, Praktisi Kampung Ramah Lingkungan (KRL) dari Mutiara Bogor Raya, Kota Bogor.

Pada kesempatan tersebut, Surono menjelaskan bahwa tanah dengan bahan organik yang cukup biasanya memiliki kapasitas yang lebih besar untuk menahan air dan menekan penyakit tanaman.

“Tanah subur membutuhkan lebih sedikit pupuk dan memiliki hasil yang lebih tinggi daripada tanah yang kehilangan bahan organik,” jelasnya.

Bahan Organik

Bahan organik tanah merupakan dasar atau foundation untuk tanah produktif serta mendukung tanaman tumbuh sehat, meningkatkan kelimpahan sumber daya mikroba dan organisme tanah lainnya, mendukung ketersediaan air, udara (aerasi), dan nutrisi untuk tanaman sehingga sangat relevan jika para penyuluh ingin meningkatkan produksi pertaniannya.

Sementara Sulistyowati mengungkapkan bahwa sampah di sekitar kita bisa dikelola dan dimanfaatkan menjadi pupuk organik dan berbagai produk ramah lingkungan.

Sisa makanan dapat diolah menjadi pupuk organik seperti pupuk organik cair (POC), kompos cair, bibit tanaman dan media tanam.

Sulistyowati menjelaskan dampak penggunaan unsur hara lokal, lingkungan lebih bersih, ekonomi semakin kreatif serta masyarakat hidup lebih sehat mulai dari rumah dan mengajak seluruh peserta  diskusi menjadi agen perubahan bagi penyelamatan bumi [ibrahim/shinta/timhumas bbpustakakementan]

 

 

 

Artikel Lainnya

Tentang Kami

Kami Menyajikan informasi terkini dan terbaru seputar ekonomi, politik, hiburan , mancanegara, dan gaya hidup