05 Juni 2026
Pertanian

Wondis, Keajaiban Coklat dari Kulonprogo untuk Kebanggaan Indonesia

post-img
BPPSDMP KEMENTAN: Kepala BPPSDMP Kementan, Dedi Nursyamsi mencicipi produk turunan kakao berupa coklat kental, hasil produksi KWT Wondis di Kabupaten Kulonprogo, DI Yogyakarta yang didorong Kementan untuk mengolah kakao menjadi produk olahan.

KULONPROGO - Dalam kunjungan kerjanya di DI Yogyakarta, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian - Kementerian Pertanian RI [BPPSDMP] beserta rombongan menyempatkan diri mengunjungi Kelompok Wanita Tani [KWT] Pawon Gendis [Wondis] di Kulonprogo, Sabtu (23/9/2023).

KWT Wondis yang berada di Kampung Bawang, Kulonprogo bergerak dalam bidang perkebunan, khususnya pengolahan coklat dan pegagan. Pada kunjungan tersebut, Kepala BPPSDMP Kementan, Dedi Nursyamsi menunjukkan atensinya pada cokelat kental, produksi KWT Wondis.

Menteri Pertanian RI Syahrul Yasin Limpo mengatakan  kelompok tani termasuk KWT, harus bisa mengolah pertanian dari hulu hingga hilir.

"Tujuannya, meningkatkan perekonomian para anggotanya. Kelompok tani harus memiliki brand untuk meningkatkan nilai jual produk pertanian," tuturnya.

Kehadiran Kementan melalui BPPSDMP di KWT Wondis disambut dengan hangat oleh Ketua sekaligus pemilik Wondis, Dwi Martuti.

Kepala BPPSDMP Kementan, Dedi Nursyamsi mengelilingi area produksi yang mengusung konsep Open Kitchen didampingi Ketua KWT Wondis, Tuti.

Dedi Nursyamsi menjelaskan jika orientasi sektor pertanian sudah harus melirik ke bisnis.
Sektor pertanian akan terus tumbuh dan bertahan memenuhi pangan rakyat Indonesia, jika pelaku usahanya berorientasi bisnis

"Pertanian harus menguntungkan. Harus menghasilkan banyak uang,” kata Dedi.

Dia juga mengapresiasi sekaligus bangga. Pasalnya, KWT binaan Polbangtan YoMa ini selaras dengan slogan Kementan yakni pertanian maju, mandiri dan modern.

“Bayangkan kakao yang baru panen, harganya cuma Rp1.000 tapi setelah diberi pendampingan serta diajarkan cara pengolahan di sini [Wondis] harganya bisa sampai Rp50 ribu per kg untuk kualitas kelas satu dan Rp40 ribu kualitas kelas dua," kata Dedi Nursyamsi.

Dalam kunjungannya, Dedi mengajak dan memberikan arahan pada semua kelompok tani, KWT, petani milenial dan P4S agar hasil panen tidak dijual mentah kepada tengkulak melainkan harus diolah dulu menjadi produk turunan.

"Saya tadi sudah coba beberapa produk turunan dari kombinasi coklat dan pegagan. Favorit saya dark chocolate dan cocoa tea. Bayangkan dari kulit coklat yang harusnya dibuang, bisa dimanfaatkan menjadi produk turunan yang enak banget," katanya.

KWT Wondis memiliki produk coklat yang dipasarkan dengan branding Won.dis Chocolate Wonder.

Ketua KWT Wondis, Dwi Martuti mengatakan, selain produk coklat, KWT juga membudidayakan pegagan, jenis tumbuhan lokal yang menjadi bahan baku produk kecantikan untuk skin care.

“Bidang usaha kami adalah coklat dan pegagan. Pegagan adalah tanaman lokal yang menjadi campuran produk coklat, juga sebagai bahan baku produk kecantikan," katanya.

 

Artikel Lainnya

Tentang Kami

Kami Menyajikan informasi terkini dan terbaru seputar ekonomi, politik, hiburan , mancanegara, dan gaya hidup