04 Juni 2026
Pertanian

Teknologi CSA Terapkan Pertanian Hemat Air dan Adaptif Perubahan Iklim

post-img
PROGRAM SIMURP: Fenomena El Nino terkait erat peningkatan konsentrasi kenaikan emisi Gas Rumah Kaca [GRK] yang menyebabkan suhu dipermukaan bumi hangat bahkan semakin panas.

JAKARTA - Pengembangan Pertanian Cerdas Iklim/Climate Smart Agriculture [CSA] yang diusung Kementerian RI bersama Program Strategic Irrigation Modernization and Urgent Rehabilitation Project [SIMURP] difokuskan pada upaya strategis mendorong petani menghemat air dan adaptif terhadap perubahan iklim, utamanya dampak El Nino.

Upaya tersebut sejalan arahan Menteri Pertanian RI Andi Amran Sulaiman mendorong seluruh jajarannya di Kementan untuk meningkatkan produktivitas dan produksi pertanian meskipun terdampak El Nino.

"Semua pihak harus bergerak melakukan kolaborasi, adaptasi dan antisipasi terhadap berbagai tantangan yang ada, termasuk menghadapi cuaca ekstrim El Nino," katanya.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Kementan [BPPSDMP] Dedi Nursyamsi mengatakan El Nino, salah satu fenomena, dampak dari perubahan iklim global. Selain itu, ada La Nina dan serangan Organisme Pengganggu Tanaman [OPT].

Menurutnya, El Nino merupakan fenomena kering dimana curah hujannya itu lebih kering dari biasanya. Sebab, rata-rata curah hujan lebih kering dibandingkan dengan rata-rata selama 25 tahun.

"Namanya kering pasti tergantung dari air, salah satu sumber air dari curah hujan, yang biasanya relatif basah kemudian kering, yang menunjukkan bahwa udara di sekitar kita, kadar uap airnya relatif rendah sehinggga tidak ada peluang uap air melakukan kondensasi, untuk terjadinya hujan," kata Dedi Nursyamsi.

Dia menambahkan El Nino terkait erat peningkatan konsentrasi kenaikan emisi Gas Rumah Kaca [GRK] yang menyebabkan suhu dipermukaan bumi hangat bahkan semakin panas.

"Pertanian perlu air sebagai salah satu faktor produksi utama, saat terjadi El Nino akan menjadi masalah besar. Suplai air terganggu akan berdampak pada produktivitas yang menurun drastis," kata Dedi Nursyamsi.

Kepala Pusluhtan Bustanul Arifin Caya mengatakan bahwa Program SIMURP fokus pada upaya pemerintah mengantisipasi dampak negatif perubahan iklim global melalui CSA, untuk meningkatkan produksi, produktivitas, indeks pertanaman [IP] dan menurunkan emisi GRK.

CSA merupakan salah satu solusi menghadapi dampak El Nino di beberapa negara, termasuk Indonesia, sebagai akibat fenomena global yang  menyebabkan kemarau panjang dan kekeringan. [timsimurpkementan]

 

 

Artikel Lainnya

Tentang Kami

Kami Menyajikan informasi terkini dan terbaru seputar ekonomi, politik, hiburan , mancanegara, dan gaya hidup