03 Juni 2026
Pertanian

Terapkan CSA, Produksi Padi Poktan Sipakainga I Pinrang Tembus 12 Ton/Ha

post-img
PROGRAM SIMURP: Ketua Poktan Sipakainga I [kiri] didampingi Penyuluh Pusat Kementan, Siti Nurjanah [kanan] usai menerima SIMURP Award dari Project Manager SIMURP Kementan, Sri Mulyani.

JAKARTA - Kelompok tani [Poktan] sebagai pelaksana utama Pertanian Cerdas Iklim/Climate Smart Agriculture [CSA] merupakan pihak yang langsung berhadapan dan menanggung risiko dampak perubahan iklim global. Secara turun temurun para petani telah mempunyai tata nilai dan budaya khusus terhadap tanaman padi.

Kementerian Pertanian RI bersama Program Strategic Irrigation Modernization and Urgent Rehabilitation Project [SIMURP] memberikan dukungan agar petani bersama Poktan agar tahu, mau dan mampu melaksanakan CSA.

Kementan bersama SIMURP mendorong petani pada 24 kabupaten di 10 provinsi menerapkan Tiga Prinsip CSA di tingkat usaha tani. Pertama, CSA menghadapi resiko, yakni teknologi yang digunakan bertujuan menghadapi risiko yang terkait iklim/cuaca seraya meningkatkan ketahanan pangan.

Kedua, CSA memiliki manfaat bagi peningkatan produktivitas serta ketangguhan dan mitigasi. Ketiga, CSA bersifat spesifik konteks ruang dan waktu, artinya teknologi yang digunakan secara sosial dan kultural sesuai untuk lokasi tertentu dan penggunaannya pada waktu tertentu pula.

Ketiga Prinsip CSA dilaksanakan oleh Poktan Sipakainga I di Kabupaten Pinrang, Provinsi Sulawesi Selatan. Hasilnya luar biasa setelah menerapkan CSA, kelompok tani yang berada di Kelurahan Sipatokkong, Kecamatan Watang Sawitto berhasil menembus produksi 12 ton gabah kering panen [GKP] per hektar padahal biasanya maksimal 9 ton GKP/ha.

Komitmen pada CSA didukung kinerja anggota kelompok tani mendorong Kementan dan SIMURP menetapkan Poktan Sipakainga I menerima SIMURP Award kategori Poktan yang diberikan pada akhir Desember 2023.

Kinerja petani CSA Pinrang, Sulsel sejalan arahan Menteri Pertanian RI Andi Amran Sulaiman bahwa Kementan telah menetapkan arah kebijakan pembangunan dengan mengoptimalkan sumber daya alam [SDA] maupun SDM serta memanfaatkan teknologi mutakhir, mekanisasi dan korporasi hulu ke hilir.

"Fokusnya memperkuat produksi komoditas strategis seperti pada dan jagung sesuai instruksi Presiden RI Joko Widodo. Tekan impor. Capai swasembada pangan. Kita pernah meraihnya maka harus kembali dicapai," katanya.

Upaya tersebut, kata Mentan Amran, salah satunya, dengan mematok target produksi beras pada 2024 mencapai 35 juta ton, ketimbang produksi 2023 sebanyak 31 juta ton.

Hal tersebut didukung oleh Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Kementan [BPPSDMP] Dedi Nursyamsi bahwa keberhasilan kebijakan Kementan memerlukan sinergi antara seluruh insan pertanian.

"Untuk itu diperlukan langkah awal dalam upaya peningkatan wawasan dan pemahaan serta penyamaan persepsi dalam upaya mencapai swasembada padi dan jagung,” katanya.

Direktur National Project Implementation Unit [NPIU] SIMURP Bustanul Arifin Caya mengatakan Program SIMURP fokus pada upaya antisipasi dampak perubahan iklim global pada sektor pertanian.

Kegiatan CSA bertujuan meningkatkan produksi dan produktivitas, mengajarkan budidaya pertanian tahan perubahan iklim, antisipasi risiko gagal panen, mengurangi emisi Gas Rumah Kaca [GRK] dan meningkatkan pendapatan petani di khususnya di Daerah Irigasi [DI] Program SIMURP.

Project Manager SIMURP Sri Mulyani menjelaskan Program CSA SIMURP merupakan modernisasi irigasi strategis dan program rehabilitasi mendesak.

"Pengelolaannya pada lintas empat kementerian dan lembaga yaitu Bappenas, Kementan, Kementerian PUPR, dan Kemendagri," katanya.

SIMURP juga bertujuan mengurangi, bahkan meniadakan emisi Gas Rumah Kaca atau penyebab pemanasan global.  Pelaksanaannya, keterlibatan wanita pada Program SIMURP  juga berupaya meningkatkan kapasitas Kelompok Wanita Tani [KWT]. [timsimurpkementan]

 

 

Artikel Lainnya

Tentang Kami

Kami Menyajikan informasi terkini dan terbaru seputar ekonomi, politik, hiburan , mancanegara, dan gaya hidup