PANGKAJENE KEPULAUAN - Hasil produksi sementara kegiatan Pertanian Cerdas Iklim/Climate Smart Agriculture [CSA] tahun 2023 menunjukkan terjadi peningkatan rata-rata produktivitas pada lokasi Demplot CSA di Provinsi Sulawesi Selatan sebesar 1,24 ton/ha Gabah Kering Panen [GKP] yakni 6,04 ton/ha di lokasi non CSA menjadi 7,28 ton/ha di lokasi CSA.
Peningkatan produktivitas tersebut dikemukakan Kepala Pusat Penyuluhan Pertanian BPPSDMP Kementerian Pertanian RI [Pusluhtan] Bustanul Arifin Caya, Selasa [26/9] pada kunjungan kerja di Balai Penyuluhan Pertanian [BPP] Bungoro, Kabupaten Pangkajene Kepulauan [Pangkep] Sulsel.
Begitu pula rata-rata produktivitas di Kabupaten Pangkep, terjadi peningkatan 1,51 ton/ha GKP yakni 6,23 ton/ha di lokasi non CSA menjadi 7,74 ton/ha di lokasi CSA. Untuk hasil produktivitas sementara di lokasi Scalling Up, terjadi peningkatan sebesar 1,8 ton/ha GKP (5,33 ton/ha di lokasi non CSA menjadi 7,13 ton/ha di lokasi CSA).
Pendekatan CSA diusung Kementerian Pertanian RI bersama Program Strategic Irrigation Modernization and Urgent Rehabilitation Project [SIMURP]. Tujuannya, optimalisasi dan modernisasi layanan sistem irigasi yang efektif, efisien dan berkelanjutan di Indonesia melalui penerapan teknologi CSA.
Pertanian CSA sejalan arahan Menteri Pertanian RI Syahrul Yasin Limpon bahwa pertanian tidak boleh berhenti dalam kondisi apa pun. Bahkan saat Indonesia dilanda pandemi Covid-19, hanya sektor pertanian yang menjadi penopang roda perekonomian dan pemenuhan pangan rakyat.
"Pertanian didukung CSA oleh SIMURP membuatnya makin berdampak positif untuk meningkatkan produktivitas tanaman pangan dan peningkatan pendapatan petani, khususnya di daerah irigasi dan daerah rawa," katanya.
Di tempat terpisah, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Kementan [BPPSDMP] Dedi Nursyamsi menyambut baik Program SIMURP bagi pengelolaan dan pengembangan irigasi partisipatif menuju modernisasi irigasi.
"Program SIMURP merupakan salah satu upaya peningkatan layanan irigasi melalui pengenalan dan pelaksanaan kesepakatan layanan irigasi atau Irrigation Service Agreement disingkat ISA guna membangun akuntabilitasi pelayanan irigasi yang efektif, efisien dan berkelanjutan," kata Dedi Nursyamsi.
Kapusluh BPPSDMP Kementan, Bustanul Arifin Caya di Pangkep menyambut baik capaian Sulsel maupun Pangkep dalam penerapan CSA SIMURP. Hal itu diperkuat data produktivitas yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik [BPS] melalui perhitungan Kerangka Sample Area [KSA] tahun 2020 – 2022 yang menunjukkan kenaikan.
"Selain peningkatan produktivitas, pada lokasi SIMURP juga terjadi penurunan emisi Gas Rumah Kaca sebesar 37% di lokasi 17 kabupaten SIMURP tahun 2021, bekerjasama dengan BPSI Pati," katanya.
Bustanul menambahkan, pada 2023, BPPSDMP Kementan BPPSDMP melalui kegiatan SIMURP mengalokasikan anggaran Rp79 miliar untuk pelaksanaan CSA di 10 provinsi, 24 kabupaten dan 117 Balai Penyuluhan Pertanian [BPP] dan 1.017 Desa.
Kunjungan Kapusluh Bustanul di BPP Bungoro, Pangkep dihadiri Kepala Dinas TPHP Pemprov Sulsel, H Imran Jausi; Kadistan Pemkab Pangkep, Hj Andi Agustina Wangsa; Project Manager SIMURP, Sri Mulyani dan Tim Pengelola SIMURP; Kabid Penyuluhan Pemprov Sulsel dan Pemkab Pangkep; Kordinator BPP di lima kecamatan lokasi SIMURP dan empat kecamatan luar SIMURP di Pangkep; petani dan Poktan lokasi SIMURP; pengurus KEP dan KWT lokasi SIMURP di lima kecamatan lokasi SIMURP; dan perwakilan Poktan dan Perkumpulan Petani Pengguna Air (P3A) lokasi SIMURP.
Provinsi Sulawesi Selatan mendapatkan alokasi Rp6,4 miliar. Kegiatan yang dilaksanakan meliputi penerapan teknologi CSA melalui 336 Demplot CSA seluas 1 ha tersebar pada empat kabupaten dan 14 lokasi Scaling Up seluas 50 ha/lokasi empat kabupaten serta 14 lokasi Demplot CSA seluas 1 ha/demplot mendukung Genta Organik; penguatan kapasitas SDM di BPP; dan penumbuhkembangan Kelembagaan Ekonomi Petani [KEP] dan Kelompok Wanita Tani [KWT] serta operasional manajemen Satker.
"Proyek SIMURP akan berakhir Juni 2024 namun secara teknis akan berakhir Desember 2023, dengan target terjadi peningkatan produksi, produktivitas dan indeks pertanaman serta peningkatan pendapatan petani dan terjadinya penurunan emisi GRK di lokasi SIMURP," kata Bustanul.
Menurutnya, Proyek SIMURP akan berakhir pada Juni 2024 namun secara teknis akan berakhir Desember 2023, dengan target terjadinya peningkatan produksi, produktivitas dan IP, serta peningkatan pendapatan petani, dan terjadinya penurunan emisi GRK di lokasi SIMURP. [timsimurpkementan]