BANJARNEGARA - Hujan yang turun hampir setiap hari memicu serangan hawar daun bakteri [HWD] yakni Xanthomonas oryzae pv. oryzae [Xoo]. Penyakit HWD mengancam tanaman padi di Kecamatan Rakit, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. Patogen tersebut menyerang pada semua fase pertumbuhan hingga menjelang panen.
Kendala dan tantangan lapangan tersebut diantisipasi oleh petani berwawasan Pertanian Cerdas Iklim/Climate Smart Agriculture [CSA] di Banjarnegara, dengan memilih varietas tahan HWD, menerapkan sistem tanam Jajar Legowo dan pengairan berselang.
Upaya tersebut sejalan komitmen Kementerian Pertanian RI bersama Program Strategic Irrigation Modernization and Urgent Rehabilitation Project [SIMURP] mengusung inovasi teknologi CSA guna menunjang hadirnya petani dan penyuluh tanggap iklim.
Herta, penyuluh CSA di Kabupaten Banjarnegara mengatakan usia tanaman berkisar 40 hingga hari sesudah tanam [HST] sementara panen diperkirakan akhir April hingga awal Mei 2024. Penerapan CSA pada 2023 diharapkan meningkatkan produksi dan produktivitas padi 0,21 ton/ha ketimbang 2022.
Komitmen Program SIMURP mendukung pemerintah daerah meningkatkan produktivitas pertanian sejalan arahan Menteri Pertanian RI Andi Amran Sulaiman untuk memperkuat ketahanan pangan nasional bahwa petani harus tetap berproduksi.
"Pemerintah terus berupaya menjaga stok pangan demi menjamin ketersediaan pangan bagi 270 juta rakyat Indonesia," katanya.
Hal senada dikemukakan Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Kementan [BPPSDMP] Dedi Nursyamsi bahwa pemerintah mendukung aktivitas petani dan penyuluh dalam upaya menjaga ketahanan pangan.
“Pertanian tidak boleh berhenti dalam situasi apapun. Genjot terus produksi pertanian. Penyuluh, petani dan kita semua ayo dukung pembangunan pertanian nasional,” katanya.
Direktur National Project Implementation Unit [NPIU] SIMURP Bustanul Arifin Caya mengatakan Program SIMURP di Kementan fokus pada upaya antisipasi dampak perubahan iklim global pada sektor pertanian.
Project Manager SIMURP Sri Mulyani menjelaskan Program CSA SIMURP merupakan modernisasi irigasi strategis dan program rehabilitasi mendesak.
"Pengelolaannya pada lintas empat kementerian dan lembaga yaitu Bappenas, Kementan, Kementerian PUPR, dan Kemendagri," katanya.
Kegiatan CSA bertujuan untuk meningkatkan produksi dan produktivitas, mengajarkan budidaya pertanian yang tahan terhadap perubahan iklim, mengurangi risiko gagal panen, mengurangi emisi Gas Rumah Kaca [GRK] dan meningkatkan pendapatan petani di khususnya di Daerah Irigasi [DI] Program SIMURP. [timsimurpkementan]