KEBUMEN - Sosialisasi plus pelatihan berupa teori dan praktik membuat pupuk organik terus dilakukan bagi petani pada lokasi kegiatan Pertanian Cerdas Iklim/Climate Smart Agriculture [CSA] pada sejumlah desa dan kecamatan dari 24 kabupaten di 10 provinsi di antaranya petani CSA di Kecamatan Ayah, Kabupaten Kebumen, Provinsi Jawa Tengah.
Kegiatan pelatihan diinisiasi oleh Balai Penyuluhan Pertanian [BPP] Kecamatan Ayah bagi sejumlah petani dari kelompok tani [Poktan] Sugeng Makaryo di Balai Desa Argopeni, belum lama ini. Materi utama pelatihan adalah teori dan praktik membuat pupuk Tricho Kompos hingga praktik pemakaiannya.
Pelatihan digelar atas dukungan Kementerian Pertanian RI bersama Program Strategic Irrigation Modernization and Urgent Rehabilitation Project [SIMURP].
Penyuluh BPP Ayah, Sugeng Haryadi melaporkan bahwa kegiatan pelatihan sebagai upaya melanjutkan kegiatan Program SIMURP pada 2022 dan 2023.
"Petani mengakui banyak manfaatnya sehingga mereka antusias mengikuti pelatihan membuat pupuk organik tricho kompos," katanya.
Hal itu diakui Jamunudin, petani dari Poktan Sugeng Makaryo yang mengapresiasi kesempatan mengikuti pelatihan.
"Ternyata mudah membuatnya dan bahan bakunya ada di sekitar tempat tinggal jadi mudah didapat," katanya.
Sosialisasi dan praktik pembuatan kompos dari jerami sejalan upaya Menteri Pertanian RI Andi Amran Sulaiman yang meminta petani didampingi penyuluh menggunakan pupuk organik, sebagai solusi keterbatasan pupuk bersubsidi.
"Pupuk organik harus menjadi bagian. Selalu saja petani terbiasa pada pupuk kimia bersubsidi. Bukan langka tapi kurang, oleh karena itu tidak semua harus dengan pupuk anorganik atau kimia," katanya.
Seruan serupa dikemukakan Pelaksana Tugas [Plt] Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Kementan [BPPSDMP] Dedi Nursyamsi agar petani menerapkan pemupukan berimbang.
"Pemberian pupuk sesuai yang diminta tanah dan tanaman, bukan pemberian pupuk sesuai keinginan petani. Pupuk bagi tanaman pangan, perkebunan dan hortikultura itu berbeda. Kita harus tahu dan faham berapa banyak pupuk diminta tanaman dan tanah," katanya.
"Penerapan pemupukan berimbang, katanya, berarti kita sudah melakukan mitigasi terhadap perubahan iklim. Pupuk anorganik atau kimia memerlukan energi listrik dan fosil, itulah sumber emisi gas rumah kaca," kata Dedi Nursyamsi.
Direktur NPIU SIMURP, Bustanul Arifin Caya mengatakan pupuk organik merupakan jenis pupuk dari sumber-sumber alami seperti kompos, pupuk hijau, pupuk kandang, dan bahan organik lainnya.
"Pupuk organik kaya nutrisi dan mikroorganisme yang berguna bagi tanah dan tanaman," katanya.
Project Manager SIMURP, Sri Mulyani mengatakan pemanfaatan pupuk organik akan meningkatkan kesuburan tanah dan produktivitas tanaman dan mengurangi risiko kerusakan lingkungan akibat pemakaian pupuk kimia yang berlebihan. [timsimurpkementan]