02 Juni 2026
Pertanian

Tingkatkan Produktivitas, Kementan Monitoring Program Pompanisasi di Kabupaten Bogor

post-img
POLBANGTAN BOGOR: Sebagian besar lahan ditanami padi Inpari 32 seluas 40 hektar, sementara 5000 meter persegi lainnya ditanami padi varietas Inpari M70. Selain itu, lahan yang tersisa digunakan untuk menanam kacang-kacangan sebagai bagian dari diversifikasi tanaman.

BOGOR - Program pompanisasi dukungan Kementerian Pertanian RI di Desa Kutamekar, Kecamatan Cariu, Kabupaten Bogor menunjukkan hasil menggembirakan. Kelompok Tani [Poktan] Saluyu 1 yang dipimpin Saepudin, berhasil memaksimalkan penggunaan pompa air bagi peningkatan produktivitas pertanian mereka.

Menteri Pertanian RI Andi Amran Sulaiman mengingatkan situasi dunia dalam kondisi tidak menentu. Pasalnya, sekitar 60 negara mengalami krisis pangan, sementara 900 juta penduduk dunia terdampak krisis pangan global tersebut.

 "Jangan sampai krisis pangan ini singgah di republik yang kita cintai ini," katanya.

Sejalan dengan arahan Mentan, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Kementan [BPPSDMP] Idha Widi Arsanti mengungkapkan bahwa petani dan penyuluh adalah aktor utama dalam peningkatan produksi padi nasional 

"Caranya, dengan Perluasan Areal Tanam disingkat PAT sehingga luas panen bertambah serta meningkatkan produksi padim" kata Kabadan SDM yang akrab disapa Santi.

Terkait upaya PAT di Kabupaten Bogor, Polbangtan Bogor melansir bahwa Poktan Saluyu 1 di Desa Kutamekar, Kecamatan Cariu dengan total luas lahan 43 hektar, berhasil menanam padi varietas unggul seluas 40,5 hektar.

Sebagian besar lahan ditanami padi Inpari 32 seluas 40 hektar, sementara 5000 meter persegi lainnya ditanami padi varietas Inpari M70. Selain itu, lahan yang tersisa digunakan untuk menanam kacang-kacangan sebagai bagian dari diversifikasi tanaman.

Direktur Polbangtan Bogor, Yoyon Haryanto mengatakan bahwa Pemerintah khususnya Kementan akan terus melanjutkan program-program yang telah terbukti efektif, serta memperluas cakupan program ke wilayah lain. 

"Keberhasilan Poktan Saluyu 1 ini menunjukkan bahwa dengan dukungan yang tepat, para petani mampu meningkatkan produksi dan meningkatkan taraf hidup mereka," katanya.

Ketua Poktan Saluyu 1, Saepudin mengatakan program pompanisasi yang diterapkan dengan memanfaatkan 15 pompa air, terdiri atas 11 pompa berbahan bakar gas [BBG] dan empat pompa berbahan bakar minyak [BBM]. 

"Setiap pompa dioperasikan dua kali dalam dua hari, dengan kemampuan mengairi hingga enam hektar lahan dalam kurun waktu tersebut," katanya.

Dalam satu hari penuh operasi, ungkap Saepudin, pompa memerlukan dua hingga tiga tabung gas, dengan biaya sekitar Rp75.000 atau 10 liter bensin berbiaya Rp120.000.

"Kami sangat bersyukur atas dukungan pemerintah yang memungkinkan kami mengoptimalkan lahan kami dengan lebih baik. Program ini benar-benar membantu kami meningkatkan hasil panen," katanya.

Yoyon Haryanto menambahkan, keberhasilan tersebut tak lepas dari dukungan pemerintah yang secara konsisten menyediakan fasilitas dan teknologi yang diperlukan oleh para petani. 

"Program pompanisasi merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk meningkatkan produktivitas pertanian dan kesejahteraan petani di berbagai daerah," katanya.

Dia menambahkan, Kementan juga telah memberikan dukungan berupa subsidi dan pelatihan yang membantu para petani dalam mengoperasikan teknologi pompa dengan lebih efisien. [agm/wisda/timhumas polbangtanbogor]

 

 

Artikel Lainnya

Tentang Kami

Kami Menyajikan informasi terkini dan terbaru seputar ekonomi, politik, hiburan , mancanegara, dan gaya hidup