01 Juni 2026
Pertanian

Kementan Cetak Petani Muda, Indonesia jadi Role Model Global pada SSTC 2025

post-img
POLBANGTAN BOGOR: Kapusdik Muhammad Amin mengapresiasi peran lembaga pendidikan vokasi terutama Polbangtan Bogor yang menjadi tuan rumah kegiatan forum internasional SSTC 2025. Sebanyak 12 peserta hadir dari lima negara yakni India, Gambia, Papua Nugini, Kenya, dan Rwanda.

BOGOR - Program Youth Entrepreneurship and Employment Support Services (YESS) dari Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian pada Kementerian Pertanian (Kementan) RI menyatakan kebanggaannya, setelah menjadi lokasi percontohan pada forum internasional South-South and Triangular Cooperation (SSTC) 2025.

Sebanyak 12 peserta delegasi hadir dalam ajang SSTC yang diikuti oleh lima negara yakni India, Gambia, Papua Nugini, Kenya, dan Rwanda. 

Para peserta diharapkan dapat melihat langsung lokasi binaan YESS yang dapat direplikasi di negara masing-masing.

Menteri Pertanian RI (Mentan) Andi Amran Sulaiman meyakini pertanian Indonesia kini bergerak menuju arah yang lebih modern, efisien, dan menarik bagi generasi muda.

“Sekarang generasi muda adalah generasi yang harus kita persiapkan untuk mengawal Indonesia menjadi negara emas. 20 tahun kemudian mereka yang akan memimpin republik ini. Kita harapkan mereka lebih baik dan lebih hebat dari kita,” katanya.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Kementan (BPPSDMP) Idha Widi Arsanti mengatakan, untuk meningkatkan minat generasi muda dalam bidang pertanian perlu adanya pendampingan, baik dalam bentuk mentoring maupun akses permodalan.

"Program ini ditujukan bagi para pemuda untuk mengembangkan perekonomian melalui kewirausahaan dan menambah peluang kerja, khususnya di wilayah pedesaan," katanya.

Kepala Pusat Pendidikan Pertanian BPPSDMP (Pusdiktan) Muhammad Amin dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas terpilihnya Program YESS sebagai studi kasus pada forum internasional, sebagai bentuk penghargaan bagi para petani milenial Indonesia.

“Ini merupakan pengakuan sangat berarti. Bukan hanya bagi institusi kami, juga bagi para pemuda di wilayah pedesaan yang telah merasakan manfaat langsung dari program ini,” katanya.

Program YESS merupakan kerja sama antara Kementan dan International Fund for Agricultural Development (IFAD) yang bertujuan membuka potensi pemuda pedesaan dan menempatkan mereka di garis depan inovasi serta kewirausahaan pertanian.

Selama lima tahun pelaksanaannya, Program YESS telah menjangkau lebih dari 309 ribu pemuda, sebanyak 75.158 telah mengembangkan usaha berbasis pertanian, dan 43.517 pemuda mengalami peningkatan pendapatan.

“Capaian ini menegaskan pentingnya investasi pada pemuda sebagai agen perubahan dalam revitalisasi kawasan pedesaan,” tegas Amin.

Ia juga menyoroti peran lembaga pendidikan vokasi (TVET), terutama Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) pada Polbangtan Bogor yang menjadi tuan rumah kegiatan. 

Dari seluruh alumni TVET yang terlibat program, 11.436 orang berhasil memperoleh pekerjaan di sektor berbasis pertanian, yang melampaui target awal sebanyak 11.000 orang.

Menurut Muhammad Amin, Program YESS menunjukkan bahwa pemuda pedesaan masa kini tidak hanya berperan sebagai petani, juga sebagai wirausaha, inovator, dan pemimpin perubahan yang mengusung pertanian berkelanjutan dan berbasis teknologi.

Dalam kesempatan itu, Amin juga menyampaikan apresiasi pada IFAD Country Office atas dukungan yang terus mengalir selama program berlangsung.

Dia berharap para peserta SSTC dapat menyaksikan secara langsung berbagai pencapaian YESS dan mendengar kisah-kisah inspiratif para penerima manfaat.

“Kami berkomitmen terus belajar dari berbagai pandangan peserta SSTC demi memperluas keberhasilan YESS ke program lain yang fokus pemberdayaan pemuda,” katanya lagi.[wisda/timhumas polbangtanbogor]

 

 

Artikel Lainnya

Tentang Kami

Kami Menyajikan informasi terkini dan terbaru seputar ekonomi, politik, hiburan , mancanegara, dan gaya hidup