04 Juni 2026
Pertanian

Produktivitas Pertanian, Teknologi CSA Sinergi Program Strategis Pemprov Sumsel

post-img
PROGRAM SIMURP: Kepala Dinas PTPH Pemprov Sumsel, HR Bambang Pramono [tengah] didampingi Kabid PPHPP [ke-2 kiri] bersama Tim SIMURP Kementan dan Sumsel yang mengharapkan penerapan teknologi CSA dapat direplikasi pada kabupaten lain di Provinsi Sumsel.

PALEMBANG - Tujuan dan target Pertanian Cerdas Iklim/Climate Smart Agriculture [CSA] yang diusung Kementerian Pertanian RI bersama Program SIMURP sinergi dengan program prioritas Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan [Pemprov Sumsel] mengatasi kebakaran hutan dan lahan [Karhutla], stunting, kemiskinan ekstrim dan inflasi.

Hal itu dikemukakan Kepala Dinas Pertanian, Tanaman Pangan dan Hortikultura [PTPH] Pemprov Sumsel, HR Bambang Pramono pada Pertemuan Koordinasi Komponen A Evaluasi Kegiatan SIMURP tahun 2023 di Hotel Swarna Dipa, Palembang, belum lama ini.

"Program SIMURP dari Kementan bertujuan meningkatkan produksi dan produktivitas pertanian serta kesejahteraan petani dapat berjalan selaras dengan Program Prioritas dari Pj Gubernur Sumsel, Agus Fatoni yakni Karhutla, stunting, kemiskinan ekstrim dan inflasi," katanya didampingi Kabid PPHPP Pemprov Sumsel.

Sebagaimana diketahui, lokasi kegiatan Program Strategic Irrigation Modernization and Urgent Rehabilitation Project [SIMURP] tersebar pada 24 kabupaten di 10 provinsi yang merupakan daerah irigasi maupun daerah rawa di antaranya Kabupaten Lombok Tengah, NTB.

Presiden RI Joko Widodo mengharapkan pengelolaan sistem irigasi pertanian dapat dikelola baik, seperti disaksikan saat panen raya padi, Jumat [13/10] di Desa Karanglayung, Kecamatan Sukra, Kabupaten Subang, yang merupakan lokasi kegiatan SIMURP di Provinsi Jawa Barat.

Presiden Jokowi mengakui pengelolaan sistem irigasi pertanian di Desa Karanglayung, Subang sangat baik sehingga pada musim panen padi saat ini menghasilkan rata-rata per hektarnya 8 hingga 9 ton padi.

"Memang di Indramayu irigasi teknisnya bagus, tadi menanyakan ke petani, satu hektar bisa hasilkan 8 sampai 9 ton. Rata-rata 8,5 ton per hektar," katanya kepada awak media.

Arahan serupa dikemukakan Menteri Pertanian RI Andi Amran Sulaiman tentang meningkatkan produksi pangan strategis bagi terwujudnya ketahanan pangan dan swasembada pangan tanpa tergantung pada pangan impor.

"Kita menekan dulu impor agar bisa swasembada," katanya.

Hal senada dikemukakan Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Kementan [BPPSDMP] Dedi Nursyamsi bahwa ketersediaan pangan dalam jumlah cukup dan harga terjangkau di Indonesia, bahkan di dunia, merupakan isu yang penting.

Menurutnya, strategi ketahanan pangan BPPSDMP Kementan tidak hanya diarahkan untuk mencapai kecukupan pangan, juga lebih diarahkan bagi kemandirian dan kedaulatan pangan serta daya saing produk-produk pangan nasional.

"Upaya tersebut menuntut peningkatan kinerja penyuluhan, pendidikan, dan pelatihan pertanian sebagai fungsi peningkatan kualitas dan kuantitas SDM pertanian melalui pendampingan efektif pada pelaku usaha tani di lapangan," kata Dedi Nursyamsi.

Kepala Dinas Pertanian, Tanaman Pangan dan Hortikultura [PTPH] Pemprov Sumsel, HR Bambang Pramono saat membuka Pertemuan Koordinasi Komponen A Evaluasi Kegiatan SIMURP tahun 2023 di Sumsel mengharapkan Program SIMURP dapat terus berkelanjutan.

"Baik dari progam kerja, pola pengembangan dan manajemen dapat terus berkelanjutan di Sumatera Selatan, sehingga bisa menjadi proyek pilar dari kantor dinas pertanian provinsi hingga kabupaten," kata HR Bambang Pramono yang akrab disapa HRBP.

Dia mengharapkan teknologi CSA dari Program SIMURP dapat diterapkan pada wilayah lain di Sumsel, selain Kabupaten Banyuasin dan Musi Banyuasin yang menjadi wilayah kegiatan Pertanian CSA melalui upaya replikasi. [timsimurpkementan]

 

Artikel Lainnya

Tentang Kami

Kami Menyajikan informasi terkini dan terbaru seputar ekonomi, politik, hiburan , mancanegara, dan gaya hidup