KEBUMEN - Penerapan inovasi Pertanian Cerdas Iklim/Climate Climate Smart Agriculture [CSA] Kabupaten Kebumen, Provinsi Jawa Tengah mulai seleksi hingga tanam benih di Desa Wotbuwono, Kecamatan Klirong ´berbuah manis´ lantaran hasil panen menembus 10,94 ton/ha gabah kering panen [GKP] atau setara 6,83 ton beras.
Kombinasi Pertanian CSA dan Gerakan Tani Pro Organik [Genta Organik] mendukung upaya menjaga keseimbangan lingkungan dan meningkatkan produktivitas pertanian Poktan Krida Buana Candra di Kebumen didukung Kementerian Pertanian RI bersama Program Strategic Irrigation Modernization and Urgent Rehabilitation Project [SIMURP].
Mengawali masa panen April dan Mei 2024, capaian inovasi CSA Kebumen diketahui dari Hitung Ubinan oleh tim penyuluh Balai Penyuluhan Pertanian [BPP] Klirong pada Demplot Genta Organik di Desa Wotbuwono didampingi kelompok tani [Poktan] Krida Buana Candra, belum lama ini.
Penyuluh CSA Kebumen, Siti Marifah dan Cahyo Sulis melaporkan capaian panen bukan tanpa halangan. Ancaman organisme pengganggu tanaman [OPT] ukuran mikro atau makro yang mengganggu, menghambat, bahkan mematikan tanaman yang dibudidayakan khusunya hama putih palsu.
Ubinan, metode yang digunakan untuk memperkirakan hasil panen tanaman padi atau palawija, melalui pengukuran titik sampel dengan ukuran 2,5 meter x 2,5 meter, dan kemudian hasilnya ditimbang.
Capaian CSA sejalan arahan Menteri Pertanian RI Andi Amran Sulaiman memastikan kebutuhan beras pada Maret, April dan Mei 2024 dalam kondisi aman. Artinya, masyarakat tak perlu khawatir kebutunan beras untuk Ramadan dan Idulfitri lantaran sejumlah lumbung pangan nasional sedang dan segera panen seperti Jawa Tengah.
Kepastian tersebut, katanya, merujuk pada data Badan Pusat Statistik [BPS] terkait panen raya Maret dan April 2024 sehingga kebutuhan beras terjaga hingga April dan Mei, sementara untuk kebutuhan Juni 2024 dihitung dari hasil pertanaman Maret.
"Kalau ada yang bilang beras mahal hari ini, sudah turun, saya pastikan turun. Ramadan dan Idulfitri aman. Lewat dua bulan Idulfitri masih aman. Nah kalau Juni, kita lihat tanam hari ini," kata Mentan Amran.
Terpisah, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Kementan [BPPSDMP] Dedi Nursyamsi mengatakan kegiatan CSA bertujuan meningkatkan produksi dan produktivitas dan mengajarkan budidaya pertanian yang tahan terhadap perubahan iklim.
Kementan meyakini CSA dari Program SIMURP berdampak positif bagi pembangunan pertanian lantaran terbukti signifikan meningkatkan produktivitas produksi tanaman dan juga pendapatan petani.
Pendekatan CSA juga meminimalisir risiko gagal panen, mengurangi emisi Gas Rumah Kaca [GRK], meningkatkan pendapatan petani, khususnya di Daerah Irigasi dan Daerah Rawa Proyek SIMURP.
"Dengan adanya SIMURP maka harus terjadi peningkatan ekonomi, peningkatkan penerapan inovasi dan adopsi teknologi yang efisien efektif, serta produksi telah dijamin oleh pasar," kata Dedi Nursyamsi.
Program SIMURP
Direktur National Project Implementation Unit [NPIU] SIMURP Bustanul Arifin Caya mengatakan Program SIMURP fokus antisipasi perubahan iklim global pada sektor pertanian.
Kegiatan CSA bertujuan meningkatkan produksi dan produktivitas, mengajarkan budidaya pertanian tahan perubahan iklim, antisipasi risiko gagal panen, mengurangi emisi Gas Rumah Kaca [GRK] dan meningkatkan pendapatan petani di khususnya di Daerah Irigasi [DI] Program SIMURP.
Sementera Project Manager SIMURP Sri Mulyani menjelaskan Program CSA SIMURP merupakan modernisasi irigasi strategis dan program rehabilitasi mendesak.
"Pengelolaannya pada lintas empat kementerian dan lembaga yaitu Bappenas, Kementan, Kementerian PUPR, dan Kemendagri," katanya.
Perpaduan inovasi CSA dan Genta Organik mendukung produktivitas lahan Demplot Genta Organik Poktan Krida Buana Candra di Desa Wotbuwono, Kecamatan Klirong menembus produktivitas 10,94 ton per hektar dari hasil kegiatan ubinan padi sawah.
Koordinator BPP Klirong, Ristomoyo Mila Sandi mengapresiasi pengurus dan anggota Poktan Krida Buana Candra serta Poktan pelaksana kegiatan SIMURP Kecamatan Klirong atas keberhasilan pelaksanaan Demplot Genta Organik tersebut.
Dia berharap, Demplot tersebut dapat menjadi contoh di seluruh Kecamatan Klirong maupun Kabupaten Kebumen dan Provinsi Jawa Tengah terhadap budidaya padi sawah organik dan ramah lingkungan.
"Metode hitung ubinan padi sawah tidak hanya memberikan perkiraan hasil panen lebih akurat, juga merupakan langkah menuju pertanian berkelanjutan," kata Ristomoyo.
Menurutnya, dengan fokus pada praktik organik dan ramah lingkungan, pertanian di wilayah tersebut dapat menjadi contoh bagi daerah lain dalam upaya menjaga keseimbangan ekosistem dan memenuhi kebutuhan pangan secara berkelanjutan. [timsimurpkementan]