03 Juni 2026
Pertanian

Musim Tanam I, Petani CSA Kebumen Siap Panen pada Maret & April 2024

post-img
PROGRAM SIMURP: Petani CSA Kebumen didampingi penyuluh CSA pada BPP Puring menerapkan pemanfaatan varietas unggul baru [VUB] rendah emisi GRK, sistem tanam Jajar Legowo 2:1, bahan organik dan pengendalian hama penyakit terpadu.

KEBUMEN - Kendala dan tantangan lapangan mampu diatasi para petani di Kecamatan Puring, Kabupaten Kebumen, Provinsi Jawa Tengah pada Musim Tanam I [MT] setelah menerapkan inovasi Pertanian Cerdas Iklim/Climate Smart Agriculture [CSA] yang bersiap menyongsong panen raya pada Maret dan April 2024.

Perkiraan luas panen petani CSA Kebumen di Desa Tukinggedong, Purwoharjo dan Sitiadi sekitar 2.339 hektar pada lahan sawah dan 1.008 hektar lahan kering, yang memanfatkan irigasi air tanah untuk mengatasi kekurangan air akibat terdampak El Nino.

Penyuluh CSA pada Balai Penyuluhan Pertanian [BPP] Puring, Cahyo Sulis melaporkan, wilayah binaannya merupakan salah satu kecamatan pelaksana Program Strategic Irrigation Modernization and Urgent Rehabilitation Project [SIMURP] di Kabupaten Kebumen untuk 2022 dan 2023.

Sementara kegiatan CSA SIMURP pada 2024 adalah demonstration plotting [Demplot] oleh kelompok tani [Poktan] Krida Mas Tani di Desa Tukinggedong.

Komitmen Program SIMURP mendukung pemerintah daerah meningkatkan produktivitas pertanian sejalan arahan Menteri Pertanian RI Andi Amran Sulaiman untuk memperkuat ketahanan pangan nasional, petani harus tetap berproduksi.

"Pemerintah terus berupaya menjaga stok pangan demi menjamin ketersediaan pangan bagi 270 juta rakyat Indonesia," katanya.

Hal senada dikemukakan Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Kementan [BPPSDMP] Dedi Nursyamsi bahwa pemerintah mendukung aktivitas petani dan penyuluh dalam upaya menjaga ketahanan pangan.

“Pertanian tidak boleh berhenti dalam situasi apapun. Genjot terus produksi pertanian. Penyuluh, petani dan kita semua ayo dukung pembangunan pertanian nasional,” katanya.

Direktur National Project Implementation Unit [NPIU] SIMURP Bustanul Arifin Caya mengatakan Program SIMURP fokus pada upaya antisipasi dampak perubahan iklim global pada sektor pertanian.

Kegiatan CSA bertujuan meningkatkan produksi dan produktivitas, mengajarkan budidaya pertanian tahan perubahan iklim, antisipasi risiko gagal panen, mengurangi emisi Gas Rumah Kaca [GRK] dan meningkatkan pendapatan petani di khususnya di Daerah Irigasi [DI] Program SIMURP.

Project Manager SIMURP Sri Mulyani menjelaskan Program CSA SIMURP merupakan modernisasi irigasi strategis dan program rehabilitasi mendesak.

"Pengelolaannya pada lintas empat kementerian dan lembaga yaitu Bappenas, Kementan, Kementerian PUPR, dan Kemendagri," katanya.

Penyuluh CSA pada BPP Puring, Cahyo Sulis mengatakan  inovasi CSA yang diterapkan, pemanfaatan varietas unggul baru [VUB] rendah emisi GRK, sistem tanam Jajar Legowo 2:1, bahan organik dan pengendalian hama penyakit terpadu. Varietas padi lokasi Demplot Genta Organik adalah Mekongga, salah satu varietas padi rendah emisi GRK.

"Sistem tanam jajar legowo yang diterapkan oleh kelompok tani mempermudah perawatan tanaman saat penyiangan rumput, pemupukan dan penyemprotan sehingga tumbuh lebih baik dan jumlah anakan lebih banyak," katanya.

Cahyo Sulis tidak menampik kendala lapangan, terutama kekeringan di awal musim tanam dan serangan hama. Dampak perubahan musim menyebabkan mundurnya awal musim hujan dan intensitas curah hujan yang rendah.

"Di awal musim tanam, lahan persawahan masih kering, karena air irigasi debitnya masih rendah," ungkapnya lagi. [cahyosulis/timsimurpkementan]

 

 

Artikel Lainnya

Tentang Kami

Kami Menyajikan informasi terkini dan terbaru seputar ekonomi, politik, hiburan , mancanegara, dan gaya hidup