04 Juni 2026
Pertanian

Mentan Apresiasi Petani CSA Kalteng Kembangkan Hilirisasi Produk pada KEP & KWT

post-img
PROGRAM SIMURP: Mentan Amran Sulaiman didampingi Gubernur Kalteng, Sugianto Sabran dan Kabadan Dedi Nursyamsi menyambangi stand KEP dan KWT SIMURP sebelum menghadiri kegiatan ´Pembinaan Penyuluh dan Petani Kalteng` di Palangkaraya.

PALANGKARAYA - Upaya petani berwawasan Pertanian Cerdas Iklim/Climate Smart Agriculture [CSA] di Provinsi Kalimantan Tengah mengembangkan Kelembagaan Ekonomi Petani [KEP] dan Kelompok Wanita Tani [KWT] diapresiasi Menteri Pertanian RI Andi Amran Sulaiman, dalam upaya hilirisasi produk dan pemasaran hasil pertanian berorientasi laba.

Apresiasi tersebut dikemukakan Mentan Amran Sulaiman saat menyambangi stand KEP dan KWT yang didukung Program Strategic Irrigation Modernization and Urgent Rehabilitation Project [SIMURP] sebelum menghadiri kegiatan ´Pembinaan Penyuluh dan Petani Kalteng´ yang digelar Kementerian Pertanian RI di Palangkaraya, Senin [11/12] yang dihadiri sejumlah petani dan penyuluh Kalteng.

Didampingi Gubernur Kalteng, Sugianto Sabran dan Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Kementan [BPPSDMP] Dedi Nursyamsi, Mentan Amran bukan sekadar melihat aneka produk olahan pertanian CSA, juga dialog dengan petani dan penyuluh CSA yang membuka stand KWT dan KEP SIMURP.

Project Manager SIMURP Sri Mulyani diwakili Penyuluh Pusat, Susi Deliana bersama tim National Provincial Implementation Unit [NPIU] maupun PPIU Kalteng dan KPIU Katingan menyambut kunjungan Mentan Amran Sulaiman pada stand KEP dan KWT SIMURP.

Petani dan penyuluh CSA dari lokasi kegiatan SIMURP Kalteng di Kabupaten Katingan menyambut gembira kehadiran Mentan Amran Sulaiman yang mengapresiasi dukungan petani CSA bagi peningkatan produktivitas dan hilirisasi produk pertanian Kalteng.

"Lanjutkan dan tingkatkan terus kualitas produk olahan pertanian dari petani CSA. KEP dan KWT SIMURP harus terus berkembang seperti diinstruksikan Presiden RI Joko Widodo agar petani mengembangkan hilirisasi produk," kata Mentan.

Hal serupa diingatkan Kepala BPPSDMP Dedi Nursyamsi bahwa petani harus melakukan transformasi dari on farm menjadi off farm agar dapat meningkatkan nilai tambah hasil produk pertanian.

"Petani jangan lagi berfikir tanam, petik lalu jual. Bukan lagi jamannya, petani bekerja sendiri-sendiri. Harus berjamaah seperti di KEP dan KWT didampingi penyuluh," katanya.

Dedi Nursyamsi menambahkan, untuk membangun dan mengembangkan KEP sebagai cikal bakal korporasi harus didampingi penyuluh dengan melibatkan stakeholder terkait.

"Awali dari kelompok tani untuk membentuk korporasi petani. Sahamnya dari petani. Dukung dengan inovasi dan mekanisasi, agar petani mampu menguasai pertanian dari hulu ke hilir sebagai bisnis, bukan sekadar bertani," katanya.

Di tempat terpisah, Direktur NPIU SIMURP, Bustanul Arifin Caya mengatakan Program SIMURP yang diusung Kementan berupaya mendukung petani mengembangkan KEP hingga menjadi korporasi petani yang berbasis pada komoditas unggulan di wilayah kerja SIMURP.

"KEP merupakan terobosan dalam upaya pemberdayaan petani dalam pengembangan hilirisasi produk yang dikelola oleh petani sendiri secara profesional sebagai entitas bisnis," katanya.

Program SIMURP berupaya mengembangkan KEP mengingat keberadaan kelompok tani [Poktan] maupun Gapoktan, yang belum memiliki kekuatan hukum kerapkali tidak berdaya apabila menghadapi permasalahan yang terkait pengembangan usaha, karena dianggap tidak memiliki kekuatan hukum. [timsimurpkementan]

 

 

Artikel Lainnya

Tentang Kami

Kami Menyajikan informasi terkini dan terbaru seputar ekonomi, politik, hiburan , mancanegara, dan gaya hidup