03 Juni 2026
Pertanian

Kementan Kawal Petani CSA Kenali dan Membuat Pupuk Tricho Kompos

post-img
PROGRAM SIMURP: Penyuluh BPP Ayah, Sugeng Haryadi melaporkan petani antusias mengikuti pelatihan ditandai banyak pertanyaan dari keingintahuan petani terhadap pupuk organik, khususnya tricho kompos hingga praktik pembuatannya.

KEBUMEN - Belajar teori diikuti praktik langsung di lapangan dilakukan sejumlah petani dari kelompok tani [Poktan] Sugeng Makaryo di Kabupaten Kebumen, Provinsi Jawa Tengah, belum lama ini, untuk membuat dan memakai pupuk Tricho Kompos. Kegiatan pelatihan diinisiasi oleh Balai Penyuluhan Pertanian [BPP] Kecamatan Ayah.

Pelatihan digelar atas dukungan Kementerian Pertanian RI bersama Program Strategic Irrigation Modernization and Urgent Rehabilitation Project [SIMURP] pada petani di lokasi kegiatan Pertanian Cerdas Iklim/Climate Smart Agriculture [CSA].

Sosialisasi dan praktik pembuatan kompos dari jerami sejalan upaya Menteri Pertanian RI Andi Amran Sulaiman yang meminta petani didampingi penyuluh menggunakan pupuk organik, sebagai solusi keterbatasan pupuk bersubsidi.

"Pupuk organik harus menjadi bagian. Selalu saja petani terbiasa pada pupuk kimia bersubsidi. Bukan langka tapi kurang, oleh karena itu tidak semua harus dengan pupuk anorganik atau kimia," katanya.

Seruan serupa dikemukakan Pelaksana Tugas [Plt] Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Kementan [BPPSDMP] Dedi Nursyamsi agar petani menerapkan pemupukan berimbang.

"Pemberian pupuk sesuai yang diminta tanah dan tanaman, bukan pemberian pupuk sesuai keinginan petani. Pupuk bagi tanaman pangan, perkebunan dan hortikultura itu berbeda. Kita harus tahu dan faham berapa banyak pupuk diminta tanaman dan tanah," katanya.

Penyuluh BPP Ayah, Sugeng Haryadi melaporkan petani antusias mengikuti pelatihan ditandai banyak pertanyaan dari keingintahuan petani terhadap pupuk organik, khususnya tricho kompos.

Diketahui, Tricho Kompos merupakan salah satu pupuk organik kompos yang mengandung cendawan antagonis Trichoderma sp. Semua bahan organik dalam proses pengomposannya ditambahkan Trichoderma.

Trichoderma berfungsi sebagai dekomposer bahan organik dan sekaligus sebagai pengendali OPT penyakit tular tanah seperti Sclerotium sp, Phytium sp, Fusarium sp, Phytoptora sp, dan Rhizoctonia sp.

"Kegiatan pelatihan sebagai upaya untuk melanjutkan kegiatan SIMURP yang berlangsung pada 2022 dan 2023," kata Sugeng Haryadi.

Adapun manfaat dari pupuk Tricho kompos yakni mengandung unsur hara makro dan mikro; memperbaiki struktur tanah; memudahkan pertumbuhan akar tanaman, dan menahan air; meningkatkan aktifitas biologi mikroorganisme tanah yang menguntungkan; dan sebagai pengendalian organisme pengganggu tanaman [OPT] penyakit tular tanah.

Direktur NPIU SIMURP Kementan, Bustanul Arifin Caya mengatakan pupuk organik merupakan jenis pupuk dari sumber-sumber alami seperti kompos, pupuk hijau, pupuk kandang, dan bahan organik lainnya.

"Pupuk organik kaya nutrisi dan mikroorganisme yang berguna bagi tanah dan tanaman," katanya.

Project Manager SIMURP Kementan, Sri Mulyani mengatakan pemanfaatan pupuk organik akan meningkatkan kesuburan tanah dan produktivitas tanaman dan mengurangi risiko kerusakan lingkungan akibat pemakaian pupuk kimia yang berlebihan. [timsimurpkementan]

 

 

Artikel Lainnya

Tentang Kami

Kami Menyajikan informasi terkini dan terbaru seputar ekonomi, politik, hiburan , mancanegara, dan gaya hidup