JAKARTA - Tiga Prinsip Pertanian Cerdas Iklim/Climate Smart Agriculture [CSA] di tingkat usaha tani. Pertama, menghadapi risiko terkait iklim/cuaca seraya meningkatkan ketahanan pangan. Kedua, bermanfaat meningkatkan produktivitas serta ketangguhan dan mitigasi. Ketiga, bersifat spesifik konteks ruang dan waktu secara sosial dan kultural sesuai lokasi dan penggunaan pada waktu tertentu pula.
Ketiga Prinsip CSA tersebut menjadi acuan Fatimatuzzuhrok, penyuluh pertanian lapangan di Kabupaten Lombok Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Barat [NTB] mendorong petani di wilayah binaan Balai Penyuluhan Pertanian [BPP] Praya untuk
meningkatkan produksi padi ramah lingkungan dan hemat air di lokasi Program Strategic Irrigation Modernization and Urgent Rehabilitation Project [SIMURP].
Setelah mengikuti pelatihan intensif SIMURP, Fatimatuzzuhrok tiada henti mengingatkan petani binaan BPP Praya di Lombok Tengah menerrapkan metode CSA bersifat input rendah, hemat biaya sarana produksi [Saprodi], hemat air, adaptif terhadap perubahan iklim, dapat mengembalikan kesuburan tanah dan menurunkan emisi gas rumah kaca.
Diketahui, NTB merupakan salah satu dari 10 provinsi lokasi kegiatan SIMURP di Kabupaten Lombok Tengah. Wilayah SIMURP di lima kecamatan yakni Darek, Aikmual, Jonggat, Praya Tengah Lajut, Praya Mujur, Penujak dan Danga.
Atas komitmen dan kinerjanya, Fatimatuzzuhrok terpilih sebagai salah satu dari enam Penyuluh Terbaik CSA 2023 yakni Rudi Efendi Hasibuan dari BPP Sei Rejo di Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara; Deky Budiman [BPP Cipunagara] di Subang, Jawa Barat; Hikmah Agustin [BPP Pejagoan] di Kebumen, Jawa Tengah; Bestyan Fikri Dyah
Ghoriza [BPP Ajung] di Jember, Jawa Timur dan Teguh Prabowo [BPP Karang Agung Ilir] di Banyuasin, Sumatera Selatan.
Upaya Program SIMURP sejalan arahan Menteri Pertanian RI Andi Amran Sulaiman bahwa tugas dan fungsi Penyuluh harus ditingkatkan selaku pendamping dan pengawal petani meningkatkan produktivitas pertanian.
"Sektor pertanian sangat strategis sebagai salah satu pilar ketahanan negara. Pertanian membutuhkan SDM yang tangguh dan menguasai budidaya hingga teknologi," katanya.
Program SIMURP berkontribusi pada pembangunan pertanian, menunjang peningkatan produksi pertanian, produktivitas, indeks pertanaman [IP], pendapatan petani dan menurunkan emisi Gas Rumah Kaca [GRK].
Hal senada dikemukakan Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Kementan [BPPSDMP] Dedi Nursyamsi bahwa penyuluh adalah garda terdepan pembangunan pertanian.
“Pembangunan pertanian diawali dari SDM pertanian di antaranya petani, penyuluh dan stakeholder pertanian, sementara penyuluh merupakan agent of change," katanya.
Direktur National Project Implementation Unit [NPIU] SIMURP Bustanul Arifin Caya mengatakan Program SIMURP mendorong penyuluh berwawasan CSA melaksanakan identifikasi sumber daya alam [SDA], sumber daya manusia [SDM] dan kelembagaan petani.
"Diikuti identifikasi potensi dan permasalahan, latihan dan kunjungan, penyuluhan dan layanan konsultasi teknologi budidaya, pendampingan penerapan teknologi sesuai spesifik lokasi yang efektif dan efisien," katanya.
Tak kalah penting, kata Bustanul, membangun jejaring kemitraan, layanan konsultasi bisnis, memfasilitasi permodalan dan asuransi.
Sementara Project Manager SIMURP Kementan, Sri Mulyani mengatakan CSA SIMURP merupakan modernisasi irigasi strategis dan program rehabilitasi mendesak.
"SIMURP terus mendorong dan mengawal penyuluh sebagai inovator, organisator, komunikator dan fasilitator untuk meningkatkan keterampilan, pengetahuan dan sikap pelaku utama dan pelaku usaha pertanian," katanya.[timsimurpkementan]